Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Januari 2020 | 01.51 WIB

Lima Rumah di Moroseneng Masih Buka Prostitusi

PEKERJAAN SAMPINGAN: Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni (kanan) menginterogasi Sumarto, satu di antara lima makelar prostitusi di eks lokalisasi Moroseneng. (Edi Sudrajat/Jawa Pos) - Image

PEKERJAAN SAMPINGAN: Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni (kanan) menginterogasi Sumarto, satu di antara lima makelar prostitusi di eks lokalisasi Moroseneng. (Edi Sudrajat/Jawa Pos)

JawaPos.com - Bisnis esek-esek di eks lokalisasi Moroseneng masih menggeliat. Dini hari kemarin (9/1) polisi menggerebeknya. Hasilnya, petugas mengamankan belasan pekerja seks komersial (PSK). Mereka pun dibawa ke Mapolrestabes Surabaya.

Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni menjelaskan, penggerebekan itu berlangsung sekitar pukul 01.00. Unit yang dipimpinnya mendatangi sebuah gang yang diduga menjadi ajang tempat prostitusi. ”Ada beberapa rumah yang kami periksa,” ujarnya.Bisnis terlarang yang menjadi target penggerebekan kemudian ditemukan. Diketahui, ada lima bangunan yang difungsikan sebagai wisma Dari lima tempat itu, petugas mengamankan 13 perempuan berpakaian minim dan 3 pria hidung belang. Juga, lima laki-laki yang menjadi makelar bisnis esek-esek. ”Mereka inilah yang menawarkan para perempuan di wisma,” jelasnya.

Menurut dia, tarif praktik prostitusi di tempat tersebut berkisar Rp 200 ribu. Nah, para makelar yang diamankan mendapat upah Rp 25 ribu atas jasanya. ”Bisnisnya dijalankan secara diam-diam,” tutur polwan dengan tiga balok di pundak itu.

Ruth menerangkan, lima rumah yang digerebek terlihat seperti bangunan biasa. Bahkan cenderung tertutup. Bagian depannya hanya diberi lampu yang temaram. ”Tetapi, di dalamnya ada beberapa perempuan yang stand by menunggu pelanggan,” ungkapnya. Mereka tidak bisa berkutik ketika jajarannya mendadak mendatangi lokasi.

Dia menyatakan bahwa mayoritas perempuan yang diamankan berasal dari luar kota. Bahkan, ada yang berasal dari Jawa Tengah. Mereka sengaja datang ke Surabaya untuk mengais rezeki dari pria hidung belang. ”Miris sekali,” katanya.

Intan, salah seorang perempuan yang diamankan, mengaku baru tiga bulan menjadi PSK di sana. Dia berdalih butuh uang untuk mencukupi kebutuhan. ”Janda anak satu,” sebut perempuan 35 tahun itu. Dia mengaku bercerai sejak enam tahun lalu. Dari pernikahan tersebut, dia punya dua anak. ”Di kampung,” ujarnya.

Perempuan yang mengaku berasal dari Brebes, Jawa Tengah, itu mengatakan sebelumnya bekerja di pabrik pengolahan kayu. Namun, perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar tahun lalu. ”Ditawari teman ikut ke sini,” tuturnya. Dia kemudian nekat meski tahu konsekuensi yang dihadapi.

Intan menyebut tidak banyak pria yang dilayaninya dalam semalam. Maksimal tiga orang. Bahkan, pernah tidak ada sama sekali. ”Mau pulang juga tidak ada kerjaan,” tuturnya.

Sumarto, salah seorang makelar bisnis esek-esek di sana, mengatakan bahwa yang dilakoninya hanyalah pekerjaan sampingan. Pria kelahiran 1971 itu mengaku sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan. ”Lumayan, semalam bisa dapat Rp 200 ribu,” katanya.

Sugeng, makelar lainnya, juga berdalih ingin mendapat penghasilan tambahan. Dia mengaku aslinya jualan nasi goreng di eks lokalisasi itu. ”Nyambi carikan tamu,” ungkapnya

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore