
REFLEKSI HISTORI: Karya Nisa R.A. berjudul Playgrounds of Resilience 2 mengangkat tema soal memori masyarakat Aceh pascatsunami pada 2004 lalu.
JawaPos.com – Tujuh perupa menggelar pameran bersama bertajuk SIASAT. Bertempat di Cemeti Institute for Art and Society, pameran itu menyajikan karya yang tidak biasa. Mulai dari reruntuhan bangunan, barang rongsok, hingga dokumentasi instalasi seni rupa.
Para seniman itu adalah Alfiah Rahdini, Arif Furqan, Dian Suci Rahmawati, Mother Bank, Nisa R.A., Octo Cornelius, dan Ruby Sofyan. Ketujuhnya hadir dengan persepsi masingmasing tentang SIASAT. Karya-karya mereka tersaji mulai 28 Desember hingga 27 Januari mendatang.
Pembukaan SIASAT diawali dengan presentasi karya Ruby Sofyan. Karya berjudul Segara tanpa Tepi tersaji di ruang pamer sisi depan. Pengunjung diajak menyusuri lorong labirin yang terbuat dari kain hitam transparan. Titik akhirnya adalah prasasti yang terbuat dari cermin dengan kain pada sisi atasnya.
’’Konsepnya tentang perjalanan hidup saya. Pengalaman saya sebagai pribadi yang memiliki masalah, dan itu manusiawi. Membuat konsep labirin sebagai perjalanan hidup tidak ada yang mudah dalam mencari jati diri,’’ jelas Ruby pekan lalu (28/12).
Dia mengibaratkan labirin layaknya lika-liku perjalanan spiritualitas dalam mencari Tuhan. Ruby lalu bercerita bagaimana dirinya berjalan keluar dari zona aman dan nyamannya. Namun, semakin dia berjalan, justru semakin jauh dari jawaban yang dia cari.
’’Artinya, tidak perlu melihat atau mencari apa pun di luar diri kita sendiri. Cukup melihat ke diri kita menjadi jalan keluar ini. Dalam prasasti ada aksara Sunda Wiwitan yang artinya, setiap manusia pada dasarnya ada sisi mencari kedamaian dalam hidup dan ini ada di center karya, di mana semua bertumpu dalam hati,’’ kata Ruby.
Perupa Nisa R.A. berkata, karyanya yang berjudul Playgrounds of Resilience 2 menghadirkan beragam reruntuhan bangunan dan rongsok. Instalasi itu menceritakan perjalanan hidup Nisa yang lahir dan besar di Aceh.
Secara spesifik, Nisa menghadirkan ingatan masa kanak-kanak setelah tsunami Aceh pada 2004. Juga potongan konflik horizontal yang sempat membuat Aceh berstatus daerah operasi militer (DOM).
MENJAGA WARISAN: Seniman Arif Furqan pada karya Pieces and Paradox menyampaikan pesan tentang hilangnya ingatan kolektif soal keluarga dan rumah.
’’Menceritakan entitas saya sebagai generasi setelah akhir masa konflik di Aceh dan mendefinisikan ulang setelah tragedi tsunami. Mempertanyakan ke diri sendiri apa itu Aceh, apa itu menjadi orang Aceh, menjadi generasi orang Aceh setelah konflik dan tsunami,’’ ujarnya.
Nisa menyulap ruang pamer dengan reruntuhan bangunan pada sisi dinding dan lantainya. Selain itu, berjajar barang rongsok yang berdiri layaknya tiang di setiap sudutnya. Kemudian, pada dinding tertempel kolase foto konflik maupun tragedi tsunami Aceh.
Baca Juga: Tahun yang Baru, Janji Politik Lama
Instalasi tersebut menggambarkan ruang bermain anak-anak pada masa itu. Nisa menuturkan, kala itu anak-anak Aceh belum sepenuhnya paham atas kondisi yang terjadi. Sehingga tanpa sadar dan dengan terpaksa menjadikan reruntuhan sebagai ruang bermainnya.
’’Properti yang saya bawa di karya ini berasal dari barang rongsok, lalu memori saya, kolekting dari masa kecil saya. Mempertanyakan playground sebagai pengungsi di Aceh dan saya mengingat kembali memori itu lewat benda-benda yang saya kumpulkan, rongsokan ini,’’ papar Nisa.
BERDAMAI: Perupa Ruby Sofyan pada Segara tanpa Tepi mengejawantahkan proses pencarian diri lewat karya seni.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
