
SEDANG SERIUS: Beragam karya dipamerkan pada pameran bertajuk Mengingat 25 Tahun Reformasi di Kedai Kebun Forum, Jogja, Februari lalu.
Seni Rupa Indonesia 25 Tahun Pascareformasi
Reformasi membuka ruang untuk berekspresi dengan bebas. Termasuk dalam hal seni. Karya-karya di masa pascareformasi menyuarakan banyak hal: dari isu lingkungan hingga personal. Berikut wawancara wartawan Jawa Pos Fahmi Samastuti dengan kurator Galeri Nasional Indonesia Dr Suwarno Wisetrotomo soal perjalanan seni Indonesia pascareformasi hingga hari ini.
---
JAWA POS (JP): Seperti apa dampak reformasi pada dunia seni?
Suwarno Wisetrotomo (SW): Reformasi membuka ruang begitu luas, termasuk untuk seniman dan perupa, untuk memiliki ruang menyatakan dan menyuarakan apa pun. Masa pascareformasi ditandai dengan kemungkinan yang begitu luas untuk kritis. Sebelum reformasi, katakanlah Orde Baru, suara kritis itu harus disampaikan ekstrahati-hari. Seperti petak umpet.
JP: Menurut Anda, karya pascareformasi apa yang paling berdampak besar atau paling dikenang?
SW: Karya-karya Taring Padi, event dan karya di ArtJog, serta karya-karya dengan isu lingkungan.
JP: Di kesenian sendiri, hal-hal apa saja yang menjadi ’’muncul’’ pascareformasi? Seperti apa fungsi seni pada masa ini?
SW: Seni menjadi ’’bergerak’’ ke segala penjuru arah mata angin. Apa pun disuarakan. Dari isu yang timpang, remeh-temeh, serius, aspek sehari-hari, bahkan yang bersifat privat. Ada seni yang dimaksudkan untuk kritik atau glorifikasi atas apa pun. Ada juga yang punya fungsi sebagai komoditas. Semuanya mendapat ruang leluasa, semua bisa berekspresi nyaris tanpa tepi.
JP: Dengan keleluasaan itu, apakah seni akhirnya bebas dan benar-benar tak bertepi?
SW: Ketika seseorang ada di ruang publik, mereka ’’masuk’’ dengan kesadaran, dengan batasan. Dalam pandangan saya, ketika ruang publik terbuka dengan leluasa, sensor itu kendur. Setiap orang harus berlatih untuk berdemokrasi, memahami hak orang lain untuk dihargai, dan bertenggang rasa. Sesungguhnya, seseorang –termasuk seniman– punya batasan, yakni keharusan untuk bertenggang rasa dengan orang lain.
JP: Selama 25 tahun setelah reformasi, apakah ada perbedaan para seniman di awal era pascareformasi dengan seniman saat ini?
SW: Tentu ada bedanya. Pascareformasi diisi mereka yang merupakan saksi langsung sejarah. Karya yang dihasilkan menggunakan bahasa yang metaforis, simbolis. Apalagi untuk mereka yang punya trauma politik, sosial, atau budaya.
Sementara itu, generasi baru yang punya tantangan berbeda juga menggunakan pendekatan baru. Mereka tumbuh di dunia yang kompleks, dengan problem intoleransi, kekerasan simbolis, verbal, maupun domestik. Makin sering saya jumpai karya-karya anak muda yang mengolah tema murung, muram, putus asa, dan teralienasi. Perbedaan ini adalah gambaran setiap generasi merespons situasi yang dialaminya.
JP: Hari-hari ini ketika seni bisa dinikmati dengan luas lewat media sosial (medsos) menurut Anda seperti apa?

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
