
Ekspedisi di Samudera Hindia yang tengah dilakukab BMKG punya arti penting. Setelah riset nanti diharapkan terjadi peningkatan akurasi dalam hal prediksi cuaca
JawaPos.com - Komitmen Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), untuk terus berinovasi patut diacungi jempol. Mereka tengah melakukan proyek ambisius dengan menggandeng NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administrations.
Yakni ekspedisi kelautan bertajuk Indonesia Prima (Program Initiative on Maritime Observation and Analysis). Ekspedisi digelar mulai kemarin (24/5) hingga 14 Juni mendatang.
Deputi Bidang Meteorologi, Prabowo Rahadi Mulyono menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk partisipasi Indonesia dalam GOOS. Dan ini merupakan tahun keempat
"Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk partisipasi BMKG yang mewakili Indonesia dalam Global Ocean Observing System (GOOS)," ungkap Prabowo melalui siarang tertulisnya di Jakarta, kemarin.
Lewat Indonesia Prima, dia optimis terjadi peningkatan dalam hal akurasi prediksi cuaca.
“Karena memang tujuannya meningkatkan observasi cuaca kelautan di Samudera Hindia. Ketersediaan data di Samudera Hindia sangat penting untuk prediksi iklim secara global," lanjutnya.
Dijelaskan Prabowo, iklim di Samudera Hindia dapat mempengaruhi pola cuaca dan iklim dalam skala regional maupun global.
Oleh karena itu, eskpedisi akan melalui 5 titik, dimulai dari Pelabuhan Cirebon, perairan Barat Sumatera hingga Teluk Benggala dan mengakhiri perlayaran di Pelabuhan Sibolga Sumatera Utara.
"Output dari ekspedisi adalah data pengamatan RAMA Buoy (Research Moored Array for African-Asian-Australian Monsoon Analysis and Prediction) yang real-time dan meningkatkan akurasi predisksi cuaca," ujar Prabowo.
Prabowo menerangkan peserta ekspedisi tahun ini melibatkan banyak elemen. Total ada 12 peserta. Rinciannya dari unsur BMKG, Taruna dan Dosen Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG), Universitas Sriwijaya, NOAA dan didukung Puslitbang Geologi Kelautan, Balitbang Kementerian ESDM dengan menggunakan Kapal Riset Geomarin III.
"Mereka akan melakukan pengamatan data meteorologi maritim, atmosfer, oceanografi, pengamatan marine-geofisika, dan pengamatan cuaca setiap jam selama rute pelayaran," tambah Prabowo.
Prabowo berharap data hasil ekspedisi tersebut segera teringtasi dengan Maritime Integrated Data System (MIDAS).
“Saya harap data-data pengataman Bouy-RAMA segera untuk diinterintegrasikan dengan portal MIDAS," kata dia.
MIDAS adalah sebuah portal untuk seluruh kegiatan yang terkait dengan kelautan secara real time.
Jika sudah terintegrasi dengan data yang terbaru, maka akan sangat bermanfaat bagi dalam pemahaman terhadap cuaca dan iklim serta pemahaman terhadap sektor kemaritiman negara Indonesia di massa depan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
