Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Mei 2024 | 14.22 WIB

Alasan Psikologis Seseorang Sering Bikin Status WhatsApp

Ilustrasi kontak whatsapp (freepik) - Image

Ilustrasi kontak whatsapp (freepik)

JawaPos.com - Aplikasi WhatsApp memiliki beragam fitur yang membuat para penggunanya semakin nyaman berinteraksi satu sama lain.

Salah satu fitur WhatsApp adalah status. Setiap orang bisa dengan bebas membagikan pengalaman, pikiran, dan sebagainya dalam bentuk video, foto, atau tulisan. Nah, menariknya semua yang diunggah di status WhatsApp itu dapat diatur siapa saja yang bisa melihatnya. Pengguna bisa mengatur siapa saja kontak yang dapat melihat status itu.

Sistem status WhatsApp kini bisa kamu atur siapa saja yang berhak melihatnya, dengan mengaktifkan privasi status. Dengan mengaktifkan fitur itu, pengguna WhatsApp bisa mengatur siapa saja yang bisa melihat statusnya yang diunggah. Apakah seluruh kontak, orang-orang tertentu saja di kontak, atau hanya status dapat dilihat oleh seluruh kontak, kecuali orang-orang tertentu.

Namun, hal itu tidak mengubah sifat pengguna yang sering membagikan pengalamannya melalui status WhatsApp. Karena, mereka senang dapat berbagi momen dalam hidupnya, tanpa mengkhawatirkan persepsi orang lain yang melihat status itu.

Pengaruh media sosial terhadap pikiran sadar manusia dengan mengamati aktivitas-aktivitas yang dibagikan orang lain melalui statusnya dapat mengembangkan minat. Contoh, ketika pengguna yang membagikan kegiatannya sedang berbuat kebaikan, berolahraga, atau belajar.

Ketertarikan seseorang dalam membagikan konten-konten kehidupan mereka karena adanya perasaan perlu mengunggah hal-hal di media sosial. Menurut psikolog Wilcox dan Stephen dalam makalah 'Are Close Friends the Enemy? Online Social Networks, Self-Esteem, and Self-Control', situs media sosial dapat meningkatkan harga diri dan pengendalian diri.

Orang-orang yang cenderung menampilkan pandangan dirinya dalam hal positif, dapat menaikkan tingkat percaya diri terhadap teman online. Mereka secara aktif memposting kegiatan kehidupan nyatanya agar orang lain dapat menikmati dan menyaksikan pengalamannya.

Alasan lainnya orang sering membuat status WhatsApp adalah kepribadian mereka yang bisa dibilang narsistik. Yaitu, mencerminkan kebutuhan hidup mereka untuk dikagumi orang lain dan menginginkan pengakuan yang positif pada postingan yang dibagikannya.

Hal ini tidak hanya membuat penggunanya lebih rentan terhadap jumlah suka dan komentar yang diterima, tetapi juga dapat menyebabkan kecanduan psikologis bahkan bisa menurunkan materi putih otak.

Menggunakan media sosial untuk meningkatkan harga diri adalah ide yang buruk, karena hal itu menunjukkan bahwa seseorang harus melihat ke luar dirinya untuk meningkatkan emosi yang bernilai dibandingkan ke dalam dirinya.

Penilaian kognitif dan emosional atas nilai diri sendiri adalah definisi dari harga diri yang keliru berdasarkan jumlah suka dan komentar dengan kepuasan jangka pendek. Mereka gagal memiliki kebebasan untuk berkembang tanpa khawatir akan kegagalan yang tidak seharusnya mengubah nilai fundamentalnya.

Kecanduan dengan menerima pengakuan yang berlebihan dari orang lain secara online, menyebabkan seseorang mengabaikan kebahagiaan yang seharusnya dirasakan. Orang-orang yang mempunyai tujuan lebih cenderung menolak peningkatan harga diri yang datang dari menerima suka dan komentar di media sosial.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore