Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 7 Oktober 2017 | 05.07 WIB

Terpaksa ’’Curi’’ Sedikit Jalur Darat

POTENSI WISATA: Turis asing menaiki tangga Candi Pari di Porong yang berdiri sejak 1371 atau saat era keemasan Majapahit. Sekitar 50 meter di selatan Candi Pari, berdiri Candi Sumur. - Image

POTENSI WISATA: Turis asing menaiki tangga Candi Pari di Porong yang berdiri sejak 1371 atau saat era keemasan Majapahit. Sekitar 50 meter di selatan Candi Pari, berdiri Candi Sumur.



Semua Ini demi Dua Putra Airlanga


Begitu tiba di Candi Belahan, Nino langsung menceritakan peristiwa penting di balik nama candi tersebut. ’’Ya karena ada sesuatu yang dibelah,’’ jelasnya. Nino menuturkan, Candi Belahan menjadi semacam ’’sertifikat’’ atas lahirnya Kali Porong. Itu merupakan suatu penanda yang dibangun oleh Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan yang kemudian berpindah ke Kediri (1009–1042).


Nino menjelaskan, pada penghujung kekuasaannya, dua putra Airlangga, yaitu Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan, berselisih. Airlangga lantas memutuskan membagi kekuasaan wilayah kerajaannya. Setelah berdiskusi panjang dengan penasihatnya, yakni Mpu Bharada, Airlangga disarankan memecah wilayah kerajaan dengan sebuah garis batas yang jelas. Bagaimana caranya?


’’Ya dibelah dengan aliran sungai,’’ ungkap Nino. Airlangga memerintah prajuritnya untuk membongkar salah satu sisi bendungan yang semula dibangun. Letaknya berada di sekitar Kecamatan Tarik saat ini. Air pun mengalir deras dan membentuk aliran sungai baru yang membelah wilayah kerajaannya. ’’Dibelah atau diparo dalam bahasa Jawa,’’ ujar Nino.


Lama-kelamaan, kata paro pun berubah menjadi Porong. ’’Itu sebabnya, nama sungai ini adalah Porong, bukan sungai Pasuruan, Sidoarjo, atau Brantas,’’ jelas Nino. Versi babad, dikisahkan bahwa Mpu Bharada terbang sambil mengucurkan air dari kendi. Saat itulah, terbentuk sodetan yang menjadi Kali Porong.


Setelah wilayah Kahuripan terpecah, Sri Samarawijaya mendapat jatah Kerajaan Kediri yang berpusat di Kota Daha Baru. Sementara itu, Mapanji mendapatkan bagian Kerajaan Jenggala di Kahuripan (Sidoarjo). Selepas membelah dan mewariskan kerajaan kepada anak-anaknya, Airlangga moksa di sekitar Candi Belahan.


Peradaban di sekitar Kali Porong kemudian berkembang pesat. Aliran sungai tersebut bukan saja menjadi sumber kehidupan, tetapi juga salah satu pusat peradaban ujung timur Jawa. Terutama dalam bidang pertanian. Itulah yang melatarbelakangi munculnya Candi Pari di Porong dan Candi Gunung Gangsir.


Candi Pari dibangun pada masa Kerajaan Majapahit, dipersembahkan sebagai bentuk terima kasih kepada Joko Pandelegan. Dia banyak membantu Majapahit menjalani masa-masa paceklik. Saat itu sebagian padi didatangkan dari persawahan di wilayah Porong yang subur. Majapahit juga membangun Candi Gunung Gangsir sebagai ucapan terima kasih atas hasil pertanian di wilayah tersebut.


Dari Candi Gunung Gangsir itu, kita bisa mengetahui bahwa aliran Kali Porong sebenarnya sudah berubah, tidak seperti yang sekarang kita ketahui. Dulu jalurnya berkelok-kelok, melewati Mojokerto, Sidoarjo, dan Pasuruan.


Karena ada revolusi agraria oleh pemerintah Hinda Belanda pada 1920-an, jalur sungai berubah. Tidak lagi melewati Gunung Gangsir, tetapi mengarah lurus di sekitaran Jabon, melewati dermaga Tlocor, lalu bermuara di Selat Madura. Untuk membuktikannya, Nino mengajak kami menuju saksi bisu salah satu proyek pengairan besar di masa kolonial dulu. Itu adalah jembatan Kalimati. ’’Mari kita ke sana,’’ ajak Nino.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore