
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Cinta tak kenal pengorbanan. Saat engkau merasa berkorban, saat itulah cintamu mulai pudar.
---
BETAPA jernih perawan tingting bakul kedai merawat pikiran itu sejak mengenal Pendekar Sastrajendra. Tingting Jahe, namakanlah demikian, tak merasa berkorban. Ia cuma merasa menyerahkan kehormatannya demi pembebasan Perawan Tingting Bakul Kedai, bocah ajaib umur 8 tahunan itu. Tingting bocah dibebaskan Tingting Jahe demi sesuatu yang lebih agung di Dukuh Dengkul Mlonyoh.
Di dukuh itu jagabaya dituduh membantai Rawa Rontek. Ini organisasi kemasyarakatan. Sebaliknya, Rawa Rontek dituduh sebagai biang keroknya. Merekalah yang duluan mengacung-acungkan senjata, mengancam jagabaya. Jagabaya mengklaim punya bukti bahwa Rawa Rontek memiliki senjata. Rawa Rontek mengaku sebaliknya, ”Kami tak bersenjata!”
Bagaimana mengatasi perkara ini?
”Ah, saya nggak mau komen. Mending bertani saja, nanem polo pendem,” ujar pasangan muda-mudi di ladang yang baru usai panen raya jagung.
Seorang pengantin baru menyahut, ”Duh. Sebaiknya kami tak usah ikut-ikutan komentar. Kami akan tuntaskan malam pertama kami sampai besok-besok.” Pasangannya menimpali, ”...Malam pertama yang abadi...”
”Oooo, soal enam laskar yang sudah abadi itu, Kisanak?” seorang ibu-ibu balik bertanya sambil mengeringkan rambutnya yang baru dikeramasnya di pancuran. ”Maaf, ya, Kisanak. Mending saya masak saja... Percuma komen, pasti ujung-ujung nanti penguasa juga yang benar...”
Tak lama setelah itu terendus aroma kuda Troya ditongseng dari dapur perempuan berdahi kinclong ini.
*
Berbeda dengan umumnya warga Dengkul Mlonyoh, dukuh yang dari Dusun Kake’anmu cuma sejarak lima bukit bambu dan satu ngarai talas ini, para tetua adat menuntut dibentuknya tim independen pencari fakta. Tim dibentuk sudah. Dipimpin oleh Keledai Parthai dari jauh, dusun pulau-putih. Hasil tim pimpinan keledai pelangi bersurai keemasan itu akan diumumkan Kamis Legi pekan depan.
”Tapi, pengumuman ini bersyarat,” gumam Parthai. Semua deg-degan. Mereka menunggu. Kira-kira syarat apa yang akan diajukan oleh guru jurus Berlian Your Eyes Pendekar Sastrajendra ini?
Warga kapok dengan syarat aneh-aneh seperti dulu pernah dilontarkan tokoh keturunan Pendekar Pasti Pas. ”Demi kemakmuran Dukuh Dengkul Mlonyoh,” lontarnya, ”Pemimpin yang dapat biting terbanyak (menang pilkada kalau di zamanmu) tidak boleh bergembira. Mereka harusnya bersedih. Dapat tambahan beban di pundaknya untuk memperbaiki nasib rakyat itu apes. Bergembira ketika menang jadi bekel berarti patut diduga dia akan mengeruk banyak laba dari jabatan bekelnya.”
Bagaimana kalau persyaratan dari Keledai Parhai juga tak masuk akal begitu?
”Tak boleh ada warga Dengkul Mlonyoh yang punya rasa benci!!!” akhirnya Parthai mengatakan syarat pengumuman.
Hah? Cara untuk mengetahui ada atau tidaknya kebencian warga?
*
Tingting bocah diikat pada serumpun bambu kuning. Setiap warga diminta oleh Keledai Parthai untuk memanahnya. Yang panahnya tepat menyasar ulu hati Tingting bocah, dialah warga pembenci. Warga kelas begini tak layak mendengar pengumuman hasil kerja tim independen. Apa pun hasil temuan itu pasti mereka sangkal atas nama kebencian.
Pura-pura meluputkan panah agar dinilai bukan pembenci sehingga diperbolehkan mendengarkan pengumuman Keledai Parthai? Percuma! Ribuan anak panah yang dionggokkan di bawah beringin tua samping kandang genderuwo telah dimantrai oleh guru Pendekar Sastrajendra itu. Anak-anak itu seperti hidup berkat mantra tersebut. Dipanahkan oleh pembenci ke mana pun, mereka akan tetap berkelok sendiri menyasar ulu hati Tingting bocah. Para tetua adat akan mengungsikan mereka ke Pulau Karantincuk.
Petani polo pendem, pengantin baru, dan ibu-ibu berkening kinclong penongseng kuda Troya lolos dari pengungsian. Mereka tak punya kebencian. Berkali-kali mereka ingin tepat memanah ulu hati Tingting bocah, berkali-kali pula panah melenceng jauh. Duh, mereka gagal diungsikan ke Pulau Karantincuk. Padahal ingin sekali mereka bertamasya ke pulau yang terkenal asri di antara semenanjung itu, pulau penuh kebun tulip, aneka jalak, dan kupu-kupu.
Tetiba muncul di ajang panahan, seorang lelaki tangguh. Konon ia masih keturunan Sang Pembentur Agung. ”Saudara-saudaraku!!!” pekiknya ke khalayak. ”Jangan kita lebih jauh dikecoh oleh Keledai Parthai. Sesungguhnya, justru mereka yang luput memanah jantung bocah bedebah inilah yang punya kebencian di hatinya. Parthai ingin pengumuman hasil investigasinya didengarkan oleh para pembenci agar terjadi pembangkangan sipil.”
Pertarungan terjadi. Parthai mengode Tingting bocah. Bocah ini langsung menahan serangan lelaki kukuh itu. Bocah yang tetap hidup walau jantungnya dihunjam ribuan anak panah warga ini tak butuh waktu lama. Penyerangnya langsung menjadi arca sebagai landmark dukuh.
Ck ck ck. Bocah ajaib itu pakai jurus apa?
”Jurus Sebar Virus dan Kasih Vaksin yang Belum Teruji,” jelas Tingting Jahe. ”Itu pernah kudengar dari Pendekar Sastrajendra. Mantra virus diembuskan ke mulut musuh saat menganga. Vaksinnya, berupa telapak tangan yang menyerupai daun tapak dara, dihantamkan ke pikiran musuh hingga membiru.”
O ya, Keledai Parthai menamai arca di gapura dukuh itu Patung Kebodohan. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
