
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Hewan undur-undur melangka. Mereka lelah. Buat apa hidup bila tak pernah dicontoh manusia untuk mundur sebelum reshuffle.
---
ADALAH petinju legendaris kelak pada zamanmu. Kakinya indah selincah kijang kencana. Namanya Cassius Clay. Ia kemudian hijrah menjadi Muhammad Ali. Lantaskah ia menjelek-jelekkan keyakinan lamanya dan sebaliknya bila pindah dari Ali ke Cassius? Tergantung sendiri padanya. Terutama juga tergantung pada khalayak. Apakah khalayak pada zamanmu rada-rada murahan sehingga mau-maunya nanggap orang yang menjelek-jelekkan keyakinan lamanya.
Ah, itu terlalu serius. Mari ke yang ringan-ringan saja.
Kabar burung beredar kala itu. Datang seekor nyamuk di pipi putra kesayangan Ali. Hap! Lalu ditepuk. Ali tidak lupa pada harga dirinya sebagaimana bangsamu melupakan itu. Ali hanya lupa, dia ini petinju nomor wahid di dunia boksen seperti Pendekar Sastrajendra di dunia persilatan kini. Seminim-minim tenaga tepuk Ali, tetap saja sekuat-kuatnya tenaga rakyat kecil teraniaya saat manunggal menumbangkan rezim yang lalim. Gugurlah sang putra.
Heuheuheu…. Namanya kabar burung, tentu saja patut diduga ngibulnya ngegas banget. Sedangkan kabar berikut ini sungguhan.
***
Pendekar Bra ngamuk saat tahu dari seruan seekor monyet betapa kekasihnya, Tingting Jahe, menyembunyikan sesuatu. Ia berang. Kendalinya lepas. Bra tahu bahwa Jahe tahu gadis bermata sendu-sendu tajam yang sepenghunian mereka di Gua Hantu bukanlah Hacob Ngiting. Dia Tingting Bocah! Itulah putri angkat pendekar nomor perdana yang selama ini dicari-carinya tak semudah mencari koruptor kakap di tumpukan jerami, dicari-carinya untuk ditantang bertarung merebut sabuk tinju, eh, untuk merebut gelar pucuk kependekaran: Sastrajendra!
Pulang-pulang dari latihan persiapan tarung di bawah pohon sidoguri, Bra tidak menampar kekasihnya. Memang, saat itu belum ada lagu Hati yang Luka Betharia Sonata tentang kaum Kartini yang mengadu ”lihatlah tanda merah di pipi bekas gambar tanganmu”. Toh Bra sudah sangat menghargai perempuan. Seombak apa pun marahnya bergejolak, pendekar muda yang kelak mirip pebola Ibrahimovic ini tak sedikit pun main tangan, apalagi ludah.
Bra dengan gelung rambutnya yang khas di atas itu cuma duduk mencangkung, bersandar sebatang pohon bayam. Menggeram-geram. Giginya gemeletuk. Dia lupa. Dia itu pendekar sekelas, bahkan lebih dari kelas, Pendekar Sastrajendra, pendekar bangkotan yang bisa jadi belum seberuntung dia lantaran sudah menyimak jurus-jurus silat ter-update dari Kitab Mas Elon. Kabar burung tentang Ali di zamanmu kelak kini berlaku mundur pada Bra.
Ya, hanya geraman. Namun, siang itu, getaran dari gemeletuk gigi bukan lelaki biasa itu menumbangkan pohon-pohon raksasa di sekitar mulut gua, kecuali pohon bayam yang disendeninya. Dari dalam gua partai-partai kelelawar beterbangan seperti mimpi di siang bolong. Sebagian kecil penyet bak koruptor teri. Mereka digenceti pohon tumbang. Sebagian besar lolos bak koruptor kakap. Dinding-dinding gua mulai retak. Bukit bergua itu pun mengambruk.
Bra hendak berlari ke dalam gua yang telah raib bersama reruntuhan bukit. Ia lompati sungai dan rasa cemasnya dengan meneriak-neriakkan penuh tangis nama kekasihnya. ”Jaheeeee….!!! Jaheeeeee…….” O, pendekar muda dengan bidang dada paling pas untuk menyangga tangis perempuan itu akhirnya putus asa.
Dengan patah semangat ia kembali menyandar sebatang bayam ketika diterawangnya Tingting Bocah sudah berdiri nun jauh di dahan pohon tumbang. Iya, itu Tingting Bocah. Walau jauh, Bra mampu melihat tiada segores pun gadis manis itu terluka berkat jurus Jauh di Mata Dekat di Hati. Bra juga mampu melihat rambut ikal mayangnya bahkan bersih dari debu-debu reruntuhan. Hanya di kedua tangannya tergendong lunglai perempuan dengan pinggang aduhai. Tubuhnya penuh darah. Puing-puing stalaktit menancap di sana sini. Tingting Jahe! Bra merapal ilmu peringan tubuh, terbang 99 kali lebih cepat dari kelelawar yang ketinggalan partai.
***
Menolong Bra merawat luka-luka Jahe yang masih semaput, Bocah mengingatkan jangan mengoleskan bongkahan garam merah lontaran Gua Hantu. Menurutnya, menggarami luka jauh lebih memerihkan daripada mengimpor garam ke dukuh penghasil garam.
Eh, melihat Bra tak senang digurui, Bocah segera menghaturkan terima kasih kepada pendekar itu. ”Engkau telah memberiku ilmu yang ….yang …yaaah … lumayanlah…Gila! Geraman saja sudah meruntuhkan bukit ………………”
”Aku tak pernah mengajarimu apa-apa,” Bra ketus. Matanya terus terpusat pada penyembuhan luka-luka Jahe.
”Betul. Tapi, kupakai Jurus Kaca Wirangi ajaran ayah. Engkau pamerkan jurus apa pun di hadapanku, jurus itu sudah ada padaku bagai hukum pencerminan.”
”Sial! Menggeram-geram kau anggap aku pamer. Tadi aku hanya lelaki yang marah pada kekasihnya. Jauh dari maksud pamer.”
”Apa pun!”
”Aku akan menantang tarung Pendekar Sastrajendra. Sampaikan, semoga beliau masih kukuh pada nilai-nilai dunia persilatan untuk pantang menolak tantangan. Monyet itu (menuding ke pohon) bilang, kamu putri angkatnya. Jangan menyangkal.
”Aku tak menyangkal, tapi ayah sudah mundur dari dunia persilatan!”
Bra bak disambar petir, ”Mundur sebelum ku-reshuffle?” (*)
---
SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=gvShSz1pkzM

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
