
POTENSI WISATA: Turis asing menaiki tangga Candi Pari di Porong yang berdiri sejak 1371 atau saat era keemasan Majapahit. Sekitar 50 meter di selatan Candi Pari, berdiri Candi Sumur.
Rasanya, perjalanan ini tak lengkap bila tidak mengunjungi candi dan situs yang bertebaran di sepanjang sungai. Ada yang kondisinya terawat baik, didatangi turis lokal dan asing. Ada pula yang tampak sepi.
DARATAN seluas 13 hektare itu membuat laju perahu karet kami terhenti. Di depan kami, aliran Kali Porong terpecah. Alirannya membentuk dua percabangan yang mengitari pulau atau ’’pulo’’ dalam pengucapan lidah warga setempat. Meskipun terpisah, aliran kali kembali menyatu di ujung pulau. Keberadaan daratan tersebut bisa dilihat jelas dari atas jembatan Porong. Jaraknya cukup dekat, hanya sekitar 1 kilometer.
Sayangnya, kondisi aliran sebelah kiri tertutup tanah. Air yang mengalir kecil sekali sehingga tidak memungkinkan dilewati perahu. Kondisi jalur kanan sama. Penyebabnya, konstruksi kaki-kaki proyek tol Porong–Gempol sedang digarap. Lokasinya tidak jauh dari jembatan Arteri Porong.
Proyek jalan tol sepanjang 6,4 kilometer tersebut akan menggantikan tol Porong–Gempol lama di sisi timur yang putus akibat luapan lumpur Lapindo sejak 2006.
Kesimpulannya, pada Jumat pagi (15/9) itu kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan dengan perahu, setidaknya sampai 2–3 kilometer ke depan. Perjalanan lumayan jauh. Sebab, setelah melewati jembatan Porong, aliran kali juga bertemu dengan tanggul batu.
Dalam kondisi kemarau seperti sekarang, perahu tak bisa lewat. Pucuk-pucuk tanggul batu tersebut mendongak ke permukaan. Ah, kami kecewa berat.
Akhirnya, kami memutuskan kembali ke Desa Bulang, Prambon. Malam itu kami menginap di balai desanya. Siapa tahu ada warga atau perangkat desa di sana yang bisa membantu mencarikan mobil untuk mengangkut perahu tersebut.
Rencananya, perjalanan dengan perahu kami lanjutkan dari Desa Kedungcangkring, Jabon. Persisnya, beberapa ratus meter selepas jembatan tol Porong–Gempol lama. Setelah tanya sana-sini, akhirnya kami berhasil mendapatkan carteran mobil SUV dobel kabin. Perahu pun langsung kami angkat beramai-ramai.
***
Dalam perjalanan kali ini, kami kembali mendapat kawan baru. Namanya, Anton Novenanto. Dia sengaja kami ajak karena memiliki pengetahuan yang cukup mendalam mengenai situs-situs purbakala di tepian aliran Kali Porong. Antara lain, Candi Pari di Porong.
Ada juga Candi Gunung Gangsir di Desa Gunung Gangsir; Candi Belahan di Desa Wonosonyo, Gempol; serta kompleks Situs Raos Pecinan di Dusun Raos, Desa Carat, Gempol. Tiga spot terakhir tersebut berada di Pasuruan.
Situs Raos Pecinan hanya berjarak 100 meter dari bibir Kali Porong. Yakni, ditandai dengan dua patung yang berukuran cukup besar. Sayangnya, kondisinya tidak utuh lagi. Berdasar papan kusam yang kami baca, kompleks situs Raos Pecinan dibangun pada era Majapahit.
’’Saya belum tahu pasti fungsi situs itu, masih terus menyelidiki. Yang jelas, ada hubungannya dengan Kali Porong,’’ kata Nino, sapaan akrab Anton Novenanto. Nino adalah lulusan S-1 Sosiologi UGM 2003. Namun, untuk master dan doktor, dia ’’melompat’’ ke bidang antropologi.
Dia lulus S-2 dari Universitas Leiden, Belanda, pada 2009 dan S-3 Universitas Heidelberg, Jerman, pada 2016. Sekarang dia bergabung dengan salah satu LSM lingkungan hidup.
Dalam perjalanan menuju Candi Belahan, Nino bercerita. Menurut dia, candi dan situs tersebut memiliki makna penting. Bangsa Jawa kuno, ucap Nino, selalu membuat penanda untuk mengingat sesuatu. Bila banyak candi dan situs berdiri di sekitar Kali Porong, itu berarti ada peristiwa-peristiwa penting di sekitar Kali Porong. ’’Situs dan candi yang sudah terdata sementara berjumlah belasan,’’ tuturnya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
