
Croplife Indonesia memaparkan upaya mereka dalam meningkatkan pemahaman mengenai urgensi adopsi serta pengembangan riset bioteknologi pertanian.
JawaPos.com - Asosiasi nirlaba Croplife Indonesia mempertegas komitmennya untuk mewakili kepentingan petani dan industri benih dan pestisida termasuk lewat edukasi. Direktur Eksekutif CropLife Indonesia Agung Kurniawan mengatakan, pertanian di Indonesia terus dihadapkan pada faktor pengancam produktivitas.
Menurutnya, perubahan iklim serta hama yang semakin kebal pada produk perlindungan tanaman, dan lahan yang semakin berkurang membuat petani sulit memenuhi kuota produksi pangan dan harus mengimpor dari negara lain.
"Pada akhirnya ketahanan pangan nasional kita bisa terancam jika tidak ada intervensi di bidang sains dan teknologi,” kata Agung dalam keterangan tertulis yang diterima.
Agung menuturkan, pihaknya sendiri bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai urgensi adopsi serta pengembangan riset bioteknologi pertanian demi menjaga ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Menurut Agung, saat ini pemerintah Indonesia sudah sangat terbuka dan mendukung upaya-upaya pengembangan inovasi bioteknologi, misalnya budidaya tanaman dan benih bioteknologi atau Produk Rekayasa Genetika (PRG). Namun, proses riset yang panjang dan regulasi yang kompleks membuat distribusi benih bioteknologi di Indonesia cenderung lebih lambat dibanding negara lain.
“Di berbagai negara seperti Filipina, benih-benih dan tanaman bioteknologi sudah diakses petani dan hasilnya juga dikonsumsi publik secara luas berbarengan dengan versi konvensional. Kami berharap Indonesia bisa segera menyusul langkah baik tersebut," tuturnya.
Dalam hal ini, Croplife Indonesia telah berupaya mengadvokasi praktik pertanian modern agar terus mendapat dukungan dari pemerintah dan tentunya mendapat penerimaan baik oleh masyarakat.
"Salah satu aksi kami juga termasuk mengedukasi petani tentang pemakaian produk perlindungan tanaman, melawan peredaran produk palsu, dan tentunya menjaga upaya pertanian berkelanjutan lewat bioteknologi pertanian,” lanjut Agung.
Meskipun benih bioteknologi telah banyak mendapat pernyataan aman dari berbagai lembaga riset dunia, namun masih sering terdapat persepsi yang tidak tepat seputar produk tersebut. Biotechnology and Seed Manager CropLife Indonesia Agustine Christela Melviana menegaskan tanaman dan benih yang dikembangkan dengan ilmu bioteknologi aman dikonsumsi.
“Keamanan bioteknologi telah dikaji secara menyeluruh oleh berbagai lembaga riset dan kesehatan dunia seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), dan Badan Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (EPA). Kalau di Indonesia, kita punya Komisi Keamanan Hayati yang ditopang oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2005 (PP No. 21/2005) tentang Keamanan Hayati untuk Produk Rekayasa Genetika yang memastikan keamanan PRG, baik untuk keamanan pangan, pakan maupun lingkungan,” terangnya.
Sejalan dengan pernyataan di atas, Guru Besar Mikrobiologi dan Bioteknologi Molekuler Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Anggota Tim Teknis Keamanan Hayati KLHK Prof. Dr. Ir. Antonius Suwanto M.Sc. menjelaskan penggunaan benih bioteknologi sangat berpihak pada petani. Teknik-teknik bioteknologi moderen seperti benih PRG ataupun benih hasil penyuntingan gen (genome editing), memang dirancang dan dikembangkan oleh peneliti dengan tujuan untuk meminimalisir potensi hasil kehilangan petani.
“Produk-produk bioteknologi pertanian seperti benih ini sangat berguna bagi petani kecil, karena tanaman akan mempunyai sifat-sifat yang lebih unggul seperti lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem ataupun memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap hama dan penyakit jika dibandingkan dengan benih konvensional/non-PRG. Kalau mengandalkan benih konvensional saja, petani akan sulit bertahan menghadapi perubahan iklim ataupun Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang akan selalu ada dan hal-hal ini akan menyebabkan penurunan hasil panen dari petani. Tentu saja pengelolaan (bioteknologi) di lapang selalu memperhatikan aspek ekologis dan sustainability,” jelasnya.
Anton turut membagikan temuan J. GM Crops & Food yang menyatakan bahwa adopsi benih bioteknologi ke pertanian dunia terbukti meningkatkan pendapatan petani secara signifikan. Di tahun 2020, peningkatan pendapatan petani global mencapai USD 18,8 miliar. Jika dirinci, nilai pendapatan petani di negara berkembang naik 52 persen, petani di negara maju naik 48 persen. Naiknya pendapatan itu berasal dari peningkatan produksi dan penghematan biaya seperti input pertanian (agricultural input) dan biaya operasional lain.
Sebagai gambaran, benih bioteknologi membantu petani melindungi 23,4 juta hektar habitat alami, setara seperti luas Vietnam digabung dengan Filipina dan teknologi ini telah mengurangi emisi gas rumah kaca dengan jumlah yang setara seperti mengurangi 15,6 juta mobil di jalan.
“Bisa dibayangkan keuntungan yang akan didapat jika masyarakat kita lebih terbuka terhadap inovasi teknologi dan tidak mudah termakan dengan mitos yang beredar,” kata Anton.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
