
Ilustrasi memerangi virus Korona (Adnan Reza Maulana/Jawa Pos)
JawaPos.com – Di tengah usaha mencegah persebaran coronavirus disease (Covid-19) agar tak makin meluas di Jatim, ternyata masih banyak warga yang tak menyadari pentingnya sejumlah protokol yang tengah diberlakukan.
Salah satunya, proses tracing oleh Gugus Tugas Covid-19 Jatim. Proses tersebut sangat vital untuk memetakan sekaligus mengambil tindakan apabila ada warga yang terindikasi terjangkit virus itu.
Hanya, di lapangan pelaksanaannya ternyata mengalami kendala. Pemicu utamanya, masyarakat yang masuk daftar tracing menolak mengikuti tahapan tersebut.
Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Rumpun Tracing dr Kohar Hari Santoso mengatakan, tim sering kesulitan mendapatkan akses saat menemui warga. ’’Masih ada warga yang enggan diperiksa,’’ katanya.
Berdasar laporan tim, banyak alasan yang disampaikan warga. Salah satunya, mereka malu. Mereka kurang memahami pentingnya menjalani tes tersebut. ”Termasuk dampak negatif apabila menjadi orang yang berpotensi menularkan. Keluarga mereka bisa menjadi korban,” ujarnya.
Di sisi lain, kata Kohar, tim tracing tidak bisa memaksa mereka. Karena itu, yang bisa dilakukan adalah mengubah strategi. Biasanya, tim tracing melibatkan dinas kesehatan setempat untuk mendekati warga. ’’Yang penting, target untuk melaksanakan tes tercapai,’’ ungkapnya.
Dalam proses tracing, ada yang jadi target pemeriksaan. Antara lain, para pendatang, pekerja migran Indonesia (PMI), serta warga yang mengalami kelainan medis seperti sesak napas, batuk, dan demam tinggi.
Dalam proses tracing itu, terdapat beberapa tahapan yang dilakukan tim terhadap objek yang diperiksa. Mulai rapid test hingga penelusuran riwayat perjalanan dan interaksi. Hingga saat ini, pemprov sudah mendistribusikan 10 ribu unit alat rapid test ke seluruh wilayah di Jatim. Itu belum termasuk distribusi tambahan sebanyak 16 ribu alat.
Situasi tersebut juga mendapatkan atensi dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Dia mengimbau masyarakat untuk legawa. Pemeriksaan bukan aib. Warga yang diperiksa belum tentu sakit. Tim tracing hanya memastikan. ’’Hasil pemeriksaan itu jadi data tim gugus tugas,’’ ungkapnya.
Situasi serupa dialami sejumlah kepala daerah di Jatim. Banyak warga yang menolak. Namun, ada juga yang akhirnya sadar.
Misalnya, yang diungkapkan Bupati Sumenep A. Busyro Karim. Dia menyatakan, warga Sumenep sudah memiliki kesadaran. Pengamanan dan pengawasan dilaksanakan secara swadaya. ”Warga yang sakit dan pendatang secara otomatis diminta menjalani tes,” tuturnya.
Memang awalnya pemerintah bersama polisi dan TNI yang berpatroli keliling kampung. Perlahan, masyarakat mulai sadar. Kini petugas yang melakukan patroli tak intens seperti dulu. Hanya sesekali dan di titik-titik tertentu. Selebihnya, warga yang memiliki kesadaran untuk menjaga wilayahnya dari wabah Covid-19.
Persebaran Pasien PDP-ODP di Jatim
PDP

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
