Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 18 Oktober 2018 | 17.27 WIB

Gelar Cyber Insight 2018, Kaspersky: Smartphone juga Rentan Di-hack

Acara Cyber Insight 2018 yang digelar Kaspersky Lab di Jakarta, Selasa (16/10). - Image

Acara Cyber Insight 2018 yang digelar Kaspersky Lab di Jakarta, Selasa (16/10).

JawaPos.com - Kaspersky Lab menggelat Security Roadshow Cyber Insight 2018 di Jakarta baru-baru ini. Indonesia menjadi negara terakhir dari 12 kota di Asia Pasifik yang berkesempatan disinggahi acara ini.


General Manager South East Asia, Kaspersky Lab, Yeo Siang Tiong mengatakan, acara ini bekerja sama dengan para customer, analis, dan pakar keamanan siber untuk membahas lanskap ancaman yang mungkin dihadapi negara-negara di Asia Pasifik terkait keamanan siber. "Selain itu acara ini juga mengeksplorasi apa saja kebutuhan sebuah organisasi dalam membangun strategi pertahanan dunia maya yang kuat untuk membantu mengatasi risiko keamanan," ujarnya demikian.


Selain membahas ancaman keamanan siber yang nyatanya mungkin menyerang data penting perusahaan besar, Director Global Research & Analysis Team APAC Vitaly Kamluk dalam kesempatan yang sama menyebut bahwa keamanan siber di smartphone juga tidak kalah pentingnya. Pasalnya, smartphone saat ini seperti benda yang menyimpan 'separuh hidup' manusia yang perlu dijaga.


"Smartphone dengan segala kecanggihannya kini menjadi akses. Terutama untuk autentikasi dua langkah sebagai pintu untuk pengembalian akun saat pengguna kehilangan password,
aplikasi m-banking, dan sebagainya. Kini semua ada di smartphone. Hal ini berbahaya, sebab bisa disalahgunakan untuk perampokan," jelas Kamluk.


Dia menambahkan, smartphone yang tidak aman sama saja seperti memberikan 'nyawa' kepada hacker. Pasalnya, berbagai akun digital penting milik pengguna sudah umum digunakan masyarakat di era digital ini. Dengan penyebaran malware yang semakin canggih, ini menjadi alasan smartphone menjadi target sehingga harus dilindungi.


Guna memperkecil peluang smartphone terjangkit malware yang berpotensi merugikan pengguna, Kamluk menyarankan pengguna untuk tidak mengunduh dan memasang aplikasi secara sembarang. Apalagi buatan developer yang belum dikenal. Selain itu, pengguna juga disarankan tidak melakukan aktivitas yang melibatkan informasi rahasia di peramban smartphone saat terhubung dengan jaringan internet publik.


Untuk Indonesia sendiri, dia menyatakan bahwa saat ini jumlah serangan siber di Indonesia masih tidak terlalu banyak. Salah satu faktornya adalah karena Indonesia dinilai masih belum terlalu penting di mata peretas. Selain itu, Indonesia juga tidak memiliki banyak server penyimpan informasi berharga, seperti negara tetangga, Singapura.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore