
Pekerja mengisi ulang mesin penjual otomatis di Tokyo (The Straits Times)
JawaPos.com - Mesin penjual otomatis atau vending machine telah lama menjadi simbol kemudahan di Jepang. Namun, bisnis ini kini tertekan inflasi, kenaikan biaya tenaga kerja, listrik dan distribusi, serta persaingan toko serba ada (toserba). Untuk bertahan, operator mengubah vending machine menjadi kanal ritel yang menjual pengalaman, produk khusus, hingga solusi lingkungan.
Di Yomiuri Land, Tokyo, Uniqlo memasang mesin penjual otomatis yang menjual payung pelindung ultraviolet dan kacamata hitam. Sementara itu, mesin di peron Osaka menawarkan kipas pendingin dan es, sedangkan mesin di Stasiun Odawara menyediakan bento dingin. Produk lain yang kini tersedia melalui mesin tersebut mencakup ramen beku, gyoza, kaviar, daging premium, parfum, permainan puzzle, kartu koleksi, hingga karya literatur.
Dilansir dari The Straits Times, Jumat (14/8/2026), inovasi tersebut muncul ketika jumlah mesin minuman Jepang terus menyusut. Pada 2025, jumlahnya turun menjadi 1,95 juta unit, pertama kali berada di bawah dua juta sejak pencatatan dimulai sekitar tiga dekade lalu. Angka itu turun 20 persen dari puncak 2,47 juta unit pada 2014, sementara volume penjualan rata-rata per mesin merosot hampir 40 persen.
Secara keseluruhan, jaringan mesin otomatis Jepang menyusut menjadi 3,88 juta unit, turun 22,9 persen dibandingkan 2014. Penurunan tersebut menunjukkan mulai tergerusnya posisi Jepang sebagai salah satu negara yang paling identik dengan mesin penjual otomatis. Peneliti senior Sompo Institute Plus, Masato Koike, menilai, era ketika Jepang menjadi "negara adidaya mesin penjual otomatis" telah berlalu.
Kemunduran tersebut terutama dipicu perubahan ekonomi yang membuat keunggulan harga dan kenyamanan mesin semakin sulit dipertahankan. Konsumen kini dapat memperoleh lebih banyak pilihan dari toserba, toko obat, dan supermarket yang memiliki fleksibilitas harga lebih tinggi.
Mesin penjual otomatis juga menghadapi kendala penyesuaian harga karena umumnya bergerak dalam kelipatan 10 yen. Biaya transaksi nontunai sekitar 2 persen, listrik, distribusi, serta tenaga kerja untuk pengisian stok dan pengambilan uang tunai semakin menekan margin.
Tekanan itu memukul perusahaan besar. Coca-Cola Bottlers Japan mencatat kerugian terkait aset mesin penjual otomatis sebesar 88,1 miliar yen pada 2025, sekitar Rp9,9 triliun dengan kurs Rp112,5 per yen. Ito En mengalami kerugian penurunan nilai 13,8 miliar yen dan memangkas jaringannya menjadi 75.000 mesin dari 165.000 pada 2015. DyDo menarik 20.000 mesin yang tidak menguntungkan, sementara Pokka Sapporo menjual seluruh 40.000 mesinnya.
Karena itu, perusahaan mulai mencari fungsi baru. Asahi Soft Drinks telah memasang lebih dari 8.500 mesin dengan material khusus yang dapat menyerap hingga 60 kilogram karbon dioksida per unit setiap tahun, setara penyerapan sekitar 20 pohon cedar. Material tersebut juga diarahkan untuk digunakan kembali dalam industri konstruksi.
Pada 5 Agustus, Asahi menyatakan material hasil penyerapan karbon itu untuk pertama kalinya digunakan dalam beton cor di proyek teknik sipil di Fukushima. Beton yang dikembangkan Obayashi digunakan sebagai fondasi bangunan sementara dalam proyek penyimpanan interim. Inovasi ini membuat mesin penjual otomatis terhubung dengan rantai ekonomi sirkular, bukan sekadar distribusi minuman.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
15 Kata Cristiano Ronaldo ke Lionel Messi Setelah sang Ayah Meninggal Dunia
Biaya Nany Widjaja untuk Lobi Pembelian Tanah Rp 50 M, Harga Tanah Hanya Rp 30 M
Bentrokan di USS Abraham Lincoln: 7 Prajurit Dilaporkan Tewas di Tengah Perang dengan Iran
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
