Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Agustus 2017 | 01.31 WIB

Azizulhasni Awang, Juara Dunia Balap Sepeda Pertama dari Asia Tenggara

BUKTI NYATA: Pembalap Malaysia Azizulhasni Awang saat ditemui di Kuala Lumpur. - Image

BUKTI NYATA: Pembalap Malaysia Azizulhasni Awang saat ditemui di Kuala Lumpur.

Asia Tenggara punya juara dunia di cabang olahraga yang didominasi atlet-atlet Eropa atau Amerika. Dari balap sepeda, pembalap Malaysia Azizulhasni Awang memberikan kejutan pada Kejuaraan Dunia UCI 2017 April lalu. Dia membuktikan postur tubuh khas Asia Tenggara tak bisa dipandang sebelah mata.


Iied Rahmad, Kuala Lumpur


POSTUR tubuhnya rata-rata pria dewasa Asia Tenggara. Dengan tinggi 168 cm, dia malah terlihat mungil di antara para pesaingnya, nomor keirin Kejuaraan Dunia UCI 2017. Namun, Azizulhasni Awang tampil meroket hingga mampu meraih emas.


Julukan The Pocket Rocketman pun kian pantas disandang atlet 29 tahun itu. Kecil, tapi gesit. Julukan yang berawal dari World Cup 2008 di Melbourne (UCI Track Cycling World Cup Classic).


”Saya masuk final nomor keirin. Tidak ada yang tahu saya. Di lap terakhir, saya datang dari belakang, menyalip juara dunia dan juara olimpiade untuk menang. Announcer saat itu asing dengan nama saya menyebut saya ”The Pocket Rocketman” . Sejak itu semua orang memanggil saya The Pocket Rocketman,” cerita Azizul.


Prestasi Azizul di nomor keirin cukup stabil sejak 2008–2009. Sejak UCI Track Cycling World Championships 2009 di Pruszkow, Polandia, dia sudah mengemas lima medali, yakni 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.


Puncaknya tentu saja ada di Hongkong tahun ini. Pada Olimpiade Rio 2016, pria kelahiran Dungun, Terengganu, itu meraih perunggu. ”Masalahnya bukan pada fisik. Saya sudah buktikan. Yang penting, kita punya kemauan, disiplin, dan latihan yang konsisten,” ucapnya.


Kini Azizul punya target besar selanjutnya. Dia ingin mempersembahkan medali emas untuk Malaysia di Olimpiade Tokyo 2020. Namun, sebelum tampil di Tokyo tiga tahun lagi, Azizul merencanakan tampil di beberapa ajang mayor. Termasuk Asian Games 2018 di Indonesia.


Dia mengaku tak sabar kembali datang di Indonesia. Sebelumnya, dia beberapa kali datang di Indonesia untuk kejuaraan maupun berlibur. ”Dua kali saya pergi ke Bali. Bagus,” ucapnya.


Azizul juga mengikuti perkembangan pembangunan velodrome baru di Jakarta yang bakal digunakan sebagai venue balap sepeda nomor trek, termasuk keirin di Asian Games 2018. Atlet lulusan sekolah olahraga di Bukit Jalil, Kuala Lumpur, itu bahkan menyatakan sempat berkomunikasi dengan Ketua Umum PP ISSI Raja Sapta Oktohari mengenai pembangunan velodrome tersebut saat keduanya tengah berada di Rio de Janeiro. ”Saya juga sudah melihatnya di internet. Tampak cantik,” jelas suami Athiah Ilyana itu.


Sebelum mengakhiri perbincangan, Azizul memotong pembicaraan. Dia menyebut mewakili masyarakat Malaysia untuk meminta maaf kepada Indonesia terkait kejadian terbaliknya bendera Merah Putih di buku panduan SEA Games yang sempat membuat heboh media sosial pada malam opening ceremony.


”Kesalahan itu seharusnya tidak boleh terjadi. Indonesia dan Malaysia bagai kakak beradik. Semoga kejadian tersebut tidak merusak persaudaraan,” ucapnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore