
Tingginya ongkos politik masih mewarnai pemilu 2019.
JawaPos.com - Mahalnya ongkos politik masih terjadi hingga saat ini. Ketua DPD Golkar Kotawaringin Timur (Kotim) Supriadi mengatakan, masing-masing calon anggota legislatif (caleg) harus menyiapkan dana minimal Rp 500 juta untuk menghadapi Pemilu Legislatif 2019.
"Saya blak-blakan saja. Caleg Partai Golkar minimal harus sediakan cost politik sekitar Rp 500 juta," kata Supriadi dikutip dari Radar Sampit (Jawa Pos Grup), Senin (18/6).
Menurut Supriadi, ongkos politik yang tinggi tersebut tidak bisa dihindari. Apalagi caleg tersebut ditempatkan di daerah pemilihan dengan tingkat persaingan yang ketat.
Dana menjadi indikator penentu. Fulus sebesar itu digunakan untuk logistik sosialisasi hingga biaya tim pemenangan caleg.
Supriadi menuturkan, biaya sebesar itu tidak hanya terjadi dalam pemilu 2019. Dalam pelaksanaan Pileg 2014 juga sudah tinggi.
Bahkan, beredar informasi yang menyebutkan, caleg di daerah perkotaan setidaknya menghabiskan dana hingga miliaran rupiah untuk meraih kursi di DPRD Kotim. "Kalau biaya seperti itu sudah lumrah bagi kalangan politikus. Justru kalau tanpa biaya politik itu terbilang tabu," tegasnya.
Tingginya biaya politik itu berkaitan erat dengan target yang dipasang partai berlambang pohon beringin itu. Supriadi mengungkapkan, Golkar menargetkan perolehan sekitar 12 kursi.
Artinya, seluruh kader Golkar harus menambah enam kursi baru lagi dari perolehan saat ini sebanyak enam kursi. Menurutnya, tingginya target itu bukan hal yang mustahil dicapai.
Apalagi jika melihat komposisi caleg yang akan dijagokan Golkar. Selain itu, mekanisme perhitungan kuota kursi dalam aturan pemilu yang baru, dinilai menguntungkan Golkar.
Pihaknya perlu menambah daya gedor untuk meraih 12 kursi di DPRD Kotim. "Saya nggak mau caleg saya dianggap biasa. Orang yang dicalonkan Golkar adalah orang-orang yang luar biasa," ujarnya.
Supriadi menambahkan, caleg yang diajukan nantinya didominasi kader Golkar. Mereka berasal dari semua golongan.
"Semua yang dicalonkan kader Golkar. Kami tidak membuka pendaftaran untuk caleg, karena kader kami yang potensial melimpah," tegasnya.
Mengenai tingginya biaya politik, pengamat anggaran politik dari Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menegaskan, biaya politik untuk menjadi caleg memang mahal.
"Untuk DPR itu, bisa antara Rp 4 miliar – Rp 10 miliar, untuk DPRD provinsi bisa antara Rp 2 miliar – Rp 5 miliar. Biaya itu untuk alat peraga kampanye, seperti baliho, spanduk, dan lainnya. Itu cost politic kalau mau menang," kata Uchok, beberapa waktu lalu.
Menurut Uchok, biasanya untuk caleg yang berasal dari kader partai, biaya itu akan dikeluarkan untuk mendanai saksi di TPS, dengan estimasi satu TPS Rp100.000. Sementara itu, Uchok mengungkapkan, untuk caleg yang bukan dari kader partai justru biaya politiknya akan lebih mahal.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
