
Ngatinem menunjukkan foto Ayu yang menjadi korban KM Sinar bangun.
JawaPos.com - Ngatinem terus menangis ketika berkisah soal anak 'bontotnya', Ayu Lestari 19, salah satu korban KM Sinar Bangun yang karam di Danau Toba, Senin (18/6) lalu. Saat ditemui di RSUD Tuan Rondahaim, Kabupaten Simalungun, wanita paruh baya itu hanya mampu terduduk lemas dengan pandangan kosong.
JawaPos.com coba mengajak Ngatinem berbincang. Dia menceritakan, anaknya itu dikenal baik selama di rumah. Bahkan, Ayu adalah anak yang cukup membanggakan. "Dia itu anak kedua dari dua bersaudara. Baru saja tamat sekolah di SMK Kesehatan. Anak saya itu pingin kuliah," katanya, Kamis (21/6).
Namun, niatnya untuk berkuliah harus diurungkan karena keterbatasan biaya. Hal itu mengharuskan Ayu melamar pekerjaan di daerah Kabupaten Batubara. Di sana dia tinggal di rumah orang tua pacarnya, Ivan Syahputra, 20 yang ikut menjadi korban kapal nahas itu.
Ngatinem menyatakan, terakhir kali bertemu dengan Ayu saat lebaran pertama. Waktu itu, memang dia sudah punya firasat. Namun Ngatinem mengabaikannya.
Ayu bertingkah cukup aneh. Dia meminta disuapi saat makan. Bahkan, Ayu pun minta badannya dikerok karena merasa kurang sehat. "Ayu pun minta dibuati jamu saat mau berangkat. Begitu mau pergi diciuminya saya," kata Ngatinem dengan mata berkaca-kaca.
Dari kediamannya di Dolok Merawan, Kabupaten Serdang Bedagai, Ayu Pamit untuk berkemah. Namun, dia tidak bilang ke Danau Toba. Ayu pamit untuk pergi ke Simarjarunjung bersama Ivan, pacarnya.
Kini sudah hari keempat Ngatinem berada di Tigaras dan Pematang Raya, Simalungun. Namun jenazah anaknya belum ditemukan oleh Tim SAR.
Dirinya mengaku, datang bersama Suwarni, ibu dari Ivan. Suwarni pun begitu terpukul karena harus kehilangan putranya. Sebelum kapal karam, Ivan semoat menelpon dan memberitahu kalau dirinya sedang berada di kapal.
Namun begitu, pukul 18.00 WIB, Ivan tidak bisa dihubungi lagi. Kabar soal tenggelamnya kapal pertama kali diterima Suwarni lewat laman facebook. "Saya langsung berangkat begitu dengar kabar. Sampai di Tigaras malam hari," katanya.
Selama menunggu di Tigaras, Suwarni kecewa. Dia melihat Tim SAR seperti tidak serius dalam melakukan evakuasi.
"Saya kurang puas pelayanan di sana. Tim SAR itu yang turun memang banyak, tapi yang turun kebawah itu hanya dua orang, itu pun gak mampu. Mereka bergantian, karena airnya dingin kali katanya. Pejabat pada datang semua, tapi kurang semua. Sudah empat hari saya disini tapi gak dapat kabar apa-apa. Saya kecewa dengan Tim SAR," kata warga Sei Semujur, Kabupaten Batubara itu.
Belum tahu sampai kapan kedua ibu malang itu harus menunggu jasad anak mereka. Mereka berharap, jasad anak mereka cepat ditemukan sehingga bisa langsung dimakamkan.
"Kalaupun dia gak selamat, jasadnya pun jadi," pungkas Ngatinem.
Untuk diketahui, hingga sekarang Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian korban KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba. Data teranyar menyebut, 21 korban yang sudah berhasil ditemukan hingga hari ke-4 pencarian. Tiga diantaranya meninggal dunia.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
