Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Juni 2018 | 04.05 WIB

Ada Dua Dugaan Penyebab Kematian Atlet Paralayang di Batu

Kawasan Gunung Banyak, Kota Batu, dengan keindahan alamnya. (Istimewa) - Image

Kawasan Gunung Banyak, Kota Batu, dengan keindahan alamnya. (Istimewa)

JawaPos.com - Dua faktor diduga menjadi penyebab tewasnya seorang atlet paralayang junior, Cherly Aurelia, 18, saat berlatih di Gunung Banyak, Kota Batu, Selasa (12/6) pagi. Kedua faktor itu yakni, human error (kesalahan manusia) atau mechanical error (kesalahan teknis).


Ketua Paralayang Jatim, Arif Eko Wahyudi mengatakan, pihaknya telah menganalisis penyebab jatuhnya Cherly dari ketinggian 100 meter itu melalui analisis informasi yang diperoleh dari beberapa sumber. Mulai dari video, pengamatan mata para saksi, dan foto-foto.


Dari analisis tersebut, pihaknya melihat jika posisi strap yang ada pada dada dan kaki korban tidak terpasang. "Kemungkinan besar stall karena strap tidak terpasang sempurna," ujarnya saat melakukan konferensi pers di Rumah Sakit Bhayangkara Hasta Brata, Kota Batu, Selasa (12/6).


Dia menerangkan, pihaknya belum mengetahui apakah strap tersebut terlepas pada saat take off atau saat penerbangan. Karena, strap yang tidak terpasang sempurna itulah mengakibatkan tubuh korban melorot dan membuat togel (handle tali kemudi) tertarik.


"Sementara ini, anggap stallnya karena strap tidak terpasang," urainya. Stall kemungkinan terjadi di ketinggian 100 meter.


Pada standart penerbangan paralayang sendiri, ada tiga strap yang harus terpasang. Yakni di kaki kanan, kaki kiri dan dada. "Kalau tidak terpasang, terjadi resiko. Strap kaki tidak terpasang akan melorot. Kalau dada, masih bisa ditahan," jelasnya.


Namun, lanjut dia, pihaknya masih belum bisa mengambil kesimpulan penyebab jatuhnya atlet yang sudah berlisensi tersebut. Pasalnya, masih harus membutuhkan investigasi mendalam.


"Masih akan lakukan evaluasi terkait prosedur dan upaya sehingga tidak akan terulang (kejadian seperti ini)," kata dia.


Arif mengatakan, kasus jatuhnya paraglider ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. "Sebelumnya faktor cuaca, hari ini cuaca bagus," lanjut dia.


Oleh karena itu, pihaknya masih akan melakukan pendalaman lebih lanjut untuk mengetahui penyebab tewasnya gadis asal Jatigedong, Ploso, Kabupaten Jombang itu.


Arif menyampaikan, Cherly sebelumnya sudah berada di Kota Batu sejak Sabtu (9/6) lalu. Dia bersama satu temannya, Mia Ainisyah, 19, memang sengaja melakukan latihan paralayang di Kota Batu. "Rencana ini hari terakhir, penjemput (sudah) ada disini. Setelah penerbangan akan pulang ke Jombang. Karena itu penerbangan dilakukan di pagi hari, melihat cuaca yang ideal," terangnya.


Sebagai informasi, Cherly telah memiliki lisensi dengan rating PL-1 dan diperbolehkan terbang secara mandiri. Artinya, dirinya telah mempunyai pengalaman terbang sebanyak 40 kali atau sekitar 3,5 jam. Cherly sendiri baru saja vakum terbang sejak enam bulan lalu. Kegiatannya di Batu ini sebagai latihan untuk kembali terbang.


Sementara itu, Ketua Pembinaan Bidang Potensi Dirgantara, S Zuhri menerangkan, olahraga dirgantara khususnya paralayang didesain untuk aman. "Kalau ada kejadian kayak gini. Pasti ada sistem fail atau terkendala," jelasnya.


Menurutnya, ada lima faktor yang menyebabkan peristiwa semacam ini terjadi. Antara lain manusia, media, materiil, personil, dan manajemen. "Perlu sarana bagus, cek, re-cek, dan final cek," ujarnya.


Pihaknya pun akan melakukan investigasi kegiatan lebih mendalam agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore