Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Oktober 2025 | 04.46 WIB

BNPB Minta Keluarga Korban Tak Gegabah: Jangan Ganggu Proses Evakuasi Korban Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

Keluarga korban runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny ingin masuk dan membantu proses evakuasi, namun dihadang aparat kepolisian dan Banser. (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Keluarga korban runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny ingin masuk dan membantu proses evakuasi, namun dihadang aparat kepolisian dan Banser. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto buka suara soal keluarga korban rubuhnya Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo yang ingin membantu proses evakuasi.

Banyak keluarga korban mengaku sudah gelisah menunggu kejelasan tentang nasib anak maupun mereka. Emosi mereka campur aduk seiring dengan ditemukannya satu per satu jenazah pada operasi hari keenam, Sabtu (4/10).

"Dalam setiap bencana kan ada saja pihak-pihak yang baru datang, dia melihat belakangan itu kok kurang banyak, kok kelihatannya gak bekerja, dia minta masuk," ujar Suharyanto di Sidoarjo, Sabtu (4/10).

Ia memahami kegelisahan yang dirasakan oleh keluarga korban. Namun, Suharyanto secara tegas melarang masyarakat untuk bertindak gegabah dan menyulitkan proses evakuasi yang dilakukan Tim SAR gabungan.

"Jangan kami disibukkan dengan hal-hal di luar pencarian, seperti tadi kurang percaya pada aparat, ingin mengambil sendiri, ini justru mengganggu proses pencarian yang sudah dilakukan semaksimal mungkin," imbuhnya.

Suharyanto menekankan bahwa prioritas utama tim SAR gabungan saat ini adalah melakukan pencarian dan penyelamatan korban, bukan melayani kegaduhan atau sikap tidak percaya dari pihak yang baru terlibat.

Sebelumnya, suasana tegang menyelimuti hari kelima operasi pencarian korban runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Jumat (3/10). Puluhan keluarga korban bersikeras untuk masuk ke area pondok.

Mereka ingin melihat proses evakuasi di dalam area Pondok Pesantren Al Khoziny secara langsung. Namun, keinginan mereka tidak disetujui oleh aparat polisi dan organisasi masyarakat Banser. 

"Mohon maaf dulu, Bapak, ini di dalam banyak alat berat, berbahaya kalau panjenengan (anda) masuk ke dalam (area evakuasi). Kami hanya mengamankan," ujar salah seorang polisi menenangkan keluarga korban.

Alih-alih mereda, suasana di sekitar gerbang Pondok Pesantren Al Khoziny justru semakin panas. Keluarga korban mengaku sudah frustrasi menunggu kabar anak maupun kerabatnya ditemukan.

"Kami sudah sangat sabar pak, sudah lima hari (pencarian), saya bukan relawan, bukan reporter, saya kakak dari korban!" ujar salah seorang keluarga korban yang mengenakan jaket hijau army.

Ia mengaku sudah frustrasi karena adiknya belum ditemukan hingga hari kelima. Keluarga korban sudah pasrah dan hanya ingin anak maupun kerabatnya ditemukan segera, baik dalam kondisi hidup maupun tidak. 

"Jangan memikirkan bahaya-bahaya, keluarga kami sudah ketimbun, udah hitam (Tidak ada tanda kehidupan) kok. Jadi ayok, kalau basarnas tidak bisa atau kurang maksimal, kami bantu dengan hati nurani," imbuhnya.

Kronologi Singkat 

Bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di area Pondok Pesantren Al Khoziny, tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB. 

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore