
WAJAH BARU: Tampilan Benteng Van den Bosch hasil restorasi yang dipotret dari ketinggian di saat senja. Benteng ini terlihat begitu eksotis dan menyala. (Asep Syaeful/Jawa Pos Radar Ngawi)
Setelah menjalani tahap restorasi selama dua tahun, bangunan bersejarah yang dibangun pada 1839–1845 ini siap menjadi ikon baru pariwisata, wahana edukasi, dan cagar budaya Kabupaten Ngawi dan Jawa Timur.
---
SEJATINYA, kompleks bangunan bergaya Eropa abad ke-18 ini belum diresmikan dan dibuka untuk umum. Namun, sejak akhir tahun lalu, Benteng Van den Bosch sudah ramai dikunjungi. Ribuan wisatawan, baik lokal maupun luar Ngawi, datang silih berganti.
Mereka ingin menyaksikan bangunan bernama lain Benteng Pendem tersebut setelah direstorasi sejak 21 Desember 2020. Wajar, hasil pembenahan wajah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, itu mampu menarik mata siapa pun yang memandang. Meskipun mereka hanya boleh melihat dari pelataran.
Wajah Benteng Van den Bosch memang berubah 180 derajat. Dulu, sebelum direstorasi, bangunan tersebut sangat tak terawat. Pohon dan tumbuhan liar, bau tidak sedap, kotoran kelelawar, menjadi ”sajian utama”.
Setelah direstorasi, benteng yang terletak di pertemuan dua sungai, yakni Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, itu begitu estetis. ”Sangat jauh berbeda dibanding ketika saya berkunjung pada 2019 lalu,” ujar Riyaya Hajja Nugrohowati, warga Desa/Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi.
Keindahan wajah Benteng Pendem itu pula yang membuat Aprilia Putri, warga Cepu, Blora, Jawa Tengah, jauh-jauh datang. Pemandangan bangunan bercorak Eropa tersebut, menurut dia, bisa menjadi background foto yang bagus untuk dipamerkan di media sosial. ”Bagus buat foto-foto,” ucapnya.
Restorasi Benteng Pendem dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Menggunakan adaptive reuse concept. Yakni mengembalikan konstruksi bangunan seperti aslinya dengan meminimalkan perubahan.
Selain itu, fungsinya juga diubah. Tak lagi menjadi benteng pertahanan, tapi sebagai destinasi wisata heritage dan museum. ”Karena tujuannya untuk menjaga cultural significance (nilai kultural, Red),” kata Kepala Satker PPPW II Any Virgiany.
Restorasi Benteng Van den Bosch meliputi 13 bangunan utama. Perinciannya, 7 bangunan inti, 4 bastion (benteng), serta 2 gerbang masuk: di depan dan belakang. Selain pembenahan struktur bangunan, interior dan eksterior Benteng Pendem juga dipermak. Sejumlah fasilitas baru untuk mendukung fungsi bangunan juga ditambahkan. Seperti mekanikal elektrikal plumbing dan pedestrian yang mengitari benteng. ”Pekerjaan sudah selesai 100 persen,” terangnya.
Dinding benteng juga dibenahi. Plesteran lama dikupas, lalu diganti baru. Dengan konsep plesteran yang bisa bernapas. Sebab, selama ini kadar garam tinggi dan kelembapan di sekitar benteng membuat struktur dinding rentan rusak. ”Dengan konsep plesteran bisa bernapas. Air di dalam dinding bisa keluar dan air dari luar tidak bisa masuk,” jelasnya.
Namun, tak semua dinding benteng diplester dan dicat ulang. Ada sebagian yang dibiarkan kelihatan batu batanya. ”Ini sebagai media edukasi kepada masyarakat tentang sejarah struktur bangunan,” katanya.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menegaskan, Benteng Van den Bosch nantinya memiliki tiga fungsi utama. Yakni edukasi sejarah, destinasi wisata, dan pengembangan ekonomi kerakyatan. ”Akan ada multiplier effect. Selain sebagai sarana edukasi, pengembangan sektor wisata juga berdampak pada perekonomian warga sekitar,” tuturnya.
Photo
EKSOTIS: Setelah direstorasi, suasana interior Benteng Van den Bosch berubah dari kesan sebuah benteng pertahanan menjadi museum cagar budaya dan objek wisata. (Asep Syaeful/Jawa Pos Radar Ngawi)
Pembangunan benteng itu merupakan ide Gubernur Jenderal Van den Bosch, setelah mendapat perintah Raja William I untuk memulihkan ekonomi dan stabilitas keamanan pasca-Perang Jawa usai.
Konsep pertahanan Jawa itu dilanjutkan Van der Wijck. Salah satunya, melalui pembangunan beberapa benteng pertahanan. Sebagaimana Benteng Willem I di Ambarawa, Benteng Prins Frederik
di Batavia, Benteng Pangeran Oranye di Semarang, Benteng Pangeran Hendrik di Surabaya, Benteng Jenderal Van den Bosch di Ngawi, dan Benteng Gèneraal Coohius di Gombong, Kebumen.
Bupati Ony menyatakan, narasi sejarah tersebut membuat Pemkab Ngawi bertanggung jawab untuk menjaga dan mengelola aset cagar budaya nasional itu. ’’Sesuai dengan arahan bapak presiden. Sejumlah tahapan kami
lakukan,” katanya.
Setelah Benteng Van den Bosch ditetapkan sebagai cagar budaya nasional, Pemkab Ngawi mengurus proses pengalihan aset dari Kementerian Pertahanan ke pemerintah daerah. Selain itu, pemkab membentuk lembaga pengelola melalui unit pelaksana teknis (UPT) destinasi pariwisata terpadu di bawah dinas pariwisata, kepemudaan, dan olahraga (disparpora).
SERBA-SERBI BENTENG VAN DEN BOSCH
- Terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi
- Berada di pertemuan dua sungai, yakni Bengawan Solo dan Bengawan Madiun
- Dibangun pada tahun 1839–1845 setelah Perang Diponegoro (1825–1830)
- Didesain khusus oleh Chef der Genie Jhr Carel van der Wijck pada 1833
- Masih merupakan aset Kementerian Pertahanan yang dikelola Batalyon Armed 12/155 GS/AY/2/2 Kostrad

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
