
Ilustrasi malam satu suro. (Freepik)
JawaPos.Com - Pada penanggalan Jawa malam satu suro jatuh pada besok Kamis, 26 Juni 2025. Dalam kepercayaan Jawa kuno, malam ini bukan sekadar pergantian kalender atau hitungan hari, melainkan titik genting yang diyakini menjadi jalur terbukanya dimensi gaib. Namun bagi mereka yang terlahir dengan weton tulang wangi, ini adalah malam dimana energi langit dan bumi bisa bertabrakan, menimbulkan gelombang nasib yang bisa berubah drastis ke arah baik, atau sebaliknya.
Karena itulah, ada sejumlah aktivitas yang sangat dilarang untuk dilakukan pada malam 1 Suro bagi pemilik weton tulang wangi. Bukan tanpa alasan, pantangan ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk perlindungan diri dari gangguan energi negatif, kesialan berkepanjangan, bahkan musibah yang sulit dijelaskan secara logika. Mengabaikan larangan ini dipercaya bisa membawa dampak buruk bagi kehidupan pribadi maupun keluarga.
Weton tulang wangi adalah weton yang dianggap memiliki daya spiritual dan aura yang berbeda. Orang-orang dengan weton ini dipercaya membawa keberuntungan dan pesona alami yang bisa mempengaruhi orang di sekitarnya. Namun, di balik keistimewaannya, mereka juga lebih “terbuka” secara energi mudah terkena pengaruh hal-hal tak terlihat, terutama saat malam-malam keramat seperti 1 Suro.
Dilansir dari laman Kanal YouTube MBO Entertainment, malam satu suro memiliki kekuatan tersendiri sehingga, beberapa weton disarankan untuk menghindari beberapa aktivitas saat malam satu suro besok. Artikel ini akan membahas secara lengkap dan mendalam empat aktivitas yang sebaiknya tidak dilakukan pada malam 1 Suro menurut kepercayaan Jawa, khusus untuk kamu yang memiliki weton tulang wangi.
1. Menikah
Menurut keyakinan yang berkembang, malam satu Suro adalah waktu untuk menyepi, introspeksi diri, serta mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan untuk bersuka cita. Malam tersebut dianggap sakral, penuh energi mistis, dan bukan waktu yang baik untuk menggelar acara yang bersifat hura-hura seperti pernikahan.
Hal ini juga diungkapkan dalam buku Panduan Syahadat karya Taufiqurrohman, yang menjelaskan bahwa mengadakan pesta pernikahan pada malam satu Suro dapat membawa dampak buruk atau nasib sial dalam kehidupan rumah tangga di masa mendatang. Tak hanya pengantin, tetapi juga keluarga, tamu undangan, hingga panitia acara bisa terkena imbas dari energi negatif yang diyakini kuat pada malam itu.
Maka tak heran jika hingga kini masih banyak pasangan yang memilih menunda atau mempercepat tanggal pernikahan demi menghindari malam satu Suro. Kepercayaan ini menjadi salah satu wujud bagaimana budaya dan spiritualitas masih sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.
2. Keluar Rumah
Malam Satu Suro telah lama dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh muatan spiritual dalam budaya masyarakat Jawa. Di malam ini, banyak orang memilih untuk tetap berada di rumah dan menghindari bepergian jauh, terutama ke tempat-tempat yang sepi atau rawan. Larangan ini bukan sekadar tradisi turun-temurun tanpa alasan, melainkan berdasarkan kepercayaan bahwa malam tersebut dipenuhi oleh energi-energi gaib yang kuat dan tidak stabil.
Banyak kalangan mempercayai bahwa malam Satu Suro adalah waktu di mana dunia nyata dan dunia gaib saling beririsan, sehingga kemungkinan terjadi hal-hal mistis atau musibah lebih besar dari biasanya. Oleh sebab itu, banyak orang tua zaman dahulu menganjurkan anak-anak dan keluarganya untuk tetap berada di rumah, menghindari keramaian yang tidak penting, serta memperbanyak doa dan laku spiritual agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun ada wilayah seperti Soloraya, alam Satu Suro justru menjadi momen penting dalam kalender budaya dan spiritual. Di kawasan ini, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan berbagai ritual dan pertunjukan budaya yang sakral, seperti arak-arakan pusaka dan kirab malam satu suro yang digelar oleh pihak keraton.
3. Berbicara Hal Negatif
Dalam kepercayaan Jawa, khususnya bagi mereka yang lahir dengan weton tulang wangi, berbicara mengenai hal-hal negatif dianggap dapat membawa energi buruk ke dalam kehidupan mereka. Ucapan yang berisi keluhan, makian, atau bahkan candaan yang berbau negatif bisa menjadi pemicu datangnya hal-hal yang tidak diinginkan.
Bagi pemilik weton tulang wangi, menjaga ucapan bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari laku batin yang perlu dihormati. Menahan diri untuk tidak berkata buruk di bulan ini juga merupakan bentuk latihan spiritual yang penting. Dalam ajaran Jawa, bulan Suro adalah waktu yang tepat untuk bertapa batin, melakukan perenungan, dan membersihkan diri dari hal-hal buruk yang mungkin telah menempel selama setahun terakhir.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
