Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Januari 2021 | 21.14 WIB

Soal Vaksinasi, Epidemiolog Unair Ingatkan Jangan Terburu-buru

AWASI KETAT: Anggota Brimob berjaga saat proses penurunan vaksin Covid-19 menuju cold storage di kantor Dinas Kesehatan Jawa Timur di Surabaya kemarin (4/1). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS) - Image

AWASI KETAT: Anggota Brimob berjaga saat proses penurunan vaksin Covid-19 menuju cold storage di kantor Dinas Kesehatan Jawa Timur di Surabaya kemarin (4/1). (ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

JawaPos.com - Sebanyak 77.760 dosis vaksin Sinovac sudah diterima Pemprov Jatim. Vaksin tersebut akan dibagikan ke kabupaten/kota, termasuk Kota Surabaya. Meski demikian, kegiatan vaksinasi sebaiknya tidak boleh terburu-buru.

Pemkot diminta menunggu timeline yang dikeluarkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Apalagi sejauh ini vaksin yang diproduksi perusahaan Tiongkok itu belum memiliki izin darurat penggunaan atau emergency use authorization (EUA) dari BPOM.

Pernyataan itu disampaikan ahli epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Dr Atoillah dr Mkes, Rabu (6/1).

”Jadi, penggunaan vaksin itu sebaiknya menunggu pengumuman dari BPOM,” imbuh Atoillah kepada Jawa Pos kemarin.

Disampaikan, vaksin Sinovac memang sudah melalui uji klinis fase pertama dan kedua. Proses itu ditangani tim riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung.

Uji klinis fase pertama menyangkut keamanan vaksin. Fase kedua terkait dengan efikasi. Yaitu, menguji seberapa ampuh vaksin tersebut membentuk antibodi pada pasien atau sampel.

”Nah, uji klinis fase pertama dan kedua ini dinilai sudah bagus. Sekarang tinggal menunggu hasil uji klinis fase ketiga. Sampai sekarang hasilnya belum keluar,” papar Atoillah.

Uji klinis fase ketiga itulah yang paling menentukan. Apakah vaksin Sinovac betul-betul aman dipakai secara masal untuk semua penduduk. Sebab, uji klinis fase ketiga sudah merepresentasikan publik secara luas. Tentu sampel yang diambil juga jauh besar daripada fase kedua. Dengan demikian, akan terlihat bagaimana kekebalan dan antibodi dalam komunitas setelah vaksin disuntikkan.

”Idealnya, memang vaksin baru layak disuntikkan secara masal jika semua tahap uji klinis tuntas. Mulai fase pertama, kedua, hingga ketiga. Dan ini BPOM yang nilai,” paparnya.

Baca Juga: Utang Rp 1,3 Miliar lewat WA, Uang Habis untuk Main Saham

Karena itulah, dia meminta Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim tidak terburu-buru melakukan vaksinasi. Juga tidak serta-merta mendistribusikan vaksin ke seluruh daerah di Jawa Timur. Kondisi itu dinilai rentan menimbulkan kerusakan pada vaksin. Sebab, vaksin tidak bisa disimpan di sembarang tempat. Harus disimpan di ruang tertentu dengan mengatur suhu ruangan.

Sesuai rencana, tim riset FK Unpad akan menyerahkan laporan uji klinis tahap ketiga ke BPOM pada 8 Januari atau Jumat besok. Nah, BPOM rencananya mengumumkan hasil kajian keamanan dan efikasi vaksin Sinovac pada 15 Januari.

Baru setelah itu, akan terjawab apakah vaksin Sinovac bisa digunakan atau tidak berdasar izin darurat penggunaan atau emergency use authorization (EUA) dari BPOM. ”Sehingga sebaiknya ikuti timeline BPOM saja,” tegasnya. 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=bYO098otqTY

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore