
Sekretaris KAHMI Kota Medan Chairul Munadi, saat menggelar konferensi pers di Sekretariat Ikatan Wartawan Online (IWO) Kota Medan, Kamis (24/5) petang.
JawaPos.com - Kasus dugaan ujaran kebencian yang mendera dosen USU berinisial DHL menuai polemik. Tim kuasa hukum dari Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Medan menyebut Polisi masih belum jelas dalam penetapan tersangka.
Tim hukum menilai, kasus itu terlalu dipaksakan. Mereka menduga, ada penggiringan opini dengan mengatakan, postingan DHL yang dijadikan delik dalam kasus itu dikaitkan dengan tragedi bom Surabaya.
"Polda belum memberikan jawaban soal isu bom yang muncul itu. Kepolisian diduga imajiner dalam memberikan keterangan pers soal bom itu yang ditulis dan disebarkan. Akibatnya banyak media massa yang mengkaitkan HDL menulis soal bom di Surabaya. Padahal HDL tidak ada menulis soal bom. Tidak ada bukti soal itu," kata Sekretaris KAHMI Kota Medan Chairul Munadi, saat menggelar konferensi pers di Sekretariat Ikatan Wartawan Online (IWO) Kota Medan, Kamis (24/5) petang.
Terkait proses hukum kasus tersebut, pihak Kepolisian hanya memeriksa dua saksi untuk menetapkan HDL sebagai tersangka. Saksi yang diperiksa juga anak HDL dan Polisi yang melaporkan kasus itu.
Dia menerangkan, HDL ditahan sejak Sabtu (19/5). Lalu, polisi segera melakukan gelar perkara. Dan pada hari Minggu(20/5), HDL dipaparkan sebagai tersangka kasus ujaran kebencian saat konferensi pers.
"Saksi yang diperiksa hanya dua orang dan itu juga dari kepolisian dan anak kandung HDL. Belum ada saksi ahli bahasa yang diperiksa," ungkapnya.
Kini, tim hukum tengah melakukan penangguhan penahanan terhadap HDL. Mengingat, kondisi HDL yang masih menurun pascakonferensi pers di Polda Sumut. "Kondisinya sempat drop dan dua kali pingsan. HDL juga tulang punggung keluarga dan dosen pengajar di universitas. Dia juga kooperatif dalam proses hukum," jelasnya.
Tim Kuasa Hukum juga menegaskan, kalau kliennya sama sekali tidak ada menuliskan soal tiga peristiwa ledakan bom di Kota Surabaya di akun miliknya. Terkait hal itu, tim juga sudah menanyakan kepada Polda Sumut.
Beberapa perwakilan tim juga sudah melihat kondisi kesehatan DHL selama penyidikan. Mereka menegaskan kalau kondisi DHL tidak sehat.
"Jadi, saat kami datangi HDL di Polda, kondisinya sangat lemah. Kita lihat kondisinya tertekan, dimana dia sering menangis, pusing dan HDL juga mempunyai riwayat penyakit vertigo," ungkapnya.
DHL pun akhirnya dibantarkan ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Medan. Tim kuasa hukum menyayangkan kenapa DHL ikut dipaparkan saat Polda Sumut menggelar konferensi pers.
"HDL dirawat di rumah sakit sejak hari Selasa. Saat dijenguk, HDL terus menanyakan keadaan ibunya. HDL ini single parent yang merawat tiga anak dan ibunya. Banyak dukungan dari dosen dan mahasiswa serta masyarakat umum," pungkasnya.
Untuk diketahui, HDL ditangkap oleh petugas Subdit Cybercrime Polda Sumut di kediamnnya di Jalan Melinjo II, Sabtu (19/5). Dia mengunggah status yang dikaitkan dengan tragedi bom Surabaya.
"Skenario pengalihan yg sempurna #2019gantipresiden," tulis Himma dalam sebuah gambar yang diposting di laman facebook diduga miliknya pada 12 Mei 2018.
Setelah postingannya menjadi viral, HDL yang juga bergelar Magister itu menutup akun media sosialnya. Sayangnya postingan itu sudah di capture netizen dan disebar di dunia maya.
Dari keterangan polisi, motifnya menulis postingan itu karena terbawa emosi. Ditambah, tagar 2019 ganti presiden yang sedang marak di media sosial.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
