Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Juli 2017, 01.18 WIB

Hacker Minta Pertemanan

Ilustrasi - Image

Ilustrasi


JawaPos.com- Berdasar penelusuran Jawa Pos, dari sejumlah kabar hoax yang menyebar di sekitar kita, kebanyakan merupakan modifikasi dari pesan palsu di luar negeri. Yang terbaru, tidak tertutup kemungkinan akan ada versi bahasa Indonesianya, adalah adanya kabar tentang hacker yang meminta pertemanan di Facebook Anda.



Pesan tersebut berbunyi, ”Dear all friend, please tell all the contacts in your messenger list not to accept Jayden K. Smith friendship request. He is a hacker and has the system connected to your Facebook account. If one of your contacts accepts it, you will also be hacked, so make sure that all your friends know it. Thanks. Forwarded as received.”



Pesan tentang peretasan akun Facebook itu belakangan bertebaran di jagat maya. Nama yang dituduh sebagai hacker juga diganti-ganti. Ada yang menyebut Jayden K. Smith, Anwar Jitou, Tanner Dwyer, Nuran Katikoy, dan Bobby Roberts. Meski pesan tersebut sedang beredar luas di sejumlah negara, sampai saat ini belum ditemukan adanya akun Facebook yang diretas karena menambahkan nama-nama di atas sebagai teman.



”Rasanya mustahil hanya karena kita menerima permintaan pertemanan dari seseorang, kemudian akun Facebook kita bisa diretas,” kata I Putu Agus Swastika, praktisi teknologi informasi (TI) yang juga pernah jadi staf ahli Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).



Hal senada diungkapkan dosen Universitas Ma Chung Malang Soetam Rizky Wicaksono. Menurut dia, Facebook saat ini menerapkan sekuritas yang ketat. Ketika ada akun yang terpantau melakukan aktivitas aneh, Facebook akan meminta klarifikasi. Akun akan di-hold dan pemilik akun bakal diminta meng-upload identitasnya.



Praktisi TI asal Surabaya Nuansa Jala Persada menjelaskan, beberapa kasus peretasan akun Facebook biasanya terjadi lewat metode phising. Korban biasanya menerima pemberitahuan, baik lewat e-mail ataupun halaman web lainnya.



Lewat e-mail atau halaman web tersebut, korban ”dipaksa” mengklik sebuah link. Dari sanalah informasi pribadi korban bisa didapat dan digunakan untuk meretas akun media sosialnya, termasuk Facebook.



Kasus lainnya, hacker meretas e-mail korban dulu. Baru setelah itu pelaku melakukan reset password akun media sosial korbannya. ”Kalau sekadar menerima permintaan pertemanan seperti dalam pesan berantai itu, secara logika tidak memungkinkan,” ujarnya.



Selama ini Facebook juga menerapkan sistem pembatasan penambahan pertemanan. Jadi, ketika ada seseorang yang melakukan penambahan pertemanan cukup banyak dalam satu waktu, dia akan dikenali sebagai spam.



Ada memang sejumlah media di luar negeri yang memastikan informasi itu sebagai kabar hoax. Namun, kita yang ada di Indonesia tetap harus waspada. Tidak tertutup kemungkinan pesan hoax tersebut dimodifikasi dalam bahasa Indonesia, lalu disebarkan.



Kalau kabar hoax itu sekadar di-translate dan disebarkan, mungkin tidak akan menjadi masalah besar. Tapi, bagaimana jika nama-nama yang dituduh hacker di atas diganti dengan nama orang tertentu? Lalu disebarkan oknum tidak bertanggung jawab yang belum bisa move on dari pilkada DKI misalnya. Kalau itu yang terjadi, pesan yang sejatinya mudah dikenali sebagai hoax tersebut malah bisa jadi ajang fitnah. (gun/eko/c9/fat)





FAKTA:





  • Sampai saat ini belum ada kasus peretasan akun Facebook lewat metode menerima permintaan pertemanan.




  • Facebook juga belum pernah mengirimkan peringatan tentang nama-nama khusus yang harus ditolak permintaan pertemanannya.








  • Editor: Miftakhul F.S
    Tags
    Artikel Terkait
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore