Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 September 2018 | 23.49 WIB

Sulitnya Cari Bibit-bibit Pemajat Tebing Handal di Tanah Air

JADI TITIK BALIK: Tim speed panjat tebing putra dan putri berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di Asian Games 2018. - Image

JADI TITIK BALIK: Tim speed panjat tebing putra dan putri berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di Asian Games 2018.

JawaPos.com - Panjat tebing menjadi cabang olahraga yang mengesankan pada Asian Games 2018 lalu. Capaian tiga medali emas, dua perak, dan satu perunggu diharapkan menjadi momentum kebangkitan olahraga yang sempat populer pada era 1990-an hingga awal 2000-an.


Diketahui di era 1990-an hingga awal 2000-an panjat tebing pernah begitu populer. Di sekolah-sekolah SMA dan kampus-kampus berdiri wall climbing. Tapi, setelah itu kepopulerannya surut. Tak terlalu banyak yang meminatinya. Capaian tim speed panjat tebing di Asian Games 2018 diharapkan menjadi titik balik.


Aries Susanti Rahayu turut merengkuh medali emas bersama Puji Lestari, Fitriyani, dan Rajiah Salsabilah di nomor speed beregu putri. Satu lainnya dipersembahkan tim putra yang terdiri atas Muhammad Hinayah, Veddriq Leonardo, Rindi Sufriyanto, serta Abu Dzar Yulianto.


Pelatih kepala panjat tebing Indonesia Caly Setiawan berharap moncernya prestasi anak asuhnya tersebut mampu mendongkrak popularitas olahraga itu lagi. Dengan begitu, akan lebih mudah mencari bibit pemanjat tebing.


Selama ini, ungkap Caly, mencari bibit pemanjat muda tidak gampang. Tidak semua bocah atau remaja memiliki hobi berolahraga panjat tebing. "Kalau baru mulai memanjat dari mahasiswa ya sudah telat. Apalagi untuk bersaing di internasional. Sulit," tutur Caly.


Menurut dia, agar prestasi panjat tebing stabil, harus ada bibit-bibit yang sudah berlatih sejak usia dini. Setidaknya di usia 13 atau 14 tahun. Atau sejak usia anak-anak yang duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).


"Dengan momentum emas Asian Games ini, harapannya masyarakat akan antusias untuk memasukkan putra-putrinya ke klub di daerah masing-masing," ujar pria yang juga dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY tersebut.


Caly juga berharap peran pengurus cabang (pengcab) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) di daerah. Tentu tidak sekadar menggelar kejuaraan daerah. Tapi lebih pada pembinaan klub dan mendorong panjat tebing menjadi ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah-sekolah. Terutama SMP.


Harapan Caly itu setidaknya mulai terlihat. Tecermin dari apa yang kini dialami Puji Lestari. Terutama di lingkungan tempat tinggalnya di Marunda, Tanjung Priok, Jakarta Utara. "Tiba-tiba banyak orang yang datang ke rumah tanya-tanya gimana caranya gabung ke klub panjat tebing. Nggak nyangka aja rasanya. Luar biasa pengaruhnya," ungkapnya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore