Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 30 Maret 2022 | 00.58 WIB

Menakar Potensi Big Data di Indonesia, Bagaimana Peluangnya?

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Mesin di smartphone kerap kali menghasilkan big data berupa Machine Generated Data (MGD). Misalnya saja, pelacak aktivitas di smartphone akan merekam suhu tubuh, total langkah yang kita ambil hari ini, detak jantung, hingga kualitas tidur kita.

Berbeda dengan MGD, People Generated Data (PGD) adalah data yang dihasilkan manusia. Saat ini, hampir semua orang aktif di media sosial. Orang-orang menghasilkan sejumlah besar data di media sosial seperti Facebook, Twitter hingga LinkedIn.

Selain MGD dan PGD, adapula OGD atau sumber Big Data yang ketiga. OGD dapat kita lihat pada perusahaan taksi yang telah beradaptasi ke layanan daring sebagai contohnya. Data yang dihasilkan organisasi sifatnya sangat terstruktur dan dapat dipercaya. Dari data transaksi penjualan hingga pola produk yang terdigitalisasi, kita akan mengetahui apakah terdapat ketidak transparan atau penipuan.

Perusahaan-perusahaan di Indonesia kini juga telah menerapkan big data untuk semakin meningkatkan value dari produk yang dihasilkan perusahaannya. Dari big data ini mereka dapat mengenal perilaku masyarakat atau pasar yang menjadi tujuan mereka.

Vice President Data Solutions Telkomsel, Mia Melinda membenarkan peran big data sangat penting bagi Telkomsel. Apalagi kini pelanggan Telkomsel mencapai 173,5 juta pelanggan. Apalagi kini Telkomsel juga mengembangkan sejumlah produk yang lain seperti Aplikasi Roli, Telkomsel Orbit dan lainnya.

Lalu bagaimana strategi Telkomsel mengembangkan big data? Mia Melinda menyebut ada pengolahan yang telah dilakukan oleh timnya. “Pengolahan ini ada beberapa tahapan, mulai dari Telkomsel Data Asset, lalu ke Insight Platform, Horizontal Platform, hingga Vertical Platform,” ujar dalam Webinar Selular Congress 2022, Selasa (29/3).

Dirinya juga menyebut digitalisasi mau tidak mau harus kita dukung bersama. “Semua pihak perlu mendukung, dan perlu cepat dilakukan dan di sini big data berperan,” sambung Mia.

Hal senada juga dipaparkan Country Manager Nutanix, Fetra Syahbana yang menyebut big data menjadi isu yang menarik. Fetra Syahbana mengatakan big data ini sangat penting bagi perusahaan untuk semakin cepat memberikan akses pelayanan hingga informasi kepada para pelanggannya.

Fetra menyebut di perusahaan IT Nutanix ada tiga big data yang dikenal yakni Unsctrutured Data, Semi-Sctrutured Data, dan terakhir Machine Data. “Dari tiga tipe data ini trennya akan mengarah ke unsctrutured data yang biasanya digunakan untuk media sosial seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya,” kata Fetra.

Lalu bagaimana cara mengolah big data yang besar tersebut? Fetra Syahbana menyebut di Nutanix memiliki konsep 5 V. “Dari konsep ini kita mengolah data untuk keperluan perusahaan atau bisnis kepada para pelanggan kita. Sehingga Nutanix sangat mendukung digital ekosistem,” imbuhnya.

Di sisi lain dengan margernya Indosat Ooredoo dengan Tri Hutchison atau yang kini dikenal dengan Indosat Ooredoo Huchison atau IOH, mereka kini makin besar untuk mengolah datanya. Vice President Big Data Solutions Indosat Ooredoo Hutchison Julian Mulya Wirawan menyebut kini pelanggan IOH mencapai ratusan juta pelanggan.

Julian menyebut penggunaan big data telah dilakukan IOH sejak tahun 2015 hingga sekarang. “Mulai 2015 sangat simpel untuk hanya melihat performa bisnis Indosat, lalu 2016 untuk real time marketing sistem, di 2017 untuk pengalaman pelanggan,” ujar Julian dalam kesempatan yang sama.

“Kemudian di 2018 kami mulai migrasi data warehouse and bussines intelegence ke hadoop, lalu di 2019 mulai kami jual ke eksternal. Di tahun 2022 yang masih berjalan ini kami mulai membangun dedicated data monetization paltform and data factory on cloud,” sambungnya.

Lantas apa alasan utama kita butuh Big Data? Julian menyebut big data didorong dari bisnis bukan teknologi. Menurutnya, dari setiap data meski kecil pasti ada benefitnya untuk bisnis tetapi harus diingat sistem keamanannya beserta regulasinya.

Marketing Director ZTE Indonesia, Kevin Fang Zihwei juga menyebut pentingnya peran big data dapat membantu pertumbuhan bisnis telekomunikasi. "Bahkan pertumbuhan bisnis telekomunikasi dari tahun 2020 ke tahun 2030 nanti bisa mencapai 13,5 persen," ungkap Zihwei.

Editor: Edy Pramana
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore