
Foto yang diambil pada 27 Mei 2026 memperlihatkan Museum Hak Asasi Manusia dan Perdamaian Nagasaki di Kota Nagasaki, Jepang. (Kyodo)
JawaPos.com – Sebuah museum di Kota Nagasaki berupaya mengungkap kisah yang selama ini kurang mendapat perhatian mengenai korban bom atom asal Korea. Museum tersebut juga menyajikan perspektif sejarah yang menggambarkan Jepang bukan hanya sebagai korban perang, tetapi juga sebagai negara yang pernah melakukan kolonialisasi dan kejahatan perang selama Perang Dunia II.
Seperti dilansir Kyodo, Jumat (24/7), Museum Hak Asasi Manusia dan Perdamaian Nagasaki yang dikelola organisasi nirlaba itu berada sekitar tiga kilometer di utara titik ledakan bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat pada 1945.
Pengelola museum menilai jumlah korban warga Korea akibat bom atom jauh lebih besar dibandingkan angka resmi pemerintah Kota Nagasaki. Perbedaan itu muncul karena metode penghitungan yang digunakan kedua pihak tidak sama.
Mantan Wakil Ketua Museum Tomohiro Shinkai memperkirakan sekitar 20.000 warga Korea terdampak bom atom di Nagasaki. Dari jumlah tersebut, sekitar 10.000 orang diperkirakan meninggal dunia.
Sementara itu, Pemerintah Kota Nagasaki memperkirakan terdapat sekitar 12.000 hingga 13.000 warga Korea yang terdampak bom atom. Dari jumlah tersebut, korban meninggal diperkirakan hanya sekitar 1.400 hingga 2.000 orang.
Shinkai mengatakan jumlah korban bahkan bisa mencapai sekitar 30.000 orang apabila memasukkan penyintas yang memasuki kota setelah ledakan dan terpapar radiasi sisa, serta mereka yang terpapar radiasi saat masih berada dalam kandungan.
Menurut pengelola museum, estimasi tersebut didasarkan pada penelitian lapangan yang dilakukan kelompok pegiat hak asasi manusia di Nagasaki. Mereka meyakini hasil penelitian tersebut lebih akurat dibandingkan perkiraan yang hanya mengacu pada literatur terdahulu.
Ketua museum Noboru Sakiyama menjelaskan bahwa sejak Era Meiji, Jepang melakukan ekspansi ke berbagai wilayah Asia. Kondisi itu membuat banyak warga Korea dibawa ke Jepang, terutama setelah Semenanjung Korea berada di bawah pemerintahan kolonial Jepang pada 1910 hingga 1945.
Banyak warga Korea saat itu dipaksa bekerja di tambang batu bara, pabrik, dan berbagai fasilitas industri. Di Nagasaki, mereka juga dipekerjakan sebagai buruh berat, termasuk di galangan kapal milik Mitsubishi Heavy Industries.
Akibatnya, banyak warga Korea yang menjadi korban bom atom setelah sebelumnya dimobilisasi ke Jepang. Setelah perang berakhir, mereka juga tidak langsung memperoleh akses terhadap layanan kesehatan dan bantuan bagi penyintas bom atom karena kebijakan awal hanya berlaku bagi warga negara Jepang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022