Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 April 2020 | 03.23 WIB

Macan Ompong dan Kambing Hitam

Sujiwo Tejo - Image

Sujiwo Tejo

PENGEMBARAAN membawa macan ompong ke kompleks perhutanan asing, kompleks yang ia belum pernah dengar siapa developernya. Bulan separo bayang. Cerminannya pucat pada riak-riak sungai. Sesampai di tepi sungai ini, macan ompong itu mendengar lamat-lamat teriakan ’’luhuuuut...luhuuut...!!!’’

Seketika macan bersembunyi. Menyelusupi semak-semak. Tadinya di kompleks perhutanan Karantina Region-19 itu tak ada selembar pun daun bergerak. Kini semak-semak tepi kali mulai bergerak-gerak. Walau tak ada pikiran buruk, seluruh firasat dan nalurinya bersepakat tanpa voting untuk me-lockdown macan ompong agar waspada. Keduanya tak ingin menunda-nunda kewaspadaan, apalagi sambil cengengesan.

Bagi kambing hitam, selain kisah macan ompong itu tak ada lagi kisah yang lebih mencontohkan petualangan tragis. Efeknya sangat besar dibanding cerita tentang banteng Baluran yang tersesat di negara api, lakon tentang koyak moyaknya banteng hanya oleh cabikan satu kuku naga bayi, dongeng yang pernah diceritakan pamannya sebelum esoknya disembelih untuk syukuran pembebasan napi-napi gegara wabah.

Efek lakon tentang macan itu terasa melalui bibir kambing hitam yang mendadak memutih seperti dalamnya masker yang kelamaan ditimbun.

Sekejam-kejamnya naga, walau baru bayinya, makhluk itu masih tampak. Kita bisa lari. Peluru para pemburu pun, yang tak kelihatan saking lesatnya, masih bisa dihindari dengan lompatan ngawur begitu terdengar ’’dor’’. Sedangkan yang dihadapi macan ompong di semak-semak tepi sungai itu tak kasatmata dan tak terdengar telinga: virus!!!

Tak sampai semingguan, kawanan gajah yang melintasi tepian sungai itu mengendus bau bangkai macan.

Selama ini, kambing hitam sudah tak tahan dengan sindiran-sindiran yang melelahkan dari para gajah bahwa ia jauh lebih lemah bukan saja dibanding macan. Bahkan dibanding macan ompong yang lebih jinak ketimbang tukang kritik setelah diberi jabatan. Padahal, macan ompong saja bertekuk luhut, eh, lutut di hadapan paduka virus.

Energi kambing hitam selama ini habis untuk merenung-renung apakah lenguhan gajah padanya suatu malam adalah sebuah sanjungan atau cibiran, atau pelesetan-pelesetan yang tak disengaja di antara keduanya. Saking jengkelnya, suara kambing hitam itu tak lagi mengembik. Suaranya kemresek seperti suara macan kertas yang diremas-remas oleh TKA dari Tiongkok.

Kebisingan yang paling mengusik kambing hitam itu adalah desas-desus para hewan lain: betulkah lamat-lamat suara yang membuat macan ompong itu waspada adalah ’’luhut ...luhut..’’? Jangan-jangan sebenarnya ’’lulut ...lulut...’’ yang berarti jinak, jinak, yaitu seruan dari developer Karantina Region-19 agar buruh-buruhnya manut pada ketentuan Omnibus Law, rancangan undang-undang yang tetap dibahas dengan penuh semangat di tengah pandemi virus.

Kambing hitam sesuai nasibnya akhirnya berkesimpulan, teriakan ’’lulut’’ lebih masuk akal terdengar saat rembulan separo bayang. Kesimpulan ini diamini oleh satu citra alam yang tampaknya akur, yaitu jalin kelindan pohon penjalin yang mengangguk-angguk. Adanya kemungkinan makna lain dari gerakan penjalin itu belum kambing hitam telusuri.

Hari menelusur pekan. Pekan menelusur bulan. Kambing hitam melangkah ke depan kandangnya dan mempersilakan pasangan Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro masuk. Sebagai jenis makhluk yang kalah jauh dibanding macan, dan kini sedang berhadapan dengan makhluk lain serumpun macan, perilaku tuan rumah ini sungguh sangat mengesankan: jelas masih terpukul oleh cerita itu, namun dia tetap tenang, penuh hormat, dan tidak berbasa-basi.

’’Baiklah, Raja dan Ratu, saya keliru. Teriakan malam itu bukan ’luhut’, bukan pula ’lulut’ ...tapi hanya kesunyian, seperti cahaya bulan separo bayang.’’

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS



*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore