
MIRIP: Durian tawing yang ditunjukkan Warno memiliki keunggulan lain. Bijinya sangat kecil. Bahkan, ada buah yang tidak berbiji. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)
Berusia lebih dari tiga abad, nama durian tawing begitu legendaris. Demi mendapatkannya, para penggemar rela melekan alias bermalam.
---
USIANYA sangat tua, lebih dari 350 tahun. Sudah lima generasi yang merawatnya. Namun, dua pohon kembar di Dusun Tawing, Desa Plumpung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, itu tetap berdiri kukuh.
Jarak antar pohon cuma 5 meter. Tingginya menjulang hampir setara lima rumah dengan diameter batang mencapai 120 sentimeter. Daun-daunnya rimbun dan memayung. Dua-duanya istiqamah menghasilkan buah yang sangat tersohor kenikmatannya. Warga setempat biasa menyebutnya duren kembar.
Dua pohon itulah yang menghasilkan durian legendaris asal Magetan, durian tawing. Jenis tersebut juga diakui secara nasional. Kementerian Pertanian (Kementan) sudah menetapkannya sebagai varietas unggulan.
Saat ini dua pohon itu dikelola pasangan kakak adik, Warno dan Suti. Masing-masing mengelola satu pohon. “Kalau dari cerita dari orang tua dan kakek, saat babat alas (membuka lahan, Red) desa, pohon kembar ini sudah ada. Sekarang saya adalah generasi kelima,” cerita Warno, salah seorang pemilik pohon.
Durian tawing memang memiliki banyak keistimewaan jika dibandingkan dengan jenis lain. Terutama soal rasa buah yang maknyus. Yang juga unik, dua pohon kembar itu memiliki perbedaan rasa yang sama-sama diakui kualitasnya.
Buah dari pohon yang dirawat Warno memiliki bentuk yang cenderung bulat lonjong. Kulitnya berwarna hijau kecokelatan. Beratnya berkisar 1–5 kilogram.
Rasa daging buahnya istimewa. Pada gigitan pertama, nuansa creamy buah bak pecah di mulut. Pahitnya muncul di awal dan bikin lidah kebas. Disusul rasa manis yang memanjakan lidah. Selain itu, penikmat durian itu bakal menemui sensasi alkohol yang menguap. Semriwing melintas di hidung.
https://m.youtube.com/watch?v=VQ2GUEVK6Pg
Beda dengan durian pada umumnya yang cepat hilang rasa pahitnya, durian tawing milik Warno memberikan after taste yang panjang. Begitu juga manisnya yang masih terasa dan hangat di tenggorokan.
Bagi yang tidak kuat dengan durian tersebut, penikmat durian bisa mencoba durian tawing dari pohon yang dimiliki Suti. Rasanya lebih lembut. Manisnya dominan. Namun, pada kunyahan akhir, rasa pahit tipis yang menyeruak muncul.
Durian tawing juga menawarkan kelebihan lain. Ponggenya sangat kecil. Bahkan, ada juga buah yang tidak berbiji.
Karena pohonnya tinggal dua, produksi durian tawing tidak banyak. Rata-rata 500 buah tiap pohon tiap panen. Karena itu, para penggemarnya sampai rela bermalam hanya demi menunggu buah jatuhan.
Ya, karena pohonnya yang tinggi, pemilik pohon tidak mengikat buah atau memanennya dengan metode lain. Pemilik cukup menunggu suara buk. Penanda durian jatuh. ”Biasanya subuh,” ujar Suti.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
