Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 Februari 2022 | 18.09 WIB

Meski Harga Kedelai Tinggi, Operasi Pasar Belum Bisa Dilakukan

Ilustrasi tempe. Dok. JawaPos - Image

Ilustrasi tempe. Dok. JawaPos

JawaPos.com–Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopdag) mengakui ada peningkatan harga kedelai di pasaran. Saat ini, Dinkopdag sedang berupaya menemui distributor kedelai impor.

Kepala Bidang (Kabid) Distribusi Perdagangan Dinkopdag Surabaya Devie Afrianto menegaskan, sudah menemui para distributor. Hal itu dilakukan karena perajin tahu-tempe mengeluhkan tingginya harga kedelai untuk dibuat menjadi berbagai bahan makanan.

”Kedelai itu kalau untuk konsumsi rumah tangga di pasaran itu kan ketersediaannya ada, cuma memang harganya naik. Yang jelas kami sudah ke distributor besar kedelai impor ini,” kata Devie ketika dihubungi pada Jumat (18/2).

Saat ini, harga 1 kilogram kedelai mencapai Rp 13.000/kg. Harga itu diakui Devie memang tinggi.

”Memang tinggi. Itu (kenaikan harga) tidak lepas dari suplai. Itu (kedelai) kan impor, itu harga sudah tinggi, kalau posisi di harga pasar sudah menyentuh angka Rp 13 ribu/kg,” jelas Devie Afrianto.

Devie menyebut, pihaknya memahami masalah para perajin. Sebab, kebutuhan mereka yang tinggi, Dinkopdag telah berkomunikasi ke para perajin.

”Kami sudah ke beberapa perajin. Kami tanya apakah pasokan sulit, jawabannya tidak, kami dapat itu dengan mudah,” jawabnya menirukan perajin tahu-tempe.

Yang menjadi masalah menurut dia, harga bahan kedelai masih dirasa tinggi. Para perajin saat ini mendapat kedelai dengan harga Rp 11.000/kg dari harga normal biasanya Rp 8.500/kg.

”Saat ini Dinkopdag akan memastikan pasokannya. Sebab tahun lalu, ketika pasokan sulit, kami lakukan operasi pasar ke sentra-sentra. Nanti kalau kondisinya terus buruk, kami akan gunakan skema itu,” papar Devie Afrianto.

Operasi pasar itu, lanjut Devie, akan dilakukan di tempat yang paling sulit untuk mendapatkan kedelai. ”Ini dilakukan di satu tempat yang tidak bisa mendapatkan barang tersebut, contoh minyak goreng ini nggak ada dan susah didapat. Itu baru kami lakukan operasi pasar,” ujar Devie Afrianto.

Dari pantauan tim JawaPos.com, produk tempe dan tahu kini sulit ditemukan. Di Pasar Induk Jagir Wonokromo, penjual tempe menjadi langka. Kalau pun ada harganya melambung tinggi. Satu balok tempe dijual dengan harga Rp 10.000. Sementara itu, untuk harga tahu yang biasanya di kisaran Rp 2.000, kini melambung hingga Rp 5.000.

”Dari yang jual (agen), memang mahal. Barangnya juga nggak banyak,” kata Aisah, penjual tempe.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore