Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Mei 2023 | 18.55 WIB

Seni yang Murung hingga Interaksi Basa-basi di Medsos

SEDANG SERIUS: Beragam karya dipamerkan pada pameran bertajuk Mengingat 25 Tahun Reformasi di Kedai Kebun Forum, Jogja, Februari lalu. - Image

SEDANG SERIUS: Beragam karya dipamerkan pada pameran bertajuk Mengingat 25 Tahun Reformasi di Kedai Kebun Forum, Jogja, Februari lalu.

Seni Rupa Indonesia 25 Tahun Pascareformasi

Reformasi membuka ruang untuk berekspresi dengan bebas. Termasuk dalam hal seni. Karya-karya di masa pascareformasi menyuarakan banyak hal: dari isu lingkungan hingga personal. Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Fahmi Samastuti dengan kurator Galeri Nasional Indonesia Dr Suwarno Wisetrotomo soal perjalanan seni Indonesia pascareformasi hingga hari ini. 

---

JAWA POS (JP): Seperti apa dampak reformasi pada dunia seni?

Suwarno Wisetrotomo (SW): Reformasi membuka ruang begitu luas, termasuk untuk seniman dan perupa, untuk memiliki ruang menyatakan dan menyuarakan apa pun. Masa pascareformasi ditandai dengan kemungkinan yang begitu luas untuk kritis. Sebelum reformasi, katakanlah Orde Baru, suara kritis itu harus disampaikan ekstrahati-hari. Seperti petak umpet.

JP: Menurut Anda, karya pascareformasi apa yang paling berdampak besar atau paling dikenang?

SW: Karya-karya Taring Padi, event dan karya di ArtJog, serta karya-karya dengan isu lingkungan.

JP: Di kesenian sendiri, hal-hal apa saja yang menjadi ’’muncul’’ pascareformasi? Seperti apa fungsi seni pada masa ini?

SW: Seni menjadi ’’bergerak’’ ke segala penjuru arah mata angin. Apa pun disuarakan. Dari isu yang timpang, remeh-temeh, serius, aspek sehari-hari, bahkan yang bersifat privat. Ada seni yang dimaksudkan untuk kritik atau glorifikasi atas apa pun. Ada juga yang punya fungsi sebagai komoditas. Semuanya mendapat ruang leluasa, semua bisa berekspresi nyaris tanpa tepi.

JP: Dengan keleluasaan itu, apakah seni akhirnya bebas dan benar-benar tak bertepi?

SW: Ketika seseorang ada di ruang publik, mereka ’’masuk’’ dengan kesadaran, dengan batasan. Dalam pandangan saya, ketika ruang publik terbuka dengan leluasa, sensor itu kendur. Setiap orang harus berlatih untuk berdemokrasi, memahami hak orang lain untuk dihargai, dan bertenggang rasa. Sesungguhnya, seseorang –termasuk seniman– punya batasan, yakni keharusan untuk bertenggang rasa dengan orang lain.

JP: Selama 25 tahun setelah reformasi, apakah ada perbedaan para seniman di awal era pascareformasi dengan seniman saat ini?

SW: Tentu ada bedanya. Pascareformasi diisi mereka yang merupakan saksi langsung sejarah. Karya yang dihasilkan menggunakan bahasa yang metaforis, simbolis. Apalagi untuk mereka yang punya trauma politik, sosial, atau budaya.

Sementara itu, generasi baru yang punya tantangan berbeda juga menggunakan pendekatan baru. Mereka tumbuh di dunia yang kompleks, dengan problem intoleransi, kekerasan simbolis, verbal, maupun domestik. Makin sering saya jumpai karya-karya anak muda yang mengolah tema murung, muram, putus asa, dan teralienasi. Perbedaan ini adalah gambaran setiap generasi merespons situasi yang dialaminya.

JP: Hari-hari ini ketika seni bisa dinikmati dengan luas lewat media sosial (medsos) menurut Anda seperti apa?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore