alexametrics
Warisan Peranakan

Wingko Babat Loe Lan Ing Lamongan, Bertahan karena Tungku Batu

24 Januari 2020, 16:16:28 WIB

Banyak makanan khas Indonesia buatan masyarakat peranakan Tionghoa. Makanan itu kini sangat ikonik. Di antaranya, wingko babat, Lamongan; yopia, Lasem; dan bakpia patuk, Jogjakarta.

Wingko sangat populer. Mendapatkannya pun sangat mudah. Tak harus datang ke Semarang atau Babat, Lamongan. Tapi, kalau ingin mencoba rasa wingko yang benar-benar asli sejak pertama dibuat, cobalah Wingko Babat Loe Lan Ing (LLI). Itu adalah brand yang meneruskan pembuat wingko pertama.

Wingko adalah salah satu makanan yang dibikin warga asli Tionghoa dan berkembang luas sampai sekarang. Wingko mulai dibuat pada 1898 di Babat. Kini, tempat produksinya masih ada. Di sana juga berdiri toko yang menjual khusus produknya. Lokasinya berada di Jalan Raya Babat–Bojonegoro Nomor 189. Tepat berada di pinggir jalan raya. Jika belum juga ketemu, tinggal bertanya kepada warga setempat. Tempat tersebut mudah ditemukan karena sangat populer dan legendaris.

Wingko Babat LLI masih mempertahankan proses pembuatan yang tradisional. Makanan berbahan dasar kelapa itu dimasak di dalam tungku yang terbuat dari batu. Selanjutnya dioven dengan bara api dari kayu bakar. Sekitar 15 menit, bagian dalam dan luar wingko matang. ”Terus bertahan sejak 1898,” ujar Olivia Gondokusumo, ahli waris Wingko Babat LLI.

Olivia menjelaskan, awal mula wingko dibuat Loe Soe Siang. Dia merantau dari Tiongkok dan menetap di Babat, Lamongan. Makanan itu dijual di beberapa pasar. Hasilnya dipakai untuk menafkahi kedua anak. Pertama, Loe Lan Ing dan kedua, Loe Lan Hwa. ”Ngasong sendiri,” terangnya.

Setelah itu, anak pertama meneruskan usaha pembuatan wingko. Sebab, banyak orang yang menyukai makanan itu sebagai camilan. Hingga menikah dengan Go Kiaw Ken, Loe Lan Ing meresmikan pabrik wingko babat yang kini dilabel sesuai namanya.

Sekarang, Olivia melanjutkan tradisi leluhur sebagai generasi kelima. Perempuan 31 tahun itu mengatakan, tak ada yang tidak kenal wingko babat. Bahkan, orang lain pun bisa membuatnya. Karena itulah, varian wingko menjadi beragam. ”LLI ini benar-benar klasik dan banyak disukai,” katanya.

Saat ini sebagian proses pembuatan wingko telah beralih menggunakan mesin. Misalnya, memarut kelapa dan menggiling beras ketan. Namun, proses pembakarannya yang menjadi ciri khas utama masih dipertahankan. Dia masih memasak di dalam tungku yang terbuat dari batu. ”Pernah pakai oven. Rasanya beda,” tuturnya.

Wingko LLI berkembang dengan rasa yang beragam. Selain rasa kelapa, ada cokelat, nanas, hingga durian. ”Menyesuaikan zaman. Pada era milenial, kita juga memasarkan secara online,” katanya. Walau makanan jadul, peminatnya banyak. Baik orang tua maupun anak muda.

Di depan Toko Wingko Babat LLI, terpasang papan lingkaran bertulisan puisi buatan Supriyadi Gondokusumo, ayah Olivia.

Suatu hari nanti, wingko babat jadi terkenal ke seluruh dunia. Seperti pizza dari Italia.

Suatu hari nanti, pembuatnya Loe Lan Ing jadi ternama. Seperti McDonald.

Suatu hari nanti kalau wingko sudah ternama, maka akan jadi makanan kecil di pesawat penerbangan.

Bait pertama dan kedua telah menjadi kenyataan. Wingko babat menjadi makanan khas Lamongan. Dan, penjualannya sudah sampai ke luar negeri. Paling jauh Jerman. ”Tinggal satu. Saya berharap ke depan bisa menjadi snack di salah satu maskapai penerbangan,” ujarnya.

Di Semarang juga terkenal dengan wingko babat. Menurut Olivia, itu memang benar ada. Berdasar silsilah keluarga, Loe Lan Hwa, saudara Loe Lan Ing, membuka usaha di sana. ”Masih famili. Di Babat ini, asal muasalnya,” imbuhnya.

WINGKO BABAT

  • Diproduksi pertama oleh Loe Soe Siang pada 1898.
  • Generasi kedua Loe Lan Ing membuat brand LLI.
  • Pembuatan masih menggunakan tungku batu dan kayu.
  • Kini banyak yang memproduksi wingko dengan beragam varian rasa.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : robby kurniawan/c7/eko

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads