Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 September 2025 | 19.14 WIB

Momen Bersejarah di Surabaya, Teatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit Memukau Ribuan Penonton

Semangat Merdeka di Balik Perobekan Bendera Hotel Majapahit, Jalan Tunjungan, Surabaya, Minggu (21/9). (Novia Herawati/JawaPos.com) - Image

Semangat Merdeka di Balik Perobekan Bendera Hotel Majapahit, Jalan Tunjungan, Surabaya, Minggu (21/9). (Novia Herawati/JawaPos.com)

JawaPos.com - Pemandangan tak biasa terlihat di Jalan Tunjungan, Surabaya pagi ini, Minggu (21/9). Ribuan warga berjejer rapi di sepanjang jalan sekitar Hotel Majapahit (dulu bernama Hotel Yamato).

Mulai dari anak-anak, orang dewasa, lansia, hingga beberapa turis tampak hadir di sana. Mereka rupanya menunggu pertunjukkan Teatrikal Perobekan Bendera bertajuk “Surabaya Merah Putih”.

Hotel Majapahit, menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah di Kota Pahlawan pada 19 September 1945, tepat 80 tahun lalu, bagaimana arek-arek Suroboyo berjuang untuk mengibarkan sang saka Merah Putih di atap hotel.

Sekitar pukul 08.00 WIB, teatrikal dimulai dengan penampil yang mengayuh sepeda ontel. Ada juga yang berjalan kaki.Laki-laki mengenakan pakaian serba putih, dengan balutan sarung dan peci.

Sementara perempuan mengenakan kebaya kutu baru berwarna putih, yang dipadukan dengan rok jarik. Aksi mereka sukses menghadirkan suasana lawas khas Kota Surabaya.

Penonton siajak seolah hidup di era puluhan tahun silam. Suasana gayeng itu berubah menjadi mencekam, ketika pasukan Belanda tiba dan mengibarkan bendera Merah Putih di sisi utara Hotel Yamato

Pengibaran Bendera Belanda memantik amarah arek-arek Suroboyo. Mereka menganggap itu sebagai hinaan kedaulatan Indonesia. Terlebih pada 1 September 1945, Presiden Soekarno telah memerintahkan bendera Merah Putih.

Arek-arek Suroboyo menolak untuk hormat dan melakukan pemberontakan. "Indonesia sudah merdeka, menir, jangan lupakan itu, merdeka!" ucap Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang memerankan Residen Soedirman, Minggu (21/9).

Lahtas, arek-arek Suroboyo menurunkan bendera Belanda. Mereka bahu membahu memanjat sisi utara Hotel Yamato dengan tangga bambu. Dengan keringat bercucuran, empat pemuda berhasil mencapai atap hotel.

Perjuangan yang tidak mudah, cukup dramatis. "Suek gendero londo, suek, suek (sobek bendera Belanda, sobek, sobek), " sorak salah satu penonton dari bahu jalan. Disambut tepuk tangan yang begitu riuh.

Pemuda langsung merobek bagian biru bendera Belanda, menyisakan merah putih sebagai bendera Indonesia. "Merdeka! Merdeka! Merdeka!" seru arek-arek Suroboyo setelah merobek bendera Belanda dalam teatrikal.

Arek Suroboyo mengerek bendera dengan penuh semangat. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Seluruh aktor teatrikal, para veteran, hingga penonton yang hadir turut hormat bendera.

Di tengah-tengah adegan hormat bendera merah putih, pasukan Belanda tiba-tiba melepaskan tembakan. Dua Arek Suroboyo tertembak. Suasana teatrikal berubah menjadi haru. Lagu gugur bunga karya Idris Sardi dikumandangkan.

"Karena harga diri terlalu mahal ditukar, arek arek suroboyo tau, mati lebih baik daripada dijajah lagi. Kami bersumpah, merdeka akan selalu hidup di surabaya," pekik Wali Kota Eri Cahyadi. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore