Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Maret 2022 | 16.50 WIB

Terwelu Menguping Konvoi

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Cucu Sastro-Jendro ngambek. Tebak-tebakan bareng sebayanya sesama kelas 1 SD berakhir ia mutung. Ia menjawab, fungsi sepeda motor adalah untuk dinaiki papanya ke pasar saat disuruh mama beli minyak goreng. ”Salah…” tukas temannya.

---

Sepeda motor itu fungsinya buat konvoi atau kebut-kebutan…dibuka oleh presiden.”

”Heuheuheu… Sebetulnya kamu tidak salah, Cuk,” Sastro mengadem-adem cucunya. Pergi ke pasar, monyet Sarimin dalam tandak bedes bisa. Suami-suami juga bisa. Mereka ada yang naik sepeda motor atau motor kalau bahasa Jakartanya. Di situlah fungsi sepeda bermesin tersebut. Bisa juga buat ngangkut sayur, ngangkut susu sapi, ngangkut rambut kambing, dan sebagainya.

”Tapi, kok, aku disalahkan, Opa?”

”Temanmu tidak menyalahkan. Jangan keburu ngambek. Temanmu sebetulnya cuma mau bilang, motor selain bisa bermanfaat untuk mengantar Sarimin pergi ke pasar, juga bisa bermanfaat untuk leha-leha, keliling beregu ramai-ramai buang-buang bahan bakar… Namanya konvoi. Bisa juga bermanfaat untuk balapan.”

Cucu Sastro mantuk-mantuk.

”Pemimpin bangsa biasanya meresmikan yang balapan dan konvoi ini. Tidak ada sejarahnya motor untuk pergi beli minyak goreng di pasar yang startnya pakai dikibasi bendera pejabat… Apa pun itu, mengantar orang pergi ke pasar, ke sawah, ke mertua, tetap sah disebut sebagai fungsi motor.”

”Tapi temanku tadi jelas-jelas bilang ’salah’. Fungsi motor untuk mengangkut papa ke pasar… Salah…”

”Mungkin maksudnya bukan ’salah’, tapi ’salah satu’… Ya, selain buat trek-trekan, salah satu fungsi lain motor memang buat mengantar papamu belanja minyak goreng disuruh mama.”

”Dia nggak bilang ’salah satu’… Bilangnya ’salah’!”

”Ya, namanya anak kecil sebayamu, memang seperti itu. Kosakatanya masih terbatas. Dendamnya terbatas, tidak tak terhingga seperti dendamnya seumuran papa-mamamu. Iri dan dengkinya juga terbatas. Anak-anak seusiamu mudah memaafkan sebab dendamnya terbatas. Tapi kosakatanya juga terbatas. Maksudnya ’salah satu’, kata-kata yang keceplos cuma ’salah’.”

***

Kakek benar, dendam anak kecil memang seperti kosakatanya, terbatas. Beda dengan dendam cebong ke kampret dan sebaliknya dalam dunia politik yang bisa berjilid-jilid. Dendam keduanya tanpa batas, seperti tak terbatasnya kosakata makian kedua pihak.

Lihatlah! Tak sampai sejam kemudian kedua bocah itu sudah main tebak-tebakan lagi. ”Tak ada tapi murah. Ada tapi mahal… Apa hayo?” teman cucu yang tadi ngasih tebakan lagi.

”Minyak goreng!” sang cucu langsung menyahut.

”Salah!”

”Maksudmu ’salah satu’, apa ’salah’ saja?

”Salah saja!”

Kembali cucu Sastro-Jendro mutung. Ia ngambek. Kali ini yang ketiban sampur neneknya, Jendro. ”Makanya, apa-apa mbok dipikir dulu. Jangan terburu nafsu untuk menanggapi,” nenek mengacak-acak ubun-ubun cucunya yang ini.

Hubungan si cucu dengan nenek memang lebih dekat ketimbang dengan kakeknya. Nenek tak perlu mengadem-adem cucunya yang satu ini. Nenek ngomong terus terang saja. Apa adanya. Sepahit apa pun, cucu kesayangannya ini pasti bisa terima.

”Lho, aku, kan, bener, Nek? Tak ada tapi murah. Ada tapi mahal. Hayo, apa coba kalau bukan minyak goreng?”

”Hadeuuuh…. Cuuuuk…. Mahal itu relatif. Bagi orang-orang yang naik motor untuk bekerja, minyak goreng mahal. Tapi, bagi yang naik motornya untuk foya-foya? Murah! Makanya, lain kali kalau mau menjawab pertanyaan itu dipikir dulu.”

***

”Berapa persen penduduk Indonesia ini yang naik motornya untuk membanting tulang, dan yang naik motornya cuma untuk menghambur-hamburkan duit?”

Si anak SD kelas 1 cucu Sastro-Jendro sudah akur lagi dengan teman sebayanya tadi. Mereka kembali main tebak-tebakan. Tapi, kali ini yang bertanya cucu Sastro-Jendro.

”Duh, berapa persen ya?” si teman sebaya pusing.

Bukannya tak mampu menjawab, ia hanya ragu-ragu. Takut ada yang nge-upload di internet. Bisa gempar. Nanti bisa banyak netizen protes.

Soal penyalahgunaan big data sekarang lagi ramai-ramainya. Dan analis medsos sangat banyak. Dibilang, dari percakapan 110 juta warga pengguna medsos bisa disimpulkan bahwa mereka setuju penundaan pemilu. Beberapa analis langsung menyalak, ”Bohong! Dari 110 juta pengguna medsos cuma 10 ribu orang yang membahas penundaan pemilu!”

Si teman sebaya misal menjawab, ”Persentase pengendara motor yang cuma buat mejeng sangat sedikit. Sebagian besar menggunakan motornya buat bekerja, ngojek, dan lain-lain.”

”Bohong! Big data kami menghitung, hampir seluruh pemilik motor menggunakan motornya cuma untuk senang-senang. Ada memang yang buat bekerja, tapi selepas untuk kerja, motor itu mereka pakai untuk senang-senang…kencan… nobar bola…nonton dangdut…beli bakmi…. Pokoknya sama dengan konvoi dan balapan… Cuma buat senang-senang.”

Terwelu senyum-senyum. Baginya, senang-senang atau bukan itu relatif. Bagi pembalap, balapan itu kerja. Bagi para petaruh balapan, taruhan itu kerja. Bagi pejabat pengibas bendera start, mengibaskan bendera itu kerja… Bila 270 juta warga semuanya adalah petaruh, mengibaskan bendera start balapan atau konvoi berarti kerja menabung suara buat pemilu mendatang. (*)

SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore