
Bordes Amblas Pasca Gempa Sumenep M 6,5: Santri Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Semakin Terhimpit Puing. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Gempa kekuatan M 6,5 di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Selasa malam (30/9), membuat santri korban tragedi runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, semakin terhimpit.
Kondisi tersebut diakui Kasubdit Pengerahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Frizer, menyulitkan personel SAR gabungan untuk mengevakuasi korban yang masih terjebak di balik reruntuhan.
"Sebelum kegempaan posisi Bordes kurang lebih sekitar 15 sentimeter dari surface atau dari lantai, dengan posisi korban (H) masih bisa menggerakkan kepala," ujar Emi di Posko Darurat, Rabu (1/10).
Setelah gempa di Sumenep M 6,5 terjadi yakni pada Selasa (30/9) sekitar pukul 23.49 WIB, posisi bordes turun sekitar 10 sentimeter. Porsi korban pun diduga semakin terhimpit dan tidak lagi merespons seperti sebelumnya.
"Pasca kegempaan semalam, posisi bordes turun signifikan, kurang lebih 10 - 12 sentimeter, sekarang kita bayangkan berapa diameter lingkar kepala untuk anak usia rata-rata remaja," imbuhnya.
Frizer mengatakan peralatan canggih telah disiagakan, termasuk alat berat. Namun posisi korban yang semakin terhimpit dan runtuhan bangunan, membuat alat berat belum diturunkan.
"Kami ingin memberikan gambaran bahwa complicated, kesulitan kami ini adalah bagaimana mempertahankan nyawa, tetapi akses yang digunakan memang membutuhkan waktu yang lebih lama," terang Frizer.
Tim SAR gabungan akan terus berusaha mencari cara agar korban segera terevakuasi, utamanya bagi korban yang masih memiliki tanda-tanda kehidupan.
Insiden tragis ini terjadi pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB. Bangunan empat lantai tersebut ambruk saat para santri Pondok Pesantren Al Khozini sedang melakukan Salah Ashar dua rakaat di lantai 1.
Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam puing-puing bangunan. Berdasarkan data sementara yang dikeluarkan Kantor Basarnas Surabaya, Selasa malam (30/9) sebanyak 100 orang santri menjadi korban tragedi ini.
Dari jumlah korban tersebut, 3 orang dilaporkan meninggal dunia. Mereka adalah Maulana Affan Ibrahimafic, 15 tahun, warga Surabaya; Mochammad Mashudul Haq, 14 tahun, warga Surabaya; dan Muhammad Soleh, 22 tahun, warga Bangka Belitung.
Hingga berita ini ditulis, Rabu (1/10) pukul 12.30 WIB, Tim SAR gabungan terus berjibaku untuk menyelamatkan korban. Alat berat sudah stanby sejak Senin (29/9), namun hingga kini belum digunakan karena struktur bangunan rapuh. (*)

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
