
Melati Suryodarmo dalam Ale Lino yang dia ciptakan pada 2003. (Dok./melatisuryodarmo.com)
JawaPos.com – Melati Suryodarmo membuka Musim Seni Salihara dengan lecture performance berjudul Mencari Jarum dalam Setumpuk Jerami. Pertunjukan ceramah ini dikemas dalam bentuk video autobiografis proses Melati menekuni performance art setelah melewati masa kecil yang sangat dekat dengan seni tradisi Jawa di Solo.
“Manusia dilahirkan tanpa memilih untuk menjadi siapa dan apa. Demikian pula saya,” terang Melati pada pembuka Mencari Jarum dalam Setumpuk Jerami di Studio Plesungan. Suasana kampung Kemlayan dan bekas rumah tinggal keluarga Melati di permukiman seniman di tengah kota Solo lantas menjadi adegan berikutnya. Kehidupan di kampung yang sejak zaman kerajaan menjadi hunian para seniman kraton Kasunanan Surakarta tersebut punya pengaruh besar terhadap jejak kesenian Melati. Di sana dia tumbuh dalam keseharian yang dekat dengan macapat hingga tari.
Saat keluarganya pindah ke Sasana Mulya yang saat itu menjadi Pusat Kesenian Jawa Tengah di bawah pimpinan Sedijono ‘Gendon’ Humardani, Melati makin intim dengan seni. Salah satu ingatan masa kecilnya di sana adalah menyaksikan proses Sardono W. Kusumo menyiapkan Dongeng dari Dirah (1974) yang dikerjakan tepat di depan tempat tinggalnya. Pada masa-masa itu Melati menjadi murid dari empu tari tradisi gaya Surakarta, S. Ngaliman Condropangrawit.
Besar bersama seni tidak serta merta menjadikan Melati menekuninya di jalur akademis. Dia memilih jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran. Namun, selama di Bandung dia tetap aktif dengan beragam aktivitas seni. Setelah lulus dari Unpad, dia nekat mendaftarkan diri di Hochschule fur Bidene Kunste Braunschweg (Jerman). Di sana Melati mempelajari seni modern dalam bimbingan para seniman terdepan dunia seperti Anzu Furukawa hingga Marina Abramovic.
Kehidupan dunia akademis di Jerman lantas mempengaruhi pilihan bentuk artistik dan estetika kesenian Melati. Seni rupa pertunjukan kemudian menjadi medan kesenian Melati yang geluti. Seperti lazimnya sebuah pertunjukan ceramah yang mementingkan presentasi pemikiran dari pelakunya, Mencari Jarum dalam Setumpuk Jerami juga sarat dengan konsep-konsep pemikiran Melati pada proses berkaryanya. Mulai dari mana dia berkenalan dengan teori berikut praktik seni rupa pertunjukan hingga bagaimana tawaran pemikiran di balik tiap karya beserta proses riset sebelum presentasi disajikan kepada penonton.
Tentang apa seni rupa pertunjukan itu sendiri juga Melati jelaskan dengan gamblang. Pada karya ini Melati menegaskan bentuk kesenian tersebut sama sekali bukan arena untuk menguji ketahanan tubuh. Dalam bentuk kesenian ini, tubuh bukan diletakkan sebagai media representasi dari ide atau konsep. Tubuh sepenuhnya hadir sebagai presentasi pemikiran melalui sebuah peristiwa. Sementara, penonton diletakkan bukan hanya sebagai saksi tontonan melainkan secara langsung merasakan bahkan mengalami pemikiran sebuah karya.
Tidak ada dramaturgi yang disusun untuk mengatur tensi emosi permainan layaknya pengadeganan teater di sini. Tak ada pula pola gerak tubuh yang dirangkai detil demi mencapai keindahan tertentu lazimnya tari. Gerak dan gestur tubuh pada bentuk kesenian ini tidak dilihat seperti apa bentuknya, melainkan ditelisik dari mana dia muncul. Kemarahan misalnya. Dia tidak mesti hadir dalam gestur tubuh yang meledak-ledak demi menunjukkan kepada penonton kemarahan sedang terjadi.
Dalam sesi diskusi, Melati menyebut bentuk kesenian ini terus berkembang. “Awalnya memang berangkat dari seni rupa. Tapi kini makin luas beririsan dengan yang lain seperti tari,” katanya. Seperti keniscayaan ilmu pengetahuan yang terus berkembang seiring zaman, demikian pula seni rupa pertunjukan atau seni performans ini.
Mencari Jarum dalam Setumpuk Jerami merupakan karya yang menarik untuk disimak. Potongan-potongan karya Melati dari periode 1990an hingga 2019 yang disajikan dengan penjelasan singkat masing-masing konsepnya menuntun penonton ke dalam keasyikan menyimaknya. Karya ini menawarkan pengetahuan segar sekaligus menunjukkan proses penciptaan sebuah karya seni yang mumpuni tidak pernah benar-benar mudah, serupa sulitnya mencari jarum dalam tumpukan jerami. (tir)

Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Resmi! Link Live Streaming Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Jadwal Clash of Legends Barcelona Legends vs DRX World Legends: Siaran Langsung, Live Streaming dan Daftar Skuad Kedua Tim!
Disiarkan di Televisi? Informasi Lengkap Clash of Legends Jakarta 2026! Patrick Kluivert Siap Comeback di GBK
Jadwal Clash of Legends Jakarta 2026! Duel Epik Barcelona Legends vs DRX World Legends di Gelora Bung Karno
Kick-off Sempat Dimajukan! Ini Jadwal Resmi Persib Bandung vs Arema FC di GBLA
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
Kecewa Berat! Francisco Rivera Ungkap Kondisi Ruang Ganti Persebaya Surabaya Usai Kalah dari Madura United
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
