Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Juni 2021 | 21.20 WIB

Penginapan Mayat Hidup

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Jalan keluar dari kangen adalah pintu masuk yang kaulupakan, Kekasih…

---

ENTAH segunung apakah rasa kangen Sastrajendra, mantan pendekar papan atas, terhadap putri angkatnya, Tingting Bocah. Begitu saja Pendekar Elang Langlang Jagad, induknya, pasrah bongkokan kepadanya, meninggalkan Bocah bersamanya pada ketinggian gunung salju mirip di Tibet. Pamitnya, Elang akan menembus lorong waktu. Akan disambanginya Negeri Nusantara yang sedang dilanda musim tiga periode.

Sastra tak bisa menampik. Utang budi tak bisa ditepis. Saat itu, dalam kepungan halimun, Pendekar Elang Langlang Jagad baru saja menyelamatkan Sastra usai mengalahkan 1.000 jawara pendukung pemimpin dua periode suatu kadatuan. Di pengujung kemenangannya, tubuhnya berantakan. Elang menyusun kembali satu per satu tubuh Sastra.

Bocah titipan itu kini tiada. Sudah berbulan-bulan. Matahari terbit. Matahari tenggelam. Burung pungguk yang dikenalinya di para-para pun sampai sudah bosan merindukan rembulan. Pamitnya, Bocah akan berguru kepada Pendekar Bra, pendekar muda dengan gelung rambut di atas.

***

Sastra berpikir tentang Si Gelung Atas. Tentang Tingting Bocah juga. Juga tentang Tingting Jahe. Sastra, mantan kekasih Tingting Jahe yang sudah bagai bulek sendiri bagi Tingting Bocah itu, menggambar banyak adegan di benaknya. Tergambar Bocah dan Bra yang baru lolos dari mangsaan macan putih raksasa. Mereka bahkan menyelamatkan perawan suatu kadatuan yang sedianya akan dikorbankan dalam upacara persembahan buat si macan putih.

Lolos, sih, lolos. Tak dinyana, kelelahan yang teramat sangat melanda mereka. Negosiasi nonraga dengan macan putih baru mereka sadari sangat melelahkan. Jauh lebih menguras tenaga ketimbang negosiasi raga sebelumnya melalui pertempuran dengan sang macan. Baru separo bukit perjalanan lanjutan saja, mereka memutuskan untuk menginap.

***

Penginapan Teratai

Terpampang depan pondok itu. Tulisan pada papan kayu kelapa. Huruf-hurufnya terangkai dari kembang teratai. Magis sekali aksara dari era sebelum Hanacaraka itu.

Semacam resepsionis. Kepalanya berhias bulu-bulu merak. Mulutnya terkatup, tapi bersuara, ”Kisanak akan bermalam di sini? Sudah berapa lama Kisanak mati?”

”Hah? Kami masih hidup,” dengan rada-rada bingung Bra sekalian mewakili Bocah menjawabnya.

”Resepsionis” garuk-garuk kepala. Fantastis, bulu-bulu merak di kepalanya tidak rontok ke lantai marmer merah darah. Malah beterbangan perlahan-lahan. Aneka warna dari ungu sampai jingga bulu-bulu itu sambil beterbangan membentuk bibir. Mentok di plafon mereka senyum-senyum, ”Kami bukan virus. Jangan disalahpahami. Di pondok ini semua yang menginap sudah meninggal sebelumnya. Ada yang sudah kedaluwarsa. Yang masih fresh juga banyak.”

”Tapi, kami ini hidup, lho!” Tingting Bocah mulai nyolot.

Lelaki sepuh yang menyertai Bra dan Bocah tak bisa menahan diri. Ia merasa tercemar nama baiknya disebut mayat. Tendangan kakinya berputar tiga periode mengarah ke kepala ”resepsionis”. Eh, luput. Kepala itu ujug-ujug sudah berpindah menjadi kepala patung Kiritaceko di pintu masuk, patung semacam loro blonyo di zamanmu. Tubuh tanpa kepala ”resepsionis” megal-megol. Kelihatannya bercanda. Namun, frekuensi goyangannya cukup membuat Bra, Bocah, dan lelaki sepuh terhuyung-huyung.

Saat terhuyung-huyung gontai mendekati Kiritaceko, kesempatan tak disia-siakan lelaki sepuh. Dengan Jurus Tiga Periode Cahaya ia arahkan telapak tangannya yang bersinar ke kepala Kiritaceko. Eh, luput lagi. Bra heran. Bocah pun takjub. Kepala ”resepsionis” itu ujug-ujug telah menyatu lagi dengan tubuhnya di meja penerima tamu. Tubuh telah bergabung dengan kepalanya, kini mbeliyut-mbeliyut hingga mewujud guci gemuk. Ukiran naga penuh di sana-sini. Di dalam guci tertumpuk dedaunan senilai ribuan triliun rupiah.

”Aku bukan dana bansos yang dikorupsi!” tegas guci walau gemulai. ”Aku tetaplah aku, penerima tamu tadi. Sekarang coba kalian ingat-ingat lagi. Kalian ini masih hidup atau sejatinya sudah mati? Banyak orang lupa, merasa masih hidup, padahal sudah mati. Misalnya, kalian mati dibunuh oleh seekor macan putih raksasa? Lupa? Mustahil kalian tergerak ke penginapan ada yang tiada ini andai belum menjadi mayat.”

***

Pagi sarapan di kedai Penginapan Teratai, Bra semeja dengan perempuan yang ekornya di rambut kuda. ”Matiku tujuh hari yang lalu,” ketusnya. Ia melahap telur mata setan. ”Begitu pengadilan adat memvonisku jauh lebih rendah dari tuntutan, begitu aku mati. Hakim-hakim adat dan seluruh jajarannya pun mati. Mereka sekarang lagi makan lodeh lidah iblis di meja ujung belakang kalian itu. Lihat. Menolehnya jangan semata-mata.”

Di toilet kedai, di sela-sela sarapan, Tingting Bocah mendengar suara ganjil dari bilik sebelah. Suara perempuan pipis. Kok, bunyinya tak seperti air mancur? Pancurannya malah terdengar seperti merantaknya kebakaran pasar.

”Situ nguping, ya?” perempuan di dalam bilik berseru. ”Ya, sudah, gak papa. Heuheuheu… Dulu semasih jaya-jayaku hidup, aku memimpin kadatuan, tapi gagal memberantas wabah…”

Di pekarangan belakang penginapan, Bra menemukan mawar jatuh di tanah. Diulurkannya kepada Bocah dengan rasa kangen yang tandas ke tulang, seolah di alam baru ini mereka lama tak jumpa.

”Ibuku wanti-wanti, jangan pernah biarkan mawar tergeletak di bumi. Persembahkan kepada yang berhak,” Bra berbisik. (*)




SUJIWO TEJO

Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore