
Sejumlah atlet mengikuti upacara pelepasan Kontingen DKI Jakarta dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024 Aceh-Sumatera Utara (Sumut) di Velodrome, Jakarta, Senin (19/08/2024). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com – Pengamat Olahraga Fahmy Fachrezzy mengkritisi persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara (Sumut) 2024. Mulai dari masalah pembinaan atlet, sarana prasarana, hingga cabang olahraga yang dinilai terlalu banyak.
Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan UNJ itu menyampaikan, pembinaan atlet yang bersifat kesinambungan diperlukan sebelum pelaksanaan PON.
“PON harus bersifat berkesinambungan, sehingga pelatih dan pengurus perlu menyusun program yang terus-menerus dari Popnas, Pomnas, PON, hingga Asian Games di masa depan. Ini akan membuat pembinaan atlet lebih terstruktur dan sistematis,” ujar Fahmy kepada wartawan, Minggu (25/8).
Terkait sarana dan prasarana yang disediakan oleh panitia, termasuk soal venue yang harus sudah klir sebelum PON Aceh-Sumut dimulai pada 8 hingga 20 September juga menurutnya perlu diperhatikan.
“Karena sejauh ini panitia belum siap, keteteran dalam mempersiapkan venue. Makanya harus ada evaluasi mendalam terhadap persiapan panitia dan venue,” lanjut Fahmy.
“Saran saya, panitia harus lebih ekstra dalam mempersiapkan venue di Aceh-Sumut. Karena ini berdampak besar pada kualitas pertandingan dan penyelenggaraan,” jelas Fahmy.
Pelatih Aerobic Gymnastics DKI Jakarta itu juga meminta penyelenggara tak bias pada kepentingan tuan rumah untuk mendapatkan medali. “Saatnya bagi Indonesia untuk memberantas oknum yang melakukan hal seperti ini,” ucapnya.
Terakhir, Fahmy juga mengkritik jumlah cabang olahraga yang ditetapkan KONI di PON Aceh-Sumut, yang menurut dia terlalu banyak. Dia beranggapan bahwa seharusnya yang diikutkan dalam KONI hanya cabang-cabang yang juga ada di Asian Games dan Olimpiade.
“Hal ini agar sejalan dengan program pembinaan atlet untuk cabang-cabang olahraga Olimpiade ke depan,” tuturnya.
Dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah cabang olahraga di PON cenderung meningkat. Dari PON Riau dengan 43 cabang, Jabar dengan 44 cabang, lalu PON Papua dengan 37 cabang, berkurang cukup banyakk.
Lalu tahun ini melonjak menjadi 65 cabang. “Menurut saya, ini terlalu banyak jika dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti Malaysia yang hanya memiliki 32–38 cabang dalam Asian Games,” pungkas Fahmy.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
