
Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid.(Haritsah/Jawa Pos)
Sudah 24 tahun reformasi bergulir dengan ditandai tumbangnya kekuasaan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Cerita di balik perjuangan itu masih membekas dalam ingatan Usman Hamid yang menjadi salah seorang tokoh https://www.jawapos.com/tag/presiden-soeharto/dalam gerakan tersebut. Berikut wawancara Jawa Pos bersama Usman Hamid yang kini menjadi direktur Amnesty International Indonesia.
---
Apa yang paling Anda ingat dengan gerakan 98?
Dulu saya hanya aktivis biasa dari Fakultas Hukum Trisakti. Saya belum jadi ketua senat. Saya baru jadi ketua senat sekitar Juli–Agustus 1998. Tapi, saya dan kawan-kawan dari fakultas lain aktif di Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT). Kami sering berkumpul di sekretariat SMUT untuk membicarakan keadaan politik dan bagaimana menyikapi keadaan politik saat itu. Itu jauh sebelum (aksi) Mei, masih mimbar-mimbar bebas pada Januari, Februari, dan Maret.
Kapan geliat aktivisme itu mulai muncul?
Geliat aktivisme sebenarnya muncul sejak akhir 1997. Ada banyak kelompok diskusi, rata-rata tertutup. Saat itu komunikasi tidak mudah, sarana komunikasi sangat terbatas, kecurigaan polisi tinggi. Ada miripnya dengan kecurigaan terhadap BEM sekarang yang akan berdemonstrasi. Artinya, ada yang memata-matai, menginteli, mengintimidasi dari rumah, dari orang tua. Cuma, mungkin dulu nggak lewat handphone karena memang belum ada handphone. Tidak lewat media sosial karena belum ada. Tidak lewat doxing karena belum ada. Tapi, intimidasinya sama. Terornya sama.
Bagaimana gambaran aksi mahasiswa pada Mei 1998?
Dulu gerakan itu gede banget. Saya ingat betul, kampus Trisakti itu penuh. Sudah kayak lautan manusia. Ada sekitar 15 ribu (mahasiswa) yang turun. Kami dua kali beraksi, pada 8 Mei dan 12 Mei (1998). Tanggal 8 Mei diblokade, nggak bisa ke DPR. Pasukan padat, jadi kami nggak bisa bergerak. Mereka menggunakan perlengkapan militer lengkap. Brimob berada di depan, belakangnya baru tentara.
Anda pernah dicari orang tua karena nggak pulang ke rumah saat itu?
Hahaha. Dulu sering rapat di kampus, jadi jarang pulang. Ancaman penculikan memang masih tinggi waktu itu. Ancaman untuk keluarga juga ada. Ketika itu komunikasi memang masih terbatas. Kadang-kadang kekhawatiran itu muncul karena komunikasi terbatas. Ditambah lagi, waktu itu ada intel yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah saya di Jelambar. Namanya Wiwit. Dia dibina seorang polisi militer.
Apa yang membuat gerakan 98 berhasil menumbangkan kekuasaan Soeharto?
Melihat masa reformasi berhasil itu bukan karena gerakan mahasiswa saja, tapi ada gerakan oposisi lainnya. Ada empat gerakan oposisi waktu itu. Pertama, gerakan oposisi yang bersifat mobilisasional seperti mahasiswa. Kedua adalah gerakan oposisi berbasis LSM seperti YLBHI. Mereka punya pengetahuan yang tinggi. Hasil-hasil riset yang kredibel dipakai untuk memproduksi pengetahuan dan memberikan penyadaran kepada masyarakat. Tapi, kelompok ini nggak punya massa. Sementara, kekuatan oposisi yang pertama punya massa. Tapi, pengetahuannya terbatas. Yang ketiga, oposisi yang berbasis pada ketokohan individu. Misalnya, Ali Sadikin, jenderal yang kritis pada Orde Baru (Orba). Ada juga Marsilam Simanjuntak, Rahman Tolleng, dan Gus Dur.
Yang terakhir?
Yang terakhir adalah gerakan oposisi yang dimotori individu-individu partai. Partainya tidak beroposisi, baik itu PDI maupun PPP, pada tahun itu, tetapi banyak individu dari dua partai itu yang bergabung dalam pertemuan-pertemuan mahasiswa dan ikut menentang Orba. Saya bisa sebut. Misalnya, Haryanto Taslam dari PDI, Aberson Marle Sihaloho, dan Ribka Tjiptaning. Pertemuan di LBH waktu itu bukan hanya pertemuan para aktivis dan LSM, tapi para aktivis mahasiswa dan tokoh individu sering berkumpul. Pada era sebelumnya, era 80-an dan 70-an, tidak ada persatuan gerakan oposisi semacam itu. Makanya, kalah terus.
Apa yang membedakan gerakan mahasiswa 98 dengan gerakan mahasiswa sekarang?
Saya menempatkan gerakan mahasiswa dan gerakan reformasi itu sebagai gerakan yang mendorong liberalisasi politik. Itu proses untuk membebaskan masyarakat dari otoritarianisme dan meminimalkan peran negara yang dominan sehingga memberi kebebasan. Nah, rezim yang otoriter dalam liberalisasi politik itu ditumbangkan, jatuh. Lahirlah ruang keterbukaan, kebebasan pers, multipartai, amandemen konstitusi, desentralisasi, otonomi daerah, dan pemberantasan korupsi. Kekuasaan dibatasi dengan cara membatasi masa pemerintahan hanya bisa terpilih selama dua kali atau dua periode. Kalau ada upaya untuk menunda pemilu, pasti ditolak. Warisan reformasi itu dibela mahasiswa. Artinya, gerakan mahasiswa, buruh, dan pelajar hari ini membela hasil-hasil liberalisasi politik pada 1998 itu.
Liberalisasi politik mengutamakan kebebasan individu, berbicara, dan berserikat. Dulu kan gak ada. Sekarang kita bisa lihat gerakan buruh banyak banget. Kebebasan berserikat tinggi, kebebasan pers juga demikian. Wartawan dulu dikontrol PWI. Sekarang ada AJI dan macam-macam. Mereka tidak hanya mempertahankan liberalisasi politik dalam gerakan reformasi 98. Tapi, yang sekarang mereka perjuangkan adalah liberalisasi sosial seperti reforma agraria, konflik-konflik agraria harus dipecahkan, upah buruh harus dinaikkan, tanah petani harus dilindungi, dan sumber daya alam harus dilindungi. Ini saya maksud sebagai generasi sosial yang baru. Jauh lebih bermakna untuk masyarakat kebanyakan.
Seperti apa Anda melihat geliat aktivisme dewasa ini?
Aktivis sekarang terkooptasi di dalam hegemoni kekuasaan. Terkooptasi oleh status quo untuk mempertahankan kedudukan yang ada ini. Sebab, kalau ini diubah, berubah, kepentingan mereka terancam. Tapi, saya masih melihat banyak aktivis yang bertahan dalam idealismenya, entah itu idealisme dalam pengertian di dunia LSM atau menjadi intelektual publik. Tapi, yang jelas masih ada. Di generasi saya, masih ada orang-orang seperti Ridaya La Ode Ngkowe, mantan senat UGM. Tapi, secara keseluruhan, memang masuknya aktivis ke politik ternyata tidak serta-merta mengubah keadaan politik. Kita nggak bisa menyalahkan mereka. Sebab, perubahan politik itu nggak bisa ditentukan satu-dua orang yang masuk dalam politik. Harus ada kolektivitas, sebuah gerakan.
JALAN AKTIVISME USMAN HAMID
- Usman Hamid lahir di Jakarta, 6 Mei 1976.
- Ketua Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT) 1998–1999.
- Pada 2004 ditunjuk sebagai anggota merangkap sekretaris tim pencari fakta kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib.
- Pada 2016 meraih gelar master of philosophy department of political and social change dari The Australian National University, Australia.
- Pernah menjadi koordinator Kontras.
- Saat ini menjabat direktur eksekutif Amnesty International Indonesia.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
