Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Mei 2022 | 04.48 WIB

Andalkan Kuliner Tidayu, Pondok Ale-Ale Curi Hati Jokowi

Photo - Image

Photo

Namanya Pondok Ale-Ale. Dalam bahasa setempat, ale-ale artinya kerang putih. Bangunan rumah makan itu unik, seperti durian. Raja buah tersebut memang mudah ditemui di Kalimantan Barat. Kearifan lokal yang menjadi ciri khas restoran itu membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak cukup hanya sekali singgah ke sana.

ARISTONO, Pontianak

JawaPos.com - Rumah Makan Pondok Ale-Ale menjulang setinggi tiga lantai di atas lahan seluas 1.400 meter persegi. Ornamen khas Tidayu (Tionghoa, Dayak, Melayu) menghiasi bangunan berbentuk mirip durian tersebut. Bagian belakang rumah makan berbatasan dengan kanal yang mengalir ke Sungai Kapuas. Pondok Ale-Ale juga dinaungi pepohonan rindang.

Tampilan yang unik, lingkungan yang asri, dan lokasi strategis di dekat kompleks pemerintahan Jalan Sutoyo, Pontianak, menjadikan Pondok Ale-Ale sebagai jujukan warga dan pendatang. Ketika Pontianak Post (Grup Jawa Pos) bertandang pada akhir Januari lalu, meja-meja di lantai 1 dipadati pengunjung. Maklum, saat itu jam makan siang.

Keramaian di meja makan sebanding dengan kerepotan di dapur. Sebab, para juru masak Pondok Ale-Ale baru mulai beraksi setelah pesanan masuk. Dengan demikian, semua hidangannya segar. Lauk yang berupa ikan atau kepiting bisa dipilih langsung dari akuarium. Sementara itu, beragam sayuran disimpan rapi dalam etalase dekat dapur.

’’Kalau dihitung, mungkin 40 persen orang yang makan di sini adalah orang luar Pontianak. Sisanya baru warga lokal,’’ kata Edy Hartanto, pemilik Pondok Ale-Ale. Sebelum pandemi, rumah makan itu punya beberapa cabang di seantero Pontianak. Kini kedai utama di dekat gubernuran itulah yang masih bertahan dan tetap ramai pembeli.

Photo

IKAN ASAM PEDAS: Menu khas Melayu ini menjadi favorit pelanggan rumah makan yang terletak di tengah kota itu. (Pontianak Post)

Orang luar Pontianak yang sering bersantap di Pondok Ale-Ale, kata Edy, salah satunya adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia bahkan menyebut sang presiden sebagai pelanggan. ’’Kalau datang langsung dan makan di sini, Pak Presiden sudah dua kali. Tetapi, kalau agendanya padat, tim rumah tangga kepresidenan yang memesan. Kami yang menyiapkan dan mengantarkan makanannya,’’ urainya.

Kali terakhir Jokowi menyantap hidangan dari Pondok Ale-Ale adalah pada pengujung tahun lalu. Saat itu dia meninjau banjir di Sintang. Di sela lawatan tersebut, Jokowi makan siang di Bandara Supadio, Pontianak, dengan menu dari Pondok Ale-Ale.

Jokowi kali pertama mencicipi hidangan di Pondok Ale-Ale pada 27 Mei 2019. Tepatnya, dalam rangkaian kampanye pemilihan presiden di Kalimantan Barat. Beberapa hari sebelum hari H, Edy menerima telepon dari bagian rumah tangga kepresidenan. Si penelepon meminta disiapkan tempat dan makanan untuk Jokowi dan rombongannya.

’’Saya sempat tidak percaya. Walaupun hampir semua menteri pernah makan di sini, dipercaya oleh presiden sangatlah berbeda rasanya. Ini menjadi kehormatan besar bagi saya karena bisa memperkenalkan kuliner Kalbar langsung ke RI 1,’’ ungkap Edy.

Dua atau tiga hari sebelum kedatangan Jokowi, sejumlah personel Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) memeriksa rumah makan. Mereka juga meminta denah gedung. Bahkan menginap di lantai atas.

’’Saya memberikan anak kunci karena saya dan karyawan mau pulang dan mengunci pintu. Mereka bilang tidak perlu. Ternyata mereka memang terampil bisa memanjat dan loncat. Naik turun tanpa lewat tangga,’’ kenang Edy.

Photo

CHOIPAN TALAS: Kudapan bergaya Tionghoa ini diminati pelanggan Pondok Ale-Ale. (Pontianak Post)

Pada hari H, semua menu andalan Pondok Ale-Ale disajikan. Mulai aneka hidangan boga laut seperti kepiting asap dan ikan salju steam hingga ikan asam pedas khas Pontianak. Jokowi, menurut Edy, sempat mencicipi sebagian menu. Namun, yang Jokowi pilih sebagai lauk adalah ikan goreng, tempe, dan tahu.

’’Satu lagi yang wajib ada, kerupuk putih. Kami memang tidak menyediakan dan harus mencarikan dulu. Kesukaan beliau sepertinya adalah masakan Nusantara yang digoreng plus kerupuk,’’ ujar pria yang menjabat wakil ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar tersebut.

Di balik kebanggaannya menjadi tuan rumah untuk Jokowi, ternyata ada sedikit sesal dalam hati Edy. Sebab, meski dua kali bertemu Jokowi, tidak sekali pun dia sempat berfoto berdua dengan mantan gubernur DKI Jakarta tersebut. ’’Yang ada hanya foto bersama dengan karyawan dan foto candid dari wartawan saat mengantarkan presiden dari halaman ke restoran,’’ ungkapnya.

Padahal, karyawan-karyawannya sibuk berswafoto dengan Jokowi saat itu. ’’Karyawan saya antusias sekali sampai memeluk presiden. Saya sebenarnya sudah antre dan bersiap untuk berfoto selfie, tetapi keduluan orang lain terus,’’ kenangnya.

Edy yang sarjana ilmu komputer itu awalnya terjun ke dunia bisnis sebagai teknisi. Namun, suami Yenna Wiguna tersebut tidak pernah bisa berpaling dari kuliner. Bagi Edy, kuliner adalah jiwanya. Dialah pelopor festival kuliner tahunan di Pontianak. Dia juga memprakarsai pemilihan Bujang-Dara Kuliner Kalbar.

Photo

PENGGAGAS: Edy Hartanto sengaja menghadirkan kekhasan Tiongkok, Dayak, dan Melayu di rumah makan miliknya. (Pontianak Post)

Beberapa kali Edy menggelar kompetisi durian terenak. Dia juga gigih memopulerkan durian serumbut yang merupakan salah satu durian terenak di dunia. Durian jenis itu hanya tumbuh di Balai Karangan dan Sekayam, perbatasan Kalbar‒Sarawak (Malaysia).

Sebagai putra daerah, lelaki kelahiran 30 Oktober 1980 itu ingin kuliner Kalbar yang terpengaruh budaya Tidayu dikenal di seluruh Indonesia. Dipilihnya ale-ale sebagai nama pun tidak terlepas dari kenangan masa kecilnya di Desa Semanai, pesisir Kabupaten Kayong Utara. Di pesisir yang menghadap Selat Karimata itulah, Edy kecil menjadi pemburu ale-ale alias kerang putih.

Selain seafood, Pondok Ale-Ale menghadirkan masakan-masakan Tidayu. Menu dengan pengaruh Tionghoa, misalnya, capcai dan chai kue. Sajian yang terpengaruh kuliner khas Dayak adalah pakasam. Sedangkan olahan yang berbau Melayu adalah kuah asam pedas. Untuk mengakomodasi semua itu, Pondok Ale-Ale punya 150 jenis masakan dan minuman dalam menunya.

Keputusan Edy untuk meninggalkan dunia teknisi komputer agaknya tepat. Setelah fokus mengembangkan kuliner yang dia rintis dari warung kecil, usahanya kian sukses. ’’Jadi, bisnis kuliner itu harus fokus karena produknya berkaitan dengan rasa dan pelayanan. Sebelumnya, saya sibuk bekerja karena memang merasa pendapatan dari gaji aman,’’ ujarnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore