
SAMBAL WARNA-WARNI: Ielany Siswadi atau Bu Rudy menunjukkan sambal stopan. Memulai usaha sejak 20 tahun yang lalu, Bu Rudy sekarang sduah punya enam cabang di Surabaya dan Gresik. (ALLEX KOMARULLA/JAWA POS)
LIDAH Bu Rudy masih lidah ndeso. Bila bepergian ke luar negeri, Bu Rudy yang bernama asli Ielanny Siswadi juga tetap membawa sambal miliknya itu. Misalnya saat istri Rudy Siswadi tersebut pelesir ke Jepang. Karena rasa makanan yang kurang pas, sambal kemasan itu pun dikeluarkan sebagai pemuas lidahnya.
”Sebelah saya ternyata ada orang Indonesia. Mereka ternyata kenal sambal saya, tapi tidak tahu kalau saya Bu Rudy. Saya kasih lah ke mereka, ternyata seneng,” ungkap Bu Rudy.
Sambal Bu Rudy memang sudah punya nama dan menjadi salah satu oleh-oleh khas dari Surabaya. Bahkan sering kali dibawa hingga ke mancanegara. Etalase oleh-oleh di Depot Bu Rudy di Jalan Dharmahusada tidak pernah sepi pembeli. ”Ini sambel favorit saya. Kalau ke Surabaya atau ada teman lagi ke sini pasti nitip. Rasanya bikin ketagihan,” ungkap Budi Rahardjo asal Denpasar Kamis (22/10).
Sambal kemasan botol Bu Rudy itu diberi tutup merah, kuning, dan hijau. Botol tutup merah berisi sambal bajak terasi, tutup kuning sambal bawang, dan hijau sambal hijau ikan peda. ”Dari sinilah saya punya ide. Saya namai sambal stopan karena seperti warna lampu lalu lintas,” ujar Bu Rudy.
Perempuan kelahiran 10 Oktober 1953 itu menceritakan, semula dirinya hanya membuat sambal bawang untuk teman makan ikan atau udang yang dibawa suami. Suatu ketika suaminya yang hobi memancing tersebut mengundang temannya untuk makan dengan sambal bawang. Ternyata mereka suka. Bu Rudy lantas berjualan nasi udang sambal bawang menggunakan mobil Carry. Pembeli rupanya suka sekali dengan sambal bawang itu.
Pada 2000 depot pertama buka di Jalan Dharmahusada. Responsnya luar biasa. Kapasitas produksinya pun terus bertambah. Hingga sekarang atau setelah 20 tahun bisa sampai 400 kg cabai sekali produksi yang menghasilkan 5.000 botol.
Baca juga: Sambal Terong Warung Pak Ghofar: Aneka Masakan Pedas, Dua Jam Ludes
Sekarang produksi sambal sebanyak itu menggunakan mesin khusus buatan suaminya, Rudy. ”Ciri khas sambal Bu Rudy itu masih ada teksturnya ya, jadi butuh mesin khusus,” kata dia. Bu Rudy tidak menjual sambal tersebut di luar Kota Surabaya, kecuali di Gresik. Soal usia sambal, hanya sampai tiga bulan untuk tetap mempertahankan rasa.
”Saat ke luar negeri, saya sering sekali lihat orang makan sambal saya,” ucapnya semringah.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=DpLSUnXwWuM&ab_channel=jawapostvofficial

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
