Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 Mei 2018 | 11.06 WIB

Eks Pelaku Teror Ungkap Kesamaan ISIS dan Kelompok Radikal Indonesia

Khairul Ghazali, Eks mentor jihadis yang memilih untuk deradikalisasi melalui Pondok Pesantren Al Hidayah - Image

Khairul Ghazali, Eks mentor jihadis yang memilih untuk deradikalisasi melalui Pondok Pesantren Al Hidayah

JawaPos.com - Serangan teror yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, ternyata punya kemiripan pola dengan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Terutama, peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya dan Polrestabes Surabaya yang melibatkan anak-anak sebagai korban orang tuanya.

Menurut eks Mentor Jihadis Ustaz Khairul Ghazali yang mendirikan Pesantren Al Hidayah, dilibatkannya anak-anak dalam rangkaian aksi teror adalah pola yang sudah lama dilakukan di luar negeri. Pola pikir yang salah itu menjadi rujukan para pelaku bom bunuh diri karena dianggap bagian dari jihad.

Menurut dia, para kombatan memang mendoktrin anak-anaknya untuk melakukan Jihad. Jaminan masuk surga selalu menjadi rayuan paling ampuh untuk membujuk orang agar mau melakukan teror. Termasuk, anak-anaknya.

"Mereka (anak-anak) sudah tercemar doktrin dari orangtuanya. Doktrin yang mempengaruhi anak-anak, iming-iming surga," ujar pria yang pernah beraksi dalam perampokan bersenjata CIMB Niaga 18 Agustus 2010 itu, Rabu (23/5).

Menurut dia, doktrin masuk surga dengan melakukan teror itu benar-benar salah. Sebab, bertolak belakang dengan ajaran Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin.

"Di sini (Pesantren Al Hidayah, red) kita ajarkan bahwa itu salah. Untuk mencapai surga itu bukan dengan jalan pintas seperti itu. Itu utopia," kata Chairul.

Selain melibatkan anak-anak, pelaku teror juga kerap nekat beraksi dengan senjata apa adanya. Misalnya, dengan pisau dan senjata sederhana lainnya. ’’Seperti pola lain, penggorokan, penusukan. Ini pola yang dibuat ISIS dan diekspor ke Indonesia," ujarnya.

Dia juga menjelaskan bagaimana terorisme bisa marak di Indonesia. Pemahaman radikal tentang jihad, masih marak di Indonesia. Ideologi radikal ini kemudian diadopsi oleh sel-sel kecil yang sudah ada sejak lama. Termasuk, kelompok Jemaah Ansharut Daulah (JAD), ISIS dan kelompok kecil pecahan dari Negara Islam Indonesia (NII).

"Infrastrukrur keradikalan itu sudah dibangun oleh ormas-ormas radikal. Nah, kelompok yang kecil-kecil ini, megutip itu," tukasnya.

Menurutnya, hanya pendidikan deradikalisasi yang bisa mencegah paham itu berkembang. Seperti yang dilakukannya dengan membangun Pesantren Al Hidayah (Dulu Darus Syifa) di Dusun IV Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang.

"Kami mendidik anak-anak dengan kurikulum pesantren dan kurikulum nasional," katanya.

Dia juga berharap, RUU Terorisme yang sedang digodok pemerintah segera rampung. Karena dengan RUU itu akan memberikan jalan mulus untuk pemerintah dalam memberangus paham radikal.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore