Ilustrasi pernikahan (freepik)
JawaPos.com - Di tengah masyarakat Jawa, masih banyak beredar kepercayaan tentang pantangan pernikahan berdasarkan urutan kelahiran.
Salah satu yang paling sering memicu keraguan adalah anggapan bahwa anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ketiga.
Bahkan sebelum lamaran resmi dilakukan, orang tua kerap berbisik pelan, “Coba dicek dulu, kamu anak ke berapa?”
Konon katanya, pasangan ini dianggap "ora apik," "rawan sengkolo," rumah tangga panas, rezeki seret, dan hidup penuh ujian.
Namun, benarkah larangan ini merupakan takdir yang tak bisa dihindari? Atau sebenarnya hanya warisan nasihat leluhur yang kerap disalahpahami?
Ini tidak bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak kalian untuk melihatnya secara pelan, jernih, dan logis, baik dari sudut pandang primbon Jawa maupun akal sehat modern.
Dilansir dari kanal YouTube Kejawen, dalam budaya Jawa, urutan anak bukan sekadar angka kelahiran. Setiap posisi dipercaya membawa peran hidup dan tanggung jawab tertentu.
Pada masa lalu, keluarga dipandang sebagai sebuah sistem, bukan hanya ikatan darah, melainkan struktur tanggung jawab sosial. Menurut primbon, anak pertama disebut sebagai pambuka jalan keluarga.
Sejak kecil, ia sering dibentuk untuk mengalah, menjadi teladan, dan memikul tanggung jawab. Tak heran jika karakternya cenderung tegas, dominan, berjiwa pemimpin, dan terbiasa mengambil keputusan.
Sementara itu, anak ketiga kerap disebut sebagai anak sandingan atau penyeimbang. Ia tidak dibebani tanggung jawab utama seperti anak pertama, sehingga tumbuh lebih bebas.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
