
Ilustrasi kendaraan dalam kondisi prima dibutuhkan untuk menempuh jarak jauh saat mudik
JawaPos.com - Selain butuh kesiapan fisik saat hendak mudik atau kembali ke Jakarta, kendaraan juga butuh asupan bensin yang cukup untuk bisa membawa penumpangnya selamat sampai tujuan.
Namun, mengisi bensin tidak saja cukup. Pasalnya pengendara juga harus jeli supaya mesin kendaraan bisa tetap bagus setelah digunakan untuk menempuh perjalanan yang panjang.
Salah satu caranya adalah dengan tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM) beroktan rendah. Gandhi Nugroho yang merupakan mantan Ketua Umum Komunitas Otomotif Honda Odyssey Community Indonesia (HOCI) menuturkan ruang bakar lebih kotor dan akselerasi lebih lambat jika menggunakan BBM dengan kadar oktan rendah.
Hal ini bertolak belakang dengan BBM oktan 92. Bahkan, penggunaan BBM RON tinggi tersebut, ternyata juga lebih irit. "Mesin bisa rusak kalau dipaksa pakai Premium yang beroktan rendah karena memang bukan peruntukannya," terangnya di Jakarta, Rabu (20/6).
Doel, panggilan akrab Gandhi Nugroho menambahkan, seluruh anggota komunitas pengguna Odyssey yang berjumlah sekitar 500 orang, sudah paham mengenai dampak buruk Premium.
Apalagi sejak pertama membeli, tentu industri otomotif sudah merekomendasikan BBM yang sesuai dengan spesifikasi mesin. Makanya, imbuh dia, seluruh anggota HOCI mempergunakan BBM dengan RON minimal 92.
Menurut Doel, BBM beroktan rendah memang berdampak sangat buruk terhadap ruang bakar dan mesin. Awalnya kinerja kendaraan akan rendah, seperti tidak adanya tenaga pada medan tanjakan serta tarikan yang berat.
Semua itu terjadi karena pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan jelaga pada ruang bakar. Jika dibiarkan, tentu saja akan berakibat pada usia mesin dan membuat kerusakan.
Karena itulah, ketika indsutri otomotif merekomendasikan penggunaan BBM RON minimal 92 bagi kendaraannya, seluruh pemilik akan mematuhinya.
“Jadi sebenarnya BBM RON tinggi itu lebih irit dibandingkan Premium. Termasuk jika dilihat dari efisiensi penggunaan BBM dan juga risiko biaya perawatan mesin. Lebih safe-lah,” ujar Doel.
Dalam jangka panjang, penggunaan bbm berkualitas rendah ini juga dinilai dapat menyebabkan mesin rusak. Pasalnya, hal itu bisa menyebabkan injektor tersumbat, sehingga BBM yang disuplai tidak bisa banyak.
Akibatnya, mesin tidak akan kuat ketika menanjak. Selain itu, karena pembakaran tidak sempurna, maka akan mengakibatkan banyak kerak di dalam ruang bakar.
Kerak itulah yang meningkatkan kompresi sehingga mesin mengelitik. Jika dibiarkan, ujar Doel, makin lama tentu bisa merusak mesin. Piston bisa bolong atau stang piston menjadi bengkok.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
