
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Bineka kadal di rumah pasangan Sastro-Jendro semula rukun. Maksudnya rukun yang dinamis. Pertengkaran-pertengkaran tentu ada. Sangat manusiawi, eh, sangat kadali.
---
TAPI semuanya berakhir damai. Itulah perdamaian yang mengalir. Bukan tenteram seperti got yang airnya mandek malah jadi ibu kota nyamuk.
Suatu hari bunglon dikata-katain tak punya prinsip oleh kadal umum. Cakar-cakaran. Toh akhirnya damai juga. Gelar perdamaian dimeriahkan musik kodok dari genangan sawah. Di sebelahnya, di tembok putih, bunglon merespons musik alam itu dengan unjuk diri warna merah. Di tembok yang merah, mungkin temboknya PDIP, kadal pemanjat itu unjuk warna putih.
Ayam-ayam tertawa menyaksikan semuanya. Bukan cuma manugaga, ayam khas Sulawesi Selatan yang kokoknya mirip tawa manusia. Ayam-ayam kampung, ayam potong, sampai ayam bekisar pun kompak menjadi ayam ketawa.
Sastro jadi teringat guru meditasinya dari Mendut. ”Banyak manusia bermeditasi untuk mencari ketenangan,” dawuh sang guru. ”Sedikit keliru itu.”
Baginya meditasi justru membiarkan seluruh pikiran diri berkecamuk, berbenturan, karena saling bertentangan, saling membantah dan mementahkan. Yang penting, pada akhirnya sang meditator menyadari bahwa sejatinya dalam dirinya ada bersemayam tak hingga konflik.
”Cuma menyadari tok, Mas Sastro? Ndak lapo-lapo. Yo kecuuuut, Reeeek!” sanggah Jendro melengos.
”Lho, jangan menyepelekan kesadaran, Dik Jendro. Kamu anggap yang besar itu hanya perkara pemindahan ibu kota, yang konon ada pejabat tinggi yang tak tahu bahwa di situ masih ada wilayah konsesi tambang? Tak itu saja…. Menyadari apa pun itu, dari cucunya kadal sampai nenek moyangnya dinosaurus, itu juga perkara besar. Coba sekarang kamu marah.”
”Lha, ini aku sudah marah karena soal kecut itu tadi.”
”Oke, sekarang tetaplah marah, tapi tambahi dengan kesadaran bahwa kamu sedang marah. Hasilnya beda!”
”Bedanya?”
Sastro cepat-cepat menyeruput kopi yang hampir saja cangkir dan tatakannya mau diberesi oleh istri ngambeknya. ”Bedanya…” Sastro di antara seruputan kopi. ”Marah dengan kesadaran bahwa sedang marah adalah marah yang tertakar. Ini bedanya.”
***
Sastro benar. Pekan lalu Jendro memarah-marahi asisten rumah tangganya gegara memecahkan miniatur terakota kerangkeng manusia. Di dalamnya ada ”warga binaan”.
Prang!!! Reketek reketek reketek!!!! Pecah berkeping-keping di lantai.
Jendro bertolak pinggang. Wajahnya merah padam. ”Kamu tahu nggak? Ini harganya tak ternilai, Cuuuuk!!! Kalau cuma miniatur kerangkeng punya penegak hukum kayak kepolisian, kejaksaan, lembaga pemasyarakatan, kamu pecahkan sekarang, sekarang juga aku bisa beli gantinya. Ini miniatur kerangkeng di luar lembaga-lembaga penegakan hukum. Tak ada lagi yang jual!! Langka, Cuuuuuuk!!!”
Andai Jendro sadar bahwa ia sedang berangkara, angkaranya akan terukur. Marahnya bukan karena kebendaan maupun sengit menakar-nakar harga barang antik tersebut. Wong semua cuma titipan. Marahnya untuk mendidik asistennya agar lain kali lebih berhati-hati. Di dunia ini tak ada yang abadi. Tak ada jaminan akan selamanya asisten itu ikut Jendro. Jendro marah agar kelak, kalau asistennya bekerja untuk orang lain, tak mengulangi kesembronoan seperti saat ini.
”Ya, sudah, Mas Sastro, kalau begitu sebaiknya aku ndak usah marah-marah lagi…”
”Lho, ya jangan begitu. Malah nggak manusiawi. Hidup itu meditasi yang tak selesai-selesai. Ingat pesan guru kita di Mendut, tujuan meditasi bukan untuk mencari kedamaian. Tapi menyadari adanya ketidakdamaian. Menyadari adanya kemarahan. Marah ketika minyak goreng mulai langka dan mahal. Marah disebabkan hal lain-lain. Monggo. Termasuk marah karena merasa sukunya dihina dina.”
***
Kadal bunglon juga marah-marah saat merasa sukunya dihina kadal umum. No problem. Marah itu sangat meditatif, kok. Toh berakhir damai. Apakah kedamaian itu terjalin lantaran kadal bunglon tak sekadar marah, melainkan menyadari bahwa dirinya marah-marah?
Duh! Pelajaran meditasi pasangan Sastro-Jendro belum sampai pada semester tentang apakah hewan juga punya kesadaran seperti 270-an juta non-hewan di Nusantara.
Waktu berangsur mengalir. Lama-lama Jendro punya firasat, pertikaian kadal bunglon-kadal umum berakhir guyub karena mereka dijauhkan dari kompor dan kipas. Tak ada yang mengompori maupun mengipas-ngipas konflik mereka. Beruntung selama ini Sastro-Jendro punya prinsip, binatang-binatang boleh tinggal di mana pun di rumahnya asal jangan di ruangan yang ada kompor dan kipasnya.
Setiap suku biasanya sudah memiliki adat atau tata cara sendiri buat menangani penghinaan terhadap sukunya. Biasanya dengan meminta maaf kepada kepala sukunya, lalu menyembelih hewan kurban untuk dibagi-bagi ke sesama. Kearifan lokal turun-temurun ini biasanya baru bubrah kalau sudah muncul kompor dan kipas yang, itu tadi, mengompor-ngompori pun mengipas-ngipas.
Suku kadal bunglon juga sudah punya tatanan itu.
***
Kompor maupun kipas tersebut bisa berupa orang politik yang punya ambisi-ambisi tertentu. Maka Sastro-Jendro tak pernah mau menerima bantuan kipas warna partai apa pun. Mereka juga tak pernah mau disumbang kompor yang mereknya mengandung huruf-huruf yang sedang digunakan untuk penamaan partai.
Misalnya aksara apa?
Yo embuh, Reeeek! (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
