Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 Juni 2018 | 23.05 WIB

Begini Menyedihkannya Kamp Pengungsi Terbesar Dunia

Kamp pengungsi Rohingya di rawa-rawa rawan banjir dan longsor - Image

Kamp pengungsi Rohingya di rawa-rawa rawan banjir dan longsor

JawaPos.com - Di Bangladesh terdapat kamp pengungsi terbesar di dunia yang dikenal sebagai perangkap kematian bagi pengungsi Rohingya yang tinggal di sana. Seperti dilansir Daily Mirror pada Selasa (19/6), foto-foto terbaru beredar saat musim hujan menambah keprihatinan bagi mereka yang melihat kondisi pengungsi Rohingya di Bangladesh.


Saat hujan menghantam atap tipis seadanya, jalan tanah liat kamp pengungsi terbesar di dunia itu berubah menjadi rawa-rawa. Kota sementara ini dirakit bersama dalam waktu kurang dari setahun dengan batang bambu, potongan terpal, dan benang. Tempat tinggal yang bisa roboh setiap saat.


Kamp yang mengenaskan ini menampung sekitar 700 ribu pengungsi. Puluhan orang tewas dalam beberapa hari terakhir, termasuk seorang bocah dua tahun yang meninggal karena tertindih tembok lumpur yang runtuh.


Relawan dari Islandia, Hildur Sveinsdottir mengatakan, kecelakaan bisa terjadi setiap hari. "Patah tulang merupakan hal yang sangat biasa bagi kami," katanya.


Misalnya, Mohammad Ayas yang berusia sembilan bulan. Anak laki-laki kecil yang tak berdaya itu mematahkan tulang pahanya ketika dia jatuh dari salah satu lereng berbahaya di antara tenda pengungsi.


Sebagian besar penyakit juga menular lewat air. Para ahli mengatakan lebih dari 200 ribu orang berada pada risiko tinggi mengalami bencana tanah longsor dan banjir di bulan-bulan musim hujan mendatang.


Lebih dari 1.000 tempat penampungan telah dihancurkan ketika sungai-sungai berair cokelat melintas melalui gang-gang sempit di kamp. Satu jam dari kota Cox's Bazar, di pantai tenggara Bangladesh.


Dibantu oleh relawan, pengungsi Rohingya menggali parit-parit drainase dan memperkuat tempat perlindungan mereka. Tidak pernah ada momen tenang bagi para dokter Palang Merah yang berdedikasi membantu mereka.


Hildur mengatakan, para pengungsi memiliki masalah pernapasan, kekurangan gizi, dehidrasi, dan infeksi yang berubah menjadi abses karena air yang digunakan untuk membersihkan luka malah air kotor. "Sudah ada campak dan TBC. Mereka ingin mandi dan mereka ingin menjaga diri, tetapi kebersihannya di sini sangat buruk."


Di bangsal anak ada 15 tempat tidur untuk bayi prematur yang sangat kecil. Banyak bayi yang lahir prematur.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore