
Observatorium Peneropongan Bintang Bosscha di Lembang, Jawa Barat. Raisan Al Farisi/Antara
OBSERVATORIUM Bosscha tak bisa sembarangan dikunjungi. Siapa pun yang ingin mengintip salah satu objek vital nasional sekaligus bangunan cagar budaya itu harus janjian dulu. Destinasi wisata edukatif di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, itu hanya bisa dikunjungi pada Sabtu dan Minggu, itu pun harus booking dulu.
Sabtu kedua bulan ini, Tri Indah mengajak putri dan keponakannya ke Bosscha. Observatorium paling tua di Indonesia itu menarik karena menjadi latar film musikal Petualangan Sherina dan karena menjadi ’’rumah” bagi Teleskop Refraktor Ganda Zeiss. Dari Jakarta, dia berangkat pagi dengan menumpang kereta cepat Whoosh.
Sebelumnya, dia sudah mengumpulkan informasi tentang Bosscha. Saat merencanakan kunjungan bersama keluarga itulah dia baru tahu bahwa ITB menerapkan batasan alias limit kunjungan. ’’Ternyata hanya bisa dikunjungi umum setiap Sabtu dan Minggu,” ujarnya saat berbincang dengan Jawa Pos.
Karena hari kunjungnya terbatas, tiket ke Bosscha pun harus rebutan. Apalagi, tiketnya hanya bisa diperoleh dari laman resmi bosscha.itb.ac.id pada pukul 09.00-15.00 mulai Senin sampai Kamis. ’’Mirip ’war’ tiket konser,” kata Indah.
MENAKJUBKAN: Teleskop Refraktor Ganda Zeiss menjadi daya tarik utama di Observasium Bosscha. Selain ukurannya, usia teleskop raksasa itu membuat pengunjung kagum.
Tapi, apakah rebutan tiket untuk berkunjung ke Bosscha itu sesuai dengan pengalaman yang diberikan? Dengan mantap, Indah menjawab iya. Dia beserta anak dan keponakannya mengaku memperoleh banyak hal. Khususnya yang terkait dengan astronomi.
’’Pertama kami diajak melihat hasil pengamatan Observatorium Bosscha. Termasuk pengamatan gerhana. Diperlihatkan foto-fotonya, juga dapat penjelasan soal foto-foto tersebut,” terangnya. Penjelasan disampaikan langsung oleh mahasiswa-mahasiswa ITB.
Selanjutnya, pengunjung diajak mengamati matahari secara langsung. Pengamatan itu dilakukan menggunakan dua teleskop. Satu teleskop disetel untuk mengamati matahari dengan bentuk utuh. Satu teleskop lainnya memperlihatkan matahari sedikit lebih dekat. Selama pengamatan berlangsung, pengunjung juga diperbolehkan bertanya apa pun terkait matahari.
Terakhir, pengunjung diajak melihat langsung Teleskop Refraktor Ganda Zeiss yang menghuni kubah observatorium. ’’Bagian ini yang membuat anak-anak dan pengunjung lainnya takjub,” kata Indah. Teleskop yang mulai dioperasikan pada 1928 itu benar-benar memukau. Terlebih, teleskop itu masih berfungsi dan dipakai untuk mengamati objek di langit. (syn/c17/hep)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
