alexametrics

Kasus Kekerasan Anak di Jawa Timur Naik Selama Pandemi Covid-19

Didominasi Kekerasan Seksual
21 November 2020, 16:48:56 WIB

JawaPos.com – Kasus kekerasan terhadap anak di Jawa Timur (Jatim) masih tinggi. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) mencatat, hingga Oktober, 204 kasus telah dilaporkan. Mayoritas adalah kekerasan seksual dengan pelaku orang dekat korban.

Sekretaris LPA Jatim Isa Ansori menyatakan, kekerasan terhadap anak di Jatim masih tinggi. Bahkan, laporan kasus kekerasan anak meningkat selama pandemi merebak. Itulah yang terlihat dari catatan bulanan LPA.

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada Februari, hanya ada lima laporan yang masuk dalam sebulan. Namun, memasuki Maret, sembilan orang melapor. Pada Mei, angkanya naik menjadi 19 kasus. Lantas, 24 laporan diterima pada Juni. ”Terus meningkat,” katanya.

Meningkatnya kasus kekerasan pada masa pandemi itu sejalan dengan tempat paling banyak terjadinya kekerasan. Yakni, di dalam rumah korban. Ada 65 kasus kekerasan yang terjadi di dalam rumah.

Untuk jenis kekerasan yang ditangani, kasus kekerasan seksual terhadap anak menduduki peringkat pertama. Posisi kedua ditempati kekerasan anak berkonsekuensi hukum. Misalnya, kekerasan fisik dan kriminal.

Isa mengungkapkan, pelaku kekerasan anak yang tercatat saat ini didominasi orang dekat. Kekerasan biasanya dilakukan orang tua, saudara, dan sepupu. Pelaku yang dikenal korban menjadi salah satu penyebab banyaknya kasus yang tidak dilaporkan.

”Sering ditemui bahwa pelaku tidak mendapatkan sanksi karena masih ada hubungan keluarga,” terangnya. Kondisi itu menjadi pemicu trauma pada anak korban kekerasan seksual.

Sementara itu, Surabaya merupakan wilayah dengan laporan kasus kekerasan anak terbanyak. Selama sepuluh bulan, tercatat ada 33 kasus kekerasan anak yang dilaporkan warga yang tinggal di Surabaya. Lalu, disusul Mojokerto dengan 16 kasus, Sidoarjo (10 kasus), dan Lumajang (8 kasus).

Terkait dengan masih tingginya kasus kekerasan anak, Isa menyarankan agar pemerintah dan masyarakat saling menjaga. Khususnya mengenai upaya pencegahan agar tidak ada kasus serupa yang terulang.

Di Surabaya, LPA Jatim juga telah mengusulkan seksi perlindungan anak tingkat rukun tangga (Sparta). Tujuan program tersebut adalah memantau kondisi anak di lingkup terkecil organisasi warga. ”Dengan adanya Sparta, lingkungan masyarakat terkecil bisa ikut mengawasi,” ujarnya.

Saat ini, menurut Isa, di Surabaya baru kampung Kebraon yang mempunyai instrumen Sparta. Banyak kampung di Surabaya yang belum memiliki program tersebut.

KNPA Sering Terima Curhatan soal Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring menjadi salah satu permasalahan yang menandai peringatan Hari Anak Sedunia yang jatuh kemarin (20/11). Hal tersebut diungkap Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KNPA) Surabaya Syaiful Bachri. ”Selama pandemi, kami sering sekali dapat curhatan dari orang tua. Yang terakhir baru tadi siang (kemarin, Red) ada seorang ibu yang curhat. Dia bilang, anaknya yang kelas 3 SD menyatakan bahwa dirinya capek belajar online, ingin bebas dan bermain,” ungkapnya.

Syaiful menyebutkan, hal tersebut bisa menjadi pertanda kejenuhan sekaligus keputusasaan memuncak yang dirasakan anak. Tantangan tersebut salah satunya bisa dinetralkan dengan kegiatan rekreatif. Tidak harus mengajak anak pergi ke tempat yang jauh. Namun, bisa lewat kegiatan sehari-hari yang sederhana, mudah, dan murah, tapi dapat berdampak positif bagi psikis anak. ”Ajak mereka untuk berkisah atau mendongeng yang bisa melibatkan anak dari dua sisi. Norma dan budi pekerti juga bisa dimasukkan ke dalamnya,” imbuh lelaki yang juga koordinator PAUD Institut Jawa Timur tersebut.

Selain itu, anak bisa diberi peran sekaligus tanggung jawab dalam aktivitas keseharian di rumah. Sebut saja mengajak mereka memasak maupun membersihkan rumah. ”Dengan terlibat dalam kesibukan harian, anak akan merasa keberadaannya dalam keluarga itu diakui,” jelasnya.

Problem lain pembelajaran dengan metode daring selama pandemi pun tidak bisa diacuhkan begitu saja. Yang paling kentara, belum semua orang tua memiliki kesanggupan dalam mendampingi anak-anaknya secara penuh. Padahal, imbuh dia, anak-anak sangat membutuhkan sentuhan dan pendampingan dalam proses pembelajaran jarak jauh.

”Saya sering melihat anak-anak main game online di warkop. Mereka nongkrong di sana berjam-jam,” ungkapnya. Menurut dia, kebiasaan tersebut perlu lebih dipantau. Sebab, secara tidak langsung, anak banyak melihat orang-orang dewasa yang merokok di warkop. Bahasa, ucapan, maupun perilaku yang dilihat pun bisa terekam dalam memori anak. Dan sangat mudah dipraktikkan, mengingat anak-anak adalah peniru sejati tanpa filter.

Syaiful menuturkan, tetap ada solusi alternatif yang bisa dilakukan. Sebut saja, dengan memberdayakan karang taruna maupun forum anak yang dimiliki RT/RW. Mereka bisa digerakkan untuk membantu melakukan pendampingan belajar pada anak-anak, terutama usia SD di sekitar kampung. 

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : elo/hay/c13/c14/ai



Close Ads