Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Desember 2024 | 15.11 WIB

Kebudayaan Megalitikum Ada Situs Sewu Umpak Jember

MENYEBAR: Sesuai namanya, di situs Sewu  Umpak terdapat ribuan bebatuan yang diduga berasal dari zaman sebelum Masehi. (JAWA POS RADAR JEMBER) - Image

MENYEBAR: Sesuai namanya, di situs Sewu Umpak terdapat ribuan bebatuan yang diduga berasal dari zaman sebelum Masehi. (JAWA POS RADAR JEMBER)

Banyak yang menyebut bahwa situs Sewu Umpak muncul akibat efek banjir bandang pada 2006. Banyak batuan dari sungai akhirnya terangkat ke daratan, termasuk batuan besar yang diduga adalah dolmen dari era Megalitikum.

Dugaan ini terlihat dari cirinya yang mirip dengan dolmen, yaitu adanya batuan penyangga di bawah dengan lorong atau ruang kosong sempit. Konon, ruang kecil di bawah batu itulah yang digunakan untuk menaruh sesajen atau persembahan.

Pembina Yayasan Boemi Poeger Persada, Y. Setiyo Hadi, memaparkan bahwa Pegunungan Hyang Argopuro merupakan Mandala (lingkaran). “Konsep Mandala dalam sejarah memiliki beberapa makna, yakni sebagai objek ritual, ruang pendidikan, ruang sosial, dan model politik, yang berpusat pada puncak gunung yang dianggap sebagai wilayah suci,” terangnya.

RUANG PERSEMBAHAN: Salah satu batu yang diduga dolmen, yakni batu besar yang disangga batu kecil, menghasilkan sebuah ruang. (JAWA POS RADAR JEMBER)

Menurutnya, ada berbagai macam peninggalan zaman prasejarah, Megalitikum, hingga klasik yang terpendam di Pegunungan Hyang Argopuro. Pegunungan ini merupakan wilayah suci bagi berbagai keyakinan sebagai cermin alam semesta.

Salah satu peninggalan kebudayaan Megalitikum tua adalah dolmen yang disusun dari batuan besar.

“Wilayah Jember, terutama dalam lingkaran (mandala) Pegunungan Hyang Argopuro, ditemukan ribuan tinggalan arkeologis Tradisi Megalitikum,” kata pria yang akrab disapa Yopi itu.

ADA HURUFNYA: Batu sodong yang ditemukan di situs Sewu Umpak. Pada batu berbentuk lonjong itu terdapat tulisan yang diduga aksara Kawi Kuadrat. (JAWA POS RADAR JEMBER)

Dijelaskan lebih lanjut, bagian yang menonjol dari masyarakat pendukung Tradisi Megalitikum adalah kehidupan religinya yang menggunakan hasil budaya dari batu besar itu. Megalitikum dijadikan sebagai pemujaan arwah yang bersifat suci (sakral) untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang. (sil/nur)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore