Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 November 2021 | 18.59 WIB

Burung Beo Ade

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Naik bus malam enakan dulu di awal-awal pandemi. Penumpang jauh-jauh. Walau sejauh-jauhnya tetap saja masih dalam satu bis, setidaknya kita ndak harus ngobrol. Ngobrol dengan kenalan baru kan belum tentu nyambung. Kita penginnya ngomongin Panglima TNI yang baru, eh, yang di samping malah pengin kita menyimak soal istri barunya.

---

KITA lagi ingin memancing-mancing perbincangan soal orang-orang yang baru ditangkap Densus 88, tahunya sebelah kita malah asyik menceritakan tangkapan ikannya di empang.

“Kalau umpan kita tak dimakan-makan ikan, jangan marah-marah. Itu pertanda ikan masih kenyang. Masa manusia yang kelaparan marah-marah sama ikan yang tidak lapar? Mana keadilan sosialnya? Bodoh boleh. Goblok jangan!”

Oh, bodoh dan goblok tidak sama?

Itu pengalaman Sastro naik bus malam. Ia gagal paham akan perbedaan itu. Kalau beda pandir dan dungu sedikit banyak suami Jendro itu masih ngehlah. Menuntut setahun penjara seorang perempuan yang marah-marah ke suaminya gegara suami itu mabuk, mungkin istilahnya pandir. Tak tahu kenapa penuntut macam itu bisa disebut pandir? Nah, ini dungu.

Walah, kebalik nggak, ya? Jangan-jangan malah bukan pandir, bukan pula dungu? Tahu ah, bingung.

Sastro toh cuma menerima penjelasan masalah perbedaan dungu dan pandir itu dari Banjir Sintang, nama burung beonya tetapi yang lebih kerap disapa Ade, singkatan dari Akibat DEforestasi. Ade tentu tak bisa dipercaya. Yang sekarang layak dipercaya kan cuma “Netizen Yang Maha Tahu”.

*

Sastro tergolong orang yang bermakmum kepada sopir, termasuk sopir bus malamnya. Sreg atau tidak ia kepada sopir bus yang membawanya, pokoknya tetap ngikut sopir.

Ia cuma sedikit mangkel pada sopir yang terkesan cuek pada penderitaan penumpangnya. Masa, sih, dari spionnya tak bisa ia lihat mana penumpang yang santai, dan mana penumpang yang stres gegara diajak ngobrol sama kenalan baru sebelahnya tapi omongannya kayak rel kereta, jarang sekali ketemu. Kalau pun ketemu cuma di persimpangan, bukan di depan penghulu.

Malam itu, di bus malam Surabaya – Jakarta, Sastro sedang ingin bicara kepada dirinya sendiri. Ia ingin merenung, kenapa Tuhan memperpanjang umurnya. Dua sejawatnya di bisnis sebidang sudah dipanggil. Sastro bukan saja masih sehat, kini bahkan masih sanggup bepergian dengan bus malam.

“Saya itu bingung dengan asam urat saya, Mas,” celetuk penumpang di sebelahnya, membuyarkan lamunan Sastro. “Katanya obat-obatan apa pun akhirnya berbahaya buat ginjal. Asam urat ini akibat kerja ginjal kurang beres. Asam uratnya sembuh karena obat, tapi ginjal lama-lama makin parah juga.”

Sastro melanjutkan lamunannya. Sejawatnya yang bergerak di bidang pembuatan kebun di halaman-halaman belakang rumah dua-duanya sudah berpulang. Penyebabnya sama. Mereka didatangi oleh tiga anggota keluarga, ibu dan dua anaknya, untuk “mem-forestasi” kecil-kecilan pekarangan belakang rumah mereka. Pagi ini mereka datangi, besok siangnya meninggal. Sahabat yang satunya lagi persis sama. Malam ini mereka datangi, besok sorenya dikubur.

“Herbal katanya lebih bagus, Mas,” penumpang sebelah itu mulai ngomyang lagi. Lamunan Sastro kembali ambyar. “Daun salam. Iya, Mas. Itu lho, yang sering dipakai masak rawon. Semur juga. Perkedel juga …Eh, perkedel nggak, ding, pakainya daun bawang, daun seledri.”

Kembali ke Sastro. Kenapa Sastro masih panjang umur? Bukan karena daun salam, seledri dan teman-temannya. Tapi karena keluarga yang mendatangi Sasro buat job bikin kebun itu tidak datang lagi bertiga. Setelah kalau bertiga keluarga itu mendatangi perancang kebun maka perancang kebun itu meninggal, mereka membaca pola. Mereka punya firasat.

*

Suatu hari keluarga itu nonton wayang orang Sriwedari. Si bungsu tidak mau ikut sebab lebih memilih pergi ke bioskop nonton film Korea. Lagian, si bungsu ini tak yakin bahwa wayang adalah tradisi asli Nusantara. Ia lebih yakin wayang adalah jati diri Malaysia, seperti iklan sebuah sepatu barusan. Nah, ini dia. Kesempatan! Dari Sriwedari, walau sudah larut malam, si ibu dan si sulung bertandang ke Sastro.

“Problemnya dengan daun salam, Mas,” duh teman sebelah Sastro bicara lagi. “Daun salam itu juga punya khasiat menurunkan tekanan darah. Di sini letak masalahnya. Saya ini orangnya darah sudah rendah.”

Duh. Sastro berpikir, benarkah sampai sekarang ia punya jalan keluar untuk terus hidup gegara keluarga yang menyambanginya untuk bikin kebun tidak lengkap bertiga, tapi cuma berdua?

“Jalan keluar itu ada, Mas… Daun salam direbus tidak dengan air biasa. Dengan air garam. Heuheuheu. Ini nasihat Ade …Dia dokter. Dokter tapi suka herbal.”

Atau, pikir Sastro, jangan-jangan bukan karena air garam itu, eh, bukan karena keluarga itu datangnya berdua, maka umurnya masih ada? Jangan-jangan Tuhan cuma ingin agar di tengah deforestasi besar-besaran ini tukang “forestasi” kecil-kecilan tidak terlalu banyak yang Dia matikan. (*)

---

SUJIWO TEJO

Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore