Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Januari 2017 | 18.24 WIB

Suguhan Kopi Bercita Rasa Khas, GM Coffee Street Bakal Jadi Wisata Andalan

Jalan Gajah Mada, Kelurahan Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan disulap menjadi pusat wisata kopi. Pemerintah Kota Pontianak berencana menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata Kota Khatulistiwa. - Image

Jalan Gajah Mada, Kelurahan Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan disulap menjadi pusat wisata kopi. Pemerintah Kota Pontianak berencana menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata Kota Khatulistiwa.

JawaPos.com - Gajah Mada (GM) Coffee Street besutan Pemerintah Kota Pontianak bakal menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kalbar. Suguhan kopi bercita rasa khas diyakini pemikat wisatawan domestik maupun mancanegara. 


Letaknya pun di jantung Kota Pontianak. Sesuai nama, di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Benua Melayu Darat, Pontianak Selatan. Di sana, setidaknya terjejer 115 warung kopi (Warkop), jika dihitung sampai ke gang-gang yang mengarah ke Jalan Tanjungpura dan WR Supratman. 


Melihat pertumbuhan kawasan GM yang begitu pesat, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, lantas melakukan lobi ke pemerintah pusat. Bang Midji, karib dia disapa, ingin kawasan tersebut dipermak.


“Kawasan ini unik, punya ciri khas. Di situ banyak warung kopi. Bukan hanya Jalan Gajah Mada-nya, tapi kawasan Gajah Mada dan sekitarnya,” tutur Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Tata Ruang Kota Pontianak, Ismail dijumpai Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Sabtu (14/1).


Pertumbuhan Warkop ini seiring bertambahnya jumlah hotel. Mulai dari yang berbintang dua hingga lima. Menjamur. “Kawasan Gajah Mada diproyeksikan menjadi tujuan wisatawan. Pemkot Pontianak sedang berusaha membangun ciri khasnya,” terang dia.


Deretan toko sudah buka sejak pagi di GM. Pasar tradisional, Flamboyan, pun terletak di sana. Seakan tak ada matinya, sejak sekitar pukul 19.00, GM justru semakin ramai dengan jajaran Warkop-nya. Tak heran, ratusan kendaraan kerap parkir di tepi jalan hingga ke teras toko-toko. Yang tampak paling banyak dikunjungi adalah Warkop Winny, di depan Restoran Gajah Mada. 


Keramaian malam hari di sana tak hanya di sepanjang GM saja. Di Jalan Hijas, salah satu anak Jalan Gajah Mada, hampir semua Warkop penuh sesak dengan pengunjung. Beberapa bergaya modern setengah cafe, menyediakan fasilitas wifi, hingga layar lebar. Harga segelas kopi dan variasinya pun terjangkau kocek anak muda. 


Kamis (12/1), udara pekat berbau asap tidak menyurutkan para penikmat kopi. Juga penghobi nongkrong. Mereka tetap duduk santai menikmati malam. Yang datang tidak hanya kaum adam saja, kaum hawa pun terlihat membentuk kelompok masing-masing. 


Contohnya, seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta Pontianak yang hanya menyebut namanya Putri. Ia datang bersama rekannya di sebuah Warkop di Jalan Hijas. "Nda sering juga si (kumpul-kumpul di Warkop), kalau ndak sibuk kita ke sini. Ya kita sih kebanyakan bergosip kalau lagi ngumpul gini," selorohnya.


Kepala Dinas PU dan Tata Ruang Pontianak, Ismail, menyebut destinasi wisata kopi ini terus dikembangkan Pemkot Pontianak. Program GM Coffee Street sudah dicetuskan Wali Kota Sutarmidji kepada Kementerian PU dan Perumahan Rakyat. 


“Alhamdulillah, disetujui pemerintah pusat. Pemkot Pontianak menunjukkan sikap serius dan kita sampaikan bahwa daerah juga menyiapkan dananya. Pemerintah pusat akhrinya kepincut untuk menata kawasan Gajah Mada,” terangnya.


Medio 2016, Pemkot membangun titik perdana GM Coffee Street di perempatan Gajah Mada-Agus Salim. Trotoar dan drainase di kawasan tersebut dibangun dengan baik. Rencananya, tahun ini Walikota akan membangun gedung parkir di Gajah Mada.


“Pontianak inikan kota jasa dan perdagangan. Kita tidak punya sumber daya alam, hanya ada Sungai Kapuas. Sekarang Pemkot sedang memikirkan, bagaimana kota ini dengan SDA terbatas tapi dapat menghasilkan pendapatan daerah. Ya dari kunjungan wisatawan,” urai Ismail.


Pembangunan GM Coffee Street mengambil konsep Dam Square, Amsterdam, Belanda. Kota tersebut memang tujuan puluhan juta wisatawan setiap tahunnya. Hanya dengan mengandalkan destinasi kota tua. “Tidak ada apa-apa di sana. Wisatawan hanya ingin nongkrong dan melihat bangunan tua,” ungkapnya.


Ia menjabarkan, GM Coffee Street merupakan program Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Program ini didesain oleh pemerintah pusat lewat Kementerian PU dan Perumahan Rakyat. Di kawasan Gajah Mada, pembangunan RTBL baru menyentuh perbaikan trotoar. “Namanya trotoar Humanis. Kita ingin Gajah Mada menjadi kawasan nyaman untuk didatangi dan nyaman dikunjungi,” terang Ismail.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore