
Aksi demontrasi di Gedung Negara Grahadi, Surabaya pada Sabtu (30/8). (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com - Sepekan terakhir, media sosial diramaikan dengan informasi demonstrasi dan kerusuhan di sejumlah daerah di Indonesia, memunculkan berbagai narasi yang menyebar cepat di dunia maya.
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Radius Setiyawan menilai kondisi ini memperlihatkan dinamika wacana yang kompleks di masyarakat digital.
“Berbagai analisis bermunculan di media sosial, mulai dari yang rasional hingga spekulatif dan cenderung konspiratif. Masing-masing memiliki dasar, argumen, dan pendukungnya sendiri,” tutur Radius di Surabaya, Selasa (2/9)
Dalam situasi riuh seperti sekarang, lanjut Radius, potensi hoaks sangat besar dan bisa memperkeruh situasi sosial-politik yang rentan. Karena itu, masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar.
Kendati demikian, Radius mengapresiasi daya kritis masyarakat digital. Ia menilai banyak publik yang mulai membedakan antara demonstrasi damai dan tindakan anarkis yang berujung penjarahan.
Bahkan tidak sedikit yang menguatkan analisisnya dengan data dan fakta yang relevan. “Ini menunjukkan peningkatan literasi media. Masyarakat makin cakap memilah informasi yang valid dan yang menyesatkan,” ucap Radius.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam banyak kasus, kerusuhan tidak terjadi secara spontan. Melainkan kecenderungan keterlibatan aktor-aktor tertentu yang secara sadar mengerahkan massa menuju tindakan destruktif.
"Mereka memahami cara memanipulasi emosi kerumunan, memicu amarah, hingga berujung pada aksi kekerasan seperti pembakaran dan penjarahan," sambung Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Digitalisasi UM Surabaya.
Selain prinsip-prinsip kehati-hatian, pemerintah memiliki peran krusial dalam menjaga ketenangan publik. Transparansi informasi dan kecepatan respons menjadi hal yang tak bisa ditawar.
"Namun harus dibarengi dengan kehati-hatian dalam menyampaikan kebijakan. Langkah yang tergesa tanpa mempertimbangkan kondisi psikologis masyarakat justru dapat memperburuk keadaan,” imbuhnya.
Pendekatan multidisipliner, baik dari sisi sosial, psikologi massa, maupun kajian media, sangat dibutuhkan untuk memahami akar persoalan secara lebih mendalam, serta untuk mencegah agar insiden serupa tidak terulang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
